MY BERONDONG

MY BERONDONG
SEASON 2


__ADS_3

"Reyhan, boleh Mama ikut ke rumah paman Lyra, sekalian Mama mau kenalan sama besan." Mengejar pelan ke arah Reyhan.


Reyhan hanya mengangguk pelan sorot matanya tampak sedikit datar, ia berjalan menuju mobil yang sedari tadi sudah menunggunya.


"Pagi Den, eh Nyonya ikut juga toh," sapa pak Mat sambil tersenyum.


Marta hanya melambungkan senyumannya membalas sapaan dari pak Mat. Dan dikarenakan kondisi yang masih canggung Reyhan memilih untuk duduk di depan bersama pak Mat sedangkan Marta duduk sendirian di belakang.


Reyhan menyandarkan tubuhnya seketika ia teringat pada percakapannya dengan Redro tadi malam.


FLASH BACK...


"Permisi Den, ini salinan catatan kesehatan nyonya Marta," ujar Redro sambil memberikan berkas yang berisi tentang catatan medis.


Reyhan memperhatikan detail kalimat yang tertera pada setiap lembaran kertas tersebut. Matanya yang tadinya terlihat datar mulai memelotot.


"Tanggal 29 agustus bukankah waktu itu aku kecelakaan sewaktu SMP?" Terus membolak-balikkan berkas tersebut.


"Saat itu nyonya datang menjenguk Aden, tapi semua orang disuruh bungkam," jawab Redro.


"Benarkah? Tapi apa tujuannya?" Memelotot bingung.


"Maaf Den, untuk masalah itu saya tidak tahu. Apa perlu saya menyelidikinya?"


"Tidak perlu! Begini saja sudah cukup. Pekerjaanmu untuk hari ini sudah cukup membuatku puas." Meletakkan susunan berkas di atas meja.


"Kemarin Jose Adrew sempat berkata kalau sebenarnya nyonya sering mendapatkan perawatan di Indonesia. Ia berjaga-jaga sewaktu-waktu Aden mencelakai diri sendiri, jadi setiap Aden masuk rumah sakit sebenarnya nyonya selalu datang menjenguk Aden." Mencoba meyakinkan.


Reyhan terlihat termenung, ia memaksa otaknya untuk menebak apa tujuan Marta yang dulu memilih menjenguknya secara tersembunyi.


"Maaf Den kalau tidak ada lagi, saya mau pamit," ujar Redro.


"Hmmm, pergilah," jawab Reyhan singkat.


Redro berbalik dan mulai berjalan keluar.


"Tunggu sebentar, aku beri kau cuti selama 3 hari. Lakukan semua yang kau suka dan bersenang-senanglah." Berdiri sambil tersenyum.


"Cuti? 3 hari apa yang akan saya lakukan Den?" Memelotot bingung.


"Apa perlu aku yang memutuskan kehidupan pribadimu." Menatap tajam.


"Baik Den saya mengerti." Menunduk hormat.


"Ayolah Redro hidup itu harus dinikmati. Ingatlah kapanpun jika Tuhan berkehendak napas segar yang saat ini kau hirup akan mudah hilang begitu saja." Menepuk pundak Redro.


Redro mengangguk pertanda mengerti.


"Aku sarankan kau pergilah berkencan. Lihatlah aku yang sebentar lagi akan menikah apa kau tidak merasa malu." Tersenyum tipis.


"Berkencan." Memasang wajah bingung dengan argumen Reyhan yang menyuruhnya berkencan.


"Tapi saya tidak punya pacar atau gebetan lainnya Den. Dan lagipula saya tidak punya waktu untuk mengurusi hal seperti itu." Memasang wajah serius.


"Intinya, aku tidak ingin salah satu dari temanku ada yang bujang lapuk, 3 hari cukup untuk berkencan. Apa perlu aku turun tangan untuk mencarikanmu seorang wanita?" Menggoda Redro.


"Sepertinya itu tidak perlu," jawab Redro.


