
Rania segera memutus kontak pandangannya dari Erick. Gadis itu menarik selimutnya. Dingin sekaligus menyesakkan itulah yang dirasakannya.
"Permisi, maaf Nona Rania sudah waktunya untuk makan siang." Seorang perawat sembari membawa nampan berisikan bubur masuk lalu meletakkannya di atas meja. "Saya, permisi dulu." Tersenyum, lalu beranjak pergi.
Erick segera mengambil bubur tersebut, berniat menyuapkan makanan tersebut. Tetapi, melihat Rania yang tidak bergeming, sepertinya gadis itu masih kesal.
Erick menyodorkan suapan pertamanya, "makanlah, lebih cepat sembuh bukankah lebih baik."
Masih tidak ada pergerakan dari Rania, gadis itu terlihat uring-uringan.
"Makan atau kucium," ujar Erick mengancam.
"Coba saja aku tidak takut," jawab Rania menantang.
Erick tertawa, "jangan salahkan aku loh, kalau aku benaran menciummu. Tante Marta nggak akan datang kemari dan saat ini para perawat dan dokter sedang beristirahat. Kamu yakin nih."
Perkataan Erick sungguh membuat Rania bergidik. Ia berbalik, duduk dan menatap Erick tetapi tetap saja ia masih kesal malah semakin kesal.
__ADS_1
"Anak pintar." Erick mengusap rambut Rania, ketika gadis itu menelan bubur yang ia suap.
15 menit berlalu, Rania telah menghabiskan buburnya. Tanpa suara, kecuali dentingan sendok yang beradu dengan mangkuk keramik.
"Ah, lelahnya...." Erick meregangkan otot-ototnya lalu berbaring di atas kursi panjang.
Rania menatapnya dengan pandangan kasihan, seketika ia menggeleng-gelengkan kepala.
Tidak perlu kasihan! Untuk apa? Toh, dia juga nggak peduli padaku.
Rania merasa pusing, ia pun menutup mata karena mengantuk. Kedua insan itu pun tenggelam dalam mimpi mereka masing-masing.
...****************...
Nenek Rania tertawa riang melihat pantulan wajahnya di cermin.
"Dari kemarin, enggak lihat Rania. Kuliahnya sibuk banget ya, Marta?"
__ADS_1
Marta berdehem, "iya, Bu... Kan mau semesteran ya sibuk to," jawabnya.
Marta sengaja berbohong, ia takut penyakit nenek Rania kambuh, penyakit jantung. Wanita paruh baya itu masih ingin merasakan kasih sayang seorang ibu yang sudah lama tak dirasakannya.
Nenek Rania menyentuh tangan Marta yang masih aktif mengepang rambutnya. "Marta, terima kasih yo, sudah menerima ibu dan Rania jadi keluarga kamu. Awalnya, Ibu enggak percaya ada orang sebaik kamu. Syukurlah, doa-doa ibu terkabul."
Marta tersenyum, "Bu, seharusnya saya yang berterimakasih sama Ibu. Karena, sudah mau menerima permintaan saya meminta Rania dan Ibu jadi bagian keluarga saya."
"Saya, terkadang sangat sedih membiarkan Reyhan dalam kesendirian. Saya yang hanya disibukkan oleh bisnis membuat Reyhan merasa diabaikan dan menganggap saya sudah tidak ada. Meskipun semua sudah menjadi masa lalu, tetap saja, rasanya sangat menyakitkan. Tetapi, melihat Reyhan yang sekarang sudah bahagia justru saya kebalikannya merasa kesepian mungkin itu yang Reyhan rasakan. Sampai ketika aku bertemu Rania, si ceria yang punya kehidupan kelam. Ada magnet yang menarik kami berdua." Kenang Marta. Tak sadar, bulir air mata keluar membasahi pipinya.
"Eh, jangan nangis to Ndok! Semua kan sudah berakhir. Kita sudah bahagia." Mengusap tangan Marta yang memegangi pundak yang sudah renta tersebut.
"Ahahaha... Maaf Bu, jadi cengeng begini."Marta menyeka air matanya.
...****************...
Erick terbangun ketika merasakan getaran yang berasal dari ponselnya. Begitu melihat kontak yang tertera, ia begitu malas jadi memilih menolak panggilan tersebut.
__ADS_1
Ia pun bangkit dan melangkah mendekati Rania, "tidur yang nyenyak ya. Maaf, tidak bisa menemanimu aku ada urusan. Besok kita berjumpa lagi."