
Semakin hari rumah tangga Reyhan dan Lyra kian romantis meski selalu dibumbui adegan perdebatan antara pasangan yang berbeda usia tersebut. Akan tetapi akan ada adegan romantis setelahnya.
"Besok aku akan berangkat," ujar Reyhan sambil meminum habis susu yang terletak di meja. Ya, Reyhan hingga kini masih meminum susu full cream selain itu ia hanya akan meminum air putih saja.
"Iya aku tahu itu kamu selalu mengulanginya, jangan mengingatkanku setiap hari," jawab Lyra.
Karena sebenarnya aku benci dengan perpisahan ini, andai aku punya kekuatan super, aku ingin menguncimu tetap di sisiku tapi bagaimana lagi, ini kewajibanmu sebagai satu-satunya anak papa Reygan dan mama Marta. Batin Lyra menahan kesedihannya.
"Apa kamu ingin keluar jalan-jalan? Aku akan menemanimu selama 24 jam." Mengelus kepala Lyra.
"Benarkah? Ada tempat yang sangat ingin aku kunjungi sebelumnya sih aku sudah pernah kesana tapi itu sudah lumayan lama, sekitar tiga tahun yang lalu." Memelotot senang.
"Baiklah, setelah sarapan kita akan langsung berangkat, ayo kita mandi dulu." Mengulurkan tangannya.
"Bareng, lagi?" tanya Lyra.
"Tentu saja, selama kita berada di tempat yang sama kita harus mandi bersama juga jadi penolakan tidak berlaku disini. Itu sudah ketetapan abadi," jawab Reyhan secara gamblang dan tentu saja Lyra hanya bisa diam menahan kekesalannya.
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
"Aw hati-hati Rey jangan sampai shampoo itu terkena mataku, aku belum siap buta," ujar Lyra yang menyenderkan tubuhnya di bak mandi sedangkan rambut panjangnya dioleskan shampoo.
"Iya-iya, kamu yang tenang dulu aku bisa melakukannya," jawab Reyhan sambil memijat kepala Lyra agar menyatu dengan shampoo.
Lagi-lagi kalimat itu "Aku bisa melakukannya". Akan tetapi kenyataannya tidak sesuai yang diharapkan Rey Rey kamu berusaha sesempurna itu tapi tetap saja di dunia ini tidak ada yang sempurna. Batin Lyra lalu memejamkan matanya takut terkena busa shampoo.
Reyhan berhenti memijit kepala Lyra, matanya teralih pada wajah Lyra yang polos dan apa adanya.
"Kok berhenti?" tanya Lyra sambil terus memejamkan matanya.
Reyhan tidak menjawab ia mematung membuat Lyra yang sudah menunggu lama membuka kedua matanya. Mereka saling bertatapan. Kedua tangan Reyhan yang masih berbusa membuat kedua sisi pegangannya menjadi licin. Alih-alih menahannya. Akan tetapi, karena sisi bath up yang memang licin ditambah busa di tangannya membuat kedua tangannya tergelincir begitu juga dengan wajah Reyhan. Wajahnya menabrak wajah Lyra yang tepat berada di bawah wajahnya. Bibir mereka menyatu. Bukannya segera bangkit Reyhan justru menikmatinya.
Lyra terdiam, matanya memelotot ia tidak protes karena pada akhirnya tetap saja ia akan kalah karena senjata Reyhan yang selalu mengungkit undang-undang pernikahan. Reyhan pun berhenti mengulum bibir Lyra, ia mengangkat wajahnya sendiri kembali ke posisi semula sedangkan Lyra masih memelotot.
"Kamu marah?" tanya Reyhan lalu kembali memijat kepala Lyra.
"Tidak," jawab Lyra singkat.
"Kenapa?" tanya Reyhan sedikit penasaran.
"Karena kamu suamiku," jawab Lyra sambil mengalihkan pandangannya.
"Bagus." Tersenyum licik karena sudah merasa menang.
Reyhan pun membilas rambut Lyra dengan lembut membuat Lyra yang tadinya sempat khawatir kalau kepalanya akan berujung pusing tetapi kenyataannya tidak, ia justru merasa dimanjakan oleh suami tercintanya itu.
"Sudah selesai, kamu lanjutkanlah mandinya aku akan masuk lagi setelah kamu selesai," ujar Reyhan lalu memakai handuk menutupi bagian bawah tubuhnya.