"Baiklah, ingat untuk berkencan tapi kalau kau tidak punya kandidat pasangan wanita. Aku akan mengatur kencan buta untukmu." Kembali ke tempat duduknya semula.


Untuk kesekian kalinya Redro menganggukkan kepalanya, mengiyakan setiap perkataan Reyhan yang selalu benar itu. Meski hatinya terkadang menentangnya.

__ADS_1


"Pergilah, ingat dalam 3 hari lakukan semua yang kamu suka." Menatap serius.


Redro pun beranjak keluar. Tinggallah Reyhan dengan setumpuk kertas yang membuat pikirannya semakin terganggu.


FLASH OFF


"Maaf Den, kita sudah sampai," ujar pak Mat membuyarkan lamunan Reyhan.


Reyhan menatap ke sekelilinganya memastikan perkataan pak Mat. Ia pun turun dari mobil, tiba-tiba dicegat oleh Marta yang berdiri di depan pintu.


"Maaf Nak. Mama ketinggalan sesuatu di rumah, tapi mama sudah menyuruh pak Sadiq membawanya kemari, kamu masuklah dulu nanti Mama menyusul," ujar Marta lembut.


Reyhan tidak menjawab ia menganggukkan kepalanya, lalu berjalan menuju rumah keluarga paman Lyra.


"Assalamu Alaikum." Reyhan mengucapkan salam.


"Waalaikumussalam," paman, tante dan Vanes secara serempak.


"Nak Reyhan sudah datang rupanya, gimana tadi di jalan macet nggak?" tanya paman.


"Biasalah Paman Jakarta," jawab Reyhan sambil tersenyum.


"Kalau nggak salah tadi Lyra bilang ibu Nak Reyhan ikut, tapi kok nggak kelihatan." Mencari sosok Marta.


"Ah, nanti katanya nyusul, biasa cewek agak ribet." Tersenyum malu.


"Oh iya hahaha cewek memang ribet kita yang laki-laki memang harus sabar menghadapi mereka," canda paman.


"Ayah mah gitu pasti mau nyindir mama kan?" Vanes mengerutkan dahi mendengar yang dikatakan orang tuanya.


"Hush, kamu itu masih kecil mana tahu apa-apa." Menegur Vanes.


"Iya nih anak Ayah, bukannya bantuin Lyra, lho Lyra masih di belakang ya kenapa nggak kamu bantuh atuh." Menatap marah pada Vanes.


"Pakai ketawa, sana suruh kakakmu kemari dan jangan lupa buatin minum, anak 1 ini ribetnya minta ampun." Menatap kesal.


"Iya-iya." Mulai bangkit dari duduknya.


"Nggak perlu Tante, ini minumannya sudah selesai kok lagipula Reyhan itu susah ditebak maunya apa, jadi minumannya pun berbeda dengan kita dia nggak terlalu suka yang manis-manis." Menyuguhkan minuman pada Reyhan.


"Diminum Kak, ini buatan kak Lyra lho, mantap banget," ujar Vanes.


Dengan cepat Reyhan pun mengambil minuman tersebut lalu meneguknya hingga habis.


"Bagaimana? Enakkan," ujar paman.


Reyhan mengangguk sambil tersenyum, ia melihat Lyra yang sudah seminggu tidak ia temui itu.


Dia kenapa terlihat semakin cantik, aku jadi tidak sabar menyuntingnya dan.... Dan apa lagi ya. Batin Reyhan.


"Assalamu alaikum," sapa pak Mat lalu masuk dan menyalami keluarga Lyra.


"Waalaikumussalam," jawab mereka serentak.


"Assalamu...." Memelotot terkejut.


"Eh Anda?" Tak kalah terkejutnya.


"Paman sudah kenal ibu saya?" tanya Reyhan dengan wajah terheran-heran.


"Tentu saja, saya sangat mengenalinya dengan jelas, dia adalah Marta Arnelita istri pengusaha Grup Almirza dan kamu putra mereka." Menatap tajam pada Reyhan.

