
Erick tengah duduk di sebuah ruangan yang isi ruangannya dipenuhi nuansa Eropa nan mewah. Tak jauh di hadapannya, sebuah poto terpajang dengan raut wajah yang menunjukkan kekuasaannya. Ya, itu Chris Rojali, Papa kandung Erick.
Sedari dulu, hubungan keduanya tidak cukup baik. Lebih tepatnya, setelah Erick mulai duduk di sekolah menengah pertama, Chris tiba-tiba berubah dalam memperlakukan Erick. Erick tahu, maksud Chris yang menekannya untuk belajar dan terus belajar karena perusahaan sang papa membutuhkan penerus yang mendekati kesempurnaan. Tetapi, bagi Erick semua yang diinginkan Chris tidak terdapat dalam dirinya melainkan sahabatnya, Reyhan.
Ya, Chris selalu membandingkan kedua sahabat itu. Ia seolah terobsesi pada Reyhan yang sangat cocok mendekati targetnya. Sayangnya, Reyhan tidak ditakdirkan menjadi putranya, melainkan Erick yang bertolak belakang dari keinginannya.
Sama seperti Reyhan dan Erick. Kedua orang tua mereka telah bersahabat terlebih dahulu.
"Kau ingat juga, datang ke tempat ini?" Suara berat seorang pria serta derap langkah kaki yang semakin mendekat membuat Erick menghela napas, malas.
Ya, dia Chris yang tengah berdiri di sisi kiri sofa yang diduduki Erick itu adalah sang papa. "Katakan kali ini, apa tujuanmu?" tanyanya sembari memperhatikan jam di pergelangan tangannya.
Erick melirik sinis, "sebenarnya aku juga malas kemari. Tetapi, kali ini aku memang perlu bantuanmu," jawabnya dingin.
Chris berdecih, "apa kartu kreditmu limit, atau black card mu hilang?"
Erick mengepalkan tangannya.
Tahan, Erick tahan... Bagaimana pun dia satu-satunya keluargamu...
"Lamar Rania untukku," ujar Erick singkat.
Chris menoleh, raut wajahnya tengah berpikir keras. Rania? Putri angkat Marta? Bagaimana bisa?
"Lamar Rania untukku, bukankah menjadi pemimpin perusahaan itu harus berstatus menikah? Jadi, lamar Rania aku akan masuk ke perusahaan," jelas Erick.
Chris tak bisa berkata-kata, berbagai pertanyaan muncul di kepalanya. Satu pertanyaan belum terjawab belum lagi pertanyaan lainnya.
"Baiklah, aku cuma mau minta itu saja. Bulan depan, ah tidak... Itu terlalu lama, minggu depan aku tunggu di rumah tante Marta datanglah dengan sederhana." Erick bangkit lalu melangkah melewati sang papa.
Ruangan kembali kosong, hanya Chris yang masih berpikir keras dengan sikap putranya.
Maksudnya, Rania yang sederhana itu kan? Bagaimana bisa, bagaimana bisa dalam hal ini dia justru mirip denganku?
Erick mencengkeram kemudi mobil, "ah rasanya lega...Hampir saja, lidahku keseleo mengatakan yang tidak penting." Mengambil botol berisi air mineral lalu meminumnya. "Sekarang tinggal iblis yang terkuat, Reyhan...."Meneguk kembali mineral tersebut hingga tandas.
__ADS_1
"Eh, tunggu dulu... Dia kan manusia biasa juga yang punya kelemahan. Dan kelemahannya adalah... Kak Lyra. Yes! Memang benar setelah minum mineral, ide brilliant akan muncul dengan sendirinya. Tapi, bukankah ide ini terlalu cepat? Atau memang dasarnya aku yang terlalu pintar?"
Erick segera mengambil ponselnya lalu mengotak-atik mencari kontak Lyra.
"Halo," jawab Lyra di seberang sana.
Erick berdehem mengatur suara, "hai, Kak Lyra bagaimana kabarnya?" tanya Erick selembut mungkin.
"Eh, ini Erick ya....Hahaha maaf aku nggak punya kontakmu. Kukira aku menang undian, soalnya akhir-akhir ini aku baru mengirim nomor seri sabun colek lewat kantor pos. Kukira telepon ini dari mereka, aku terlalu semangat karena mengira aku memenangkan undian itu!" seru Lyra.
Ya ampun, bisa-bisanya ada kejadian seperti ini... Tetapi, kenapa rasanya sedikit memilukan ya?
"Rick, Erick kamu masih di sana?" Suara Lyra mengedarkan lamunan Erick.
"Ah, iya Kak... Begini, apa Reyhan ada di dekat Kakak?" tanya Erick ragu-ragu.
"Nggak, dia belum pulang kerja. Kenapa Rick? Telepon saja ke ponselnya? Biasanya jam segini, dia sudah senggang."
Meneleponnya? Mendengar kalimat begini saja sudah membuatku merinding.
"Minta tolong? Apa ya? Apa kamu kehabisan uang atau kehilangan uang atau.... "
Memangnya aku segila itu ya sama uang? Sampai-sampai kalian berpikiran semua yang aku keluhan berhubungan dengan uang?
"Be-begini Kak, aku mau menikah dan-"
"Wah? Serius nih, sama siapa? Dan, lokal atau orang sana?"
Bisa nggak sih, jangan memotong perkataanku? Aku takut si iblis Reyhan keburu pulang...
"Dengan Rania Kak," jawab Erick cepat.
Tak ada jawaban dari Lyra, wanita itu terdiam seribu bahasa.
"Ha-halo Kak? Kakak dengar nggak?"
__ADS_1
"Rania, KATAMU...."
Erick terperanjat kaget, suara melengking Lyra, sungguh memekakan telinga.
"Kok bisa? Tunggu dulu, Rania yang itu kan?" tanya Lyra memastikan.
Erick memijat dahinya, depresi menghadapi Lyra.
Sebenarnya aku juga sempat menyukai Kak Lyra. Soalnya dia manis dan sepertinya dia juga lembut. Tapi, aku salah dia lumayan cerewet juga. Tidak kusangka tipe ideal Reyhan cukup ekstrem ternyata.
Singkat cerita, Erick pun menjelaskan semua yang terjadi antara dirinya dan Rania.
"Gimana Kak, bantuin aku dong, please..." Erick memohon dengan tulus.
Lyra lagi-lagi tak bereaksi mungkin dia tengah menimang-nimang.
"Kak, Kak Lyra masih di situ...." panggil Erick, memastikan jaringan seluler masih tersambung.
"Sayang."
Deg!
Jantung Erick serasa terhenti, setelah ia mendengar suara yang sangat ia kenal itu. Rasa cemas dan sedikit takut hingga lelaki itu sedikit merinding.
"Ah tidak aku sedang duduk-duduk saja." Terdengar suara Lyra.
Tik! Panggilan telepon terputus.
Ting! Satu pesan mendarat.
Baiklah, aku akan membicarakannya dengan Reyhan. Nanti kukabari, ya. Biar gimana pun, selamat ya!
Erick mendesah panjang. "Meskipun dia cerewet tapi dia benar-benar baik."
Bersambung...
__ADS_1
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA DITUNGGU HUJATANNYA YA... SEE U, LOVE!