Saat akan beranjak pergi, Lyra justru menarik handuk Reyhan lalu membuangnya ke sembarang tempat.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan? Aku sedang berusaha melepaskanmu kali ini, aku juga sadar kian hari tubuhmu semakin kurus dan lemah maaf aku tidak bisa menahannya aku sangat berhasrat padamu."
"Tapi aku menyukainya, pernah enggak kamu dengar protes dariku. Enggak kan?"
"Iya, tapi hatimu sedang bergumam ingin menolaknya. Sekarang kamu lanjut saja aku keluar dulu." Berjalan keluar dari kamar mandi.
Aku tidak bisa menyangkal karena ya**ng dia katakan benar adanya. Tapi kalau aku diam saja disini bukankah dia semakin sakit hati. Aku mencintainya tapi kalau aku menyakitinya itu menunjukkan betapa jahatnya aku. Batin Lyra. Ia pun bangkit dan membersihkan tubuhnya dengan shower lalu memakai lotion. Ia juga menyisir rambut panjangnya yang sebahu. Tak lupa juga ia menyemprotkan parfume ke lehernya.
Lyra pun keluar dengan memakai piyama berwarna putih berbahan sutra. Di luar ia melihat Reyhan yang sedang duduk di tepian tempat tidur sambil memainkan ponselnya dengan penampilan yang terbilang cukup membuat Lyra tergiur, bertelanjang dada yang bidang serta wajahnya yang mulai terlihat macho karena seiring bertambahnya usia.
"Sudah selesai, pakailah baju dan tunggu aku di bawah kita sarapan bersama." Meletakkan ponselnya lalu bangkit dari duduknya. Reyhan pun melewati Lyra yang masih terdiam kaku lalu memasuki kamar mandi.
Kenapa kau justru diam. Lyra bukannya tadi kamu begitu sok beraninya ingin menggoda Reyhan tapi bisa-bisanya kamu diam. Dasar cewek lamban. Batin Lyra. Tiba-tiba suara gemercik air dari dalam kamar mandi samar-samar ia dengar.
Gluk
Lyra menelan salivanya tiba-tiba pikirannya yang semula sedikit jernih berubah menjadi mesum. Ia seperti melihat Reyhan mandi di depan matanya.
Ah bisa gila aku lama-lama. tahan Lyra jangan gegabah sebentar lagi. Ingat harga diri. Batin Lyra sambil menutup kedua telinganya. Akan tetapi kakinya justru melangkah cepat ke depan kamar mandi tanpa ia sadari.
Lyra membuka pintu kamar mandi dan berjalan masuk, ia melihat bayangan Reyhan dari kaca pemisah shower dan bak mandi. Ia membuka piyamanya lalu menggantungnya kemudian berjalan mendekati shower. Ia membuka pintu kaca tersebut dengan segera ia memeluk Reyhan dari belakang dengan tubuh mereka yang sama-sama polos.
"Maaf seharusnya aku tidak pernah mengumpat di dalam hati, tapi perlu kamu tahu aku menerima dengan ikhlas apapun yang kamu lakukan padaku. Jadi tolong percayalah padaku dan jangan memendam hasratmu karena aku akan menerimanya." Mempererat pelukannya.
Reyhan yang semula terkejut dengan pelukan Lyra pun berbalik, dengan memilih diam ia mengecup kening Lyra sebanyak tiga kali. Lalu memeluknya erat, tak lama kemudian Reyhan mengulum bibir Lyra di bawah guyuran shower. Dan mereka melakukan penyatuan (hubungan suami istri) tepat pukul 10.52 pagi menjelang siang.
Reyhan tak henti-hentinya memandangi Lyra yang duduk jauh di depannya begitu juga Lyra yang terus-terusan menyunggingkan senyuman salah tingkah karena dipandangi oleh suaminya itu.
Para bibi hanya bisa diam melihat adegan bak drama yang ditampilkan oleh majikan mereka itu. Masing-masing bergumam menebak apa yang terjadi dalam hati.
"Bibi, bisa tinggalkan kami sebentar," ujar Reyhan lembut.
"Ah iya Den, Nona lanjutkan sarapannya kami permisi dulu." Menganggukan kepalanya lalu berjalan mundur beberapa langkah, mereka pun keluar dari ruangan tersebut.
"Kenapa menyuruh bibi keluar?" tanya Lyra keheranan dengan tingkah Reyhan.