__ADS_1


"Sebenarnya ada apa ini?" tanya tante bingung.


"Dia! Wanita ini yang dengan kejamnya menyuap polisi untuk menutup kasus kecelakaan tersebut. Lyra!Reyhan lah yang menyebabkan kecelakaan tersebut, dua nyawa melayang sekaligus!" teriak paman.


"Apa?" Reyhan, Lyra, tante dan Vanes memelotot terkejut.


::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


Erick menatap bingung pada diamnya Reyhan. Tatapan Reyhan kosong. Ia dibuat dilema dengan situasi yang ia alami saat ini.


"Kenapa sih lu dari tadi diam terus. Bicara kali, cemberut mulu ntar wajah ganteng lu luntur dan kak Lyra kabur baru tahu rasa lu," ledek Erick.


Reyhan tidak menanggapi celoteh receh Erick tersebut. Pikirannya kacau balau terbayang-bayang dengan suasana di rumah paman Lyra yang tadinya hangat berubah panas setelah Marta masuk.


"Muka lu pucat Rey, lu sakit ya." Memegang pundak Reyhan.


Reyhan menggelengkan kepalanya.


"Diamin gua terus Rey. Apa gunanya gua jadi teman lu Rey lu punya masalah tapi nggak cerita. Apa gua memang nggak berarti buat lu?" Mulai marah.


Reyhan tetap terdiam, matanya terus menatap dinding dengan pikiran yang kosong.


"Ok gua pulang saja. Begitu terus Rey, gitu aja terus." Mulai berjalan keluar.


"Aku ditolak keluarga Lyra." Kalimat singkat pun keluar dari mulut Reyhan.


"Apa?" Berjalan balik ke arah Reyhan.


"Lyra itu Rara." Menatap Erick sendu.


"Apa?" Masih tidak mengerti maksud Reyhan.


"Rara itu pemilik suara yang selalu muncul di mimpiku yang orang tuanya...."


"Stop! Tunggu sebentar Lyra itu Rara. Rara yang lu cari-cari selama ini yang...."


Reyhan menganggukkan kepalanya, Erick memelot tidak percaya.


"Gua yakin dia beneran jodoh lu Rey, dia-


"Jodoh apaan? Aku ditolak mentah-mentah sama keluarga pamannya dan Lyra dia tidak bicara apapun selain langsung masuk ke dalam kamarnya. Hanya itu reaksinya saat ia tahu wajah yang menyebabkan kedua orang tuanya meninggal." Menyandarkan tubuhnya yang lesu.


"Iya tapi-"


"Aku lelah Rick, bisa tinggalkan aku sendiri." Memijit pelan kepalanya.


"Gua teman lu, susah senangnya lu, gua wajib ada. Rey lu nggak boleh pesimis gini dong. Ingat! Jalan cinta kalian itu panjang ibarat samudera Hindia, cinta kalian udah dalam banget Rey. Mulai dari awal kalian ketemu itu udah seperti drama di dunia nyata Rey," ujar Erick.


"Tapi Lyra tidak mau menerimaku lagi Rick. Waktu itu, dia benar-benar terlihat shock mungkin kalau aku diposisinya pasti akan melakukan hal yang sama." Mencoba pasrah.


"Nggak Rey, ingat karakter asli lu. Tidak ada kata lemah Rey sekarang juga lu siap-siap gua temani lu kesana." Menarik tangan Reyhan.


Reyhan tidak memberikan reaksi apa-apa, ia terus menatap ke arah dinding dengan pikiran kosong.


"Oke! Lu begitu aja terus dasar kekanak-kanakan." Erick pun beranjak keluar.


Maaf Rick, aku hanya tidak mau menyiksa batin Lyra jika ia terus menatap wajah penyebab orang tuanya meninggal, itu sangat menyakitkan. Batin Reyhan dengan sebulir air mata membasahi pipinya.


BERSAMBUNG....


Terima Kasih Sudah Mampir jangan lupa like n hujatannya ya luv you Readers*.

__ADS_1



__ADS_2