"Aku tidak ingin berdosa membuat mereka menonton kita," jawab Reyhan lalu mengunyah sarapannya.
"Memangnya kita kenapa?" tanya Lyra tidak mengerti.
"Para bibi sudah jauh lebih dewasa daripada kita, mereka akan selalu menebak apa yang terjadi dan apa yang kita lakukan. Aku tidak mau mereka berpikiran kotor karena itu hanya akan menambah dosa mereka saja." Reyhan menjelaskan.
"Wah kamu anak yang sangat baik sekali, hal sedetail itupun kamu perhatikan dengan rinci," puji Lyra sambil mengacungkan jempolnya.
Wajah Reyhan memerah begitu mendengar pujian dari istrinya itu. Lyra tertawa pelan menatap tingkah Reyhan yang menggemaskan.
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
"Katakan kemana saja kamu mau, pengawalmu ini akan mengantarmu." Memasangkan sabuk pengaman Lyra.
__ADS_1
"Benarkah? Hmmm baiklah aku ingin ke suatu tempat yang tadi pagi kita bicarakan," jawab Lyra sambil menyenderkan tubuhnya.
"Bagaimana aku bisa tahu tempatnya kalau kamu tidak menyebutkan nama lokasi tersebut." Mengerutkan dahinya.
"Iya, aku lupa hahaha maafkan aku." Tertawa malu pada Reyhan.
"Itu sebuah yayasan panti asuhan yang bernama Cinta dan Kasih yang terletak di sebelah utara, tapi sebelum itu kita ke pusat perbelanjaan dulu pasar dekat sini saja, aku ingin membawakan mereka beberapa pakaian atau mainan boleh juga," tambah Lyra.
"Baiklah, aku akan membawamu kesana," jawab Reyhan sambil menghidupkan mobilnya lalu menyetir dengan kecepatan sedang.
Lyra tersenyum melihat Reyhan yang antusias menuruti kemauannya.
"Apa penghuni panti asuhan tersebut banyak?" tanya Reyhan.
"Ya, lumayan juga, sekitar 3oo anak yang usianya berbeda-beda ada yang sekitar 5 tahunan bahkan remaja pun ada," jawab Lyra.
"Apa dari mereka ada yang sekolah?"
"Aku tidak tahu, tapi sepertinya ada."
"Baiklah ayo kita turun, kita sudah sampai." Melepaskan sabuk pengaman Lyra.
"Lho kok kita ke mall, pakaian dan mainan disini mahal banget Rey." Memelotot kaget.
"Apa menurutmu mereka tidak pantas memakainya?"
"Bukan begitu, tapi jumlah mereka banya jadi alangkah bagusnya kita beli di pasar murah saja karena sudah pasti dapat banyak barang, aku ingin memberikan lima pakaian per orang Rey," jawab Lyra.
"Seratus per orang pun aku sanggup, sekarang ayo turun, kita carikan keperluan mereka," ujar Reyhan kemudian turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Lyra.
Dengan wajah yang pasrah, Lyra pun keluar dan meraih tangan Reyhan. Merekapun bergandengan berjalan masuk ke dalam mall.
"Kita kemana dulu ya?" tanya Lyra bingung, karena sebagai orang biasa ia hanya akan mengincar toko yang harganya murah tapi melihat mall yang mewah membuatnya tak berkutik katena tidak akan ada barang murah sesuai keinginan hatinya.
Reyhan menarik tangan Lyra membuat kebingungannya hilang seketika. Orang-orang yang berada disana mengagumi sosok Reyhan yang selalu menjadi pusat perhatian.
"Ganteng banget, itu selebriti ya?" tanya salah satu pengunjung.
"Sepertinya bukan, karena aku tidak pernah melihatnya di siaran televisi mana pun," jawab seorang pengunjung lainnya.
"Rey, berhenti sebentar," bisik Lyra.
"Ada apa?" tanya Reyhan.
"Orang-orang melihatmu, kamu sadar enggak?"
"Aku tidak pedulikan itu, ada kamu di dekatku jauh lebih berharga," jawab Reyhan kembali memegang tangan Lyra.
Sampailah mereka ke toko pakaian mewah yang dimaksud Reyhan. Lyra memelotot kaget karena sebelumnya ia dan Siska pernah memasuki toko tersebut akan tetapi melihat harganya yang mahal membuat mereka mual.
__ADS_1