MY BERONDONG

MY BERONDONG
KENCAN SEPERTI PASANGAN BIASA 2......


__ADS_3

Reyhan menoleh ke arah kanannya tampak Lyra yang bengong memandangi dirinya. Reyhan berjalan pelan menghapiri Lyra yang masih belum sadar.


"Berapa lama lagi kamu akan berdiri di sini?" tanya Reyhan sambil mencubit hidung Lyra.


"Ah, kita beli tiket dulu yuk." Berjalan cepat menghindari kontak mata dengan Reyhan.


Reyhan mengikuti Lyra sesekali ia mencoba meraih tangannya namun gagal, Lyra selalu bergerak cepat.


"Selamat malam Kakak, mau nonton apa?" tanya resepsionis bioskop ramah.


Lyra membisu karena sebelumnya ia dan Reyhan belum menentukan film apa yang akan mereka tonton.


"Hai Kak, antrian sangat panjang mau pesan tiket nonton apa?" Menatap bingung pada Lyra.


Reyhan pun maju tepat berada di depan Lyra. Para resepsionis serempak terhipnotis dengan fisik Reyhan yang terbilang hampir sempurna.


"Mas nya mau nonton apa?" tanya resepsionis ramah.


Seolah mengikuti ekspresi Lyra Reyhan pun membisu, sang resepsionis pun berusaha bersabar menunggu jawaban dari Reyhan namun Reyhan tak kunjung membuka suaranya ia mematung seakan lupa diri.


Mereka yang sedari tadi mengantri pun mulai protes dengan tindakan Reyhan yang belum menentukan pilihan, seolah mengerti dengan sikap Reyhan, Lyra menarik Reyhan keluar dari barisan antrian.


"Kami pesan film Dont Call Me Monster dong Mbak." Berdiri sambil melambungkan senyumannya.


"Baiklah, ini tiketnya 1 tiket seharga 72000 jadi totalnya 144.000 rupiah ya," ujar resepsionis ramah.


Dengan cepat Reyhan dan Lyra mengeluarkan dompet mereka masing-masing.


"Ini." Memberikan uang secara bersamaan.


"Rey, biar aku saja yang bayarin, kali ini kamu mengalahlah."


"Jangan pedulikan dia, ambil uang ini dan berikan kami tiketnya." Tatapan tajam Reyhan seakan menghujam jantung si resepsionis.


"Rey, kamu kenapa sih selalu seperti ini." Mengejar Reyhan yang sudah berjalan terlebih dahulu menuju ruangan yang tertera pada tiket.


Di dalam ruangan bioskop tempat Lyra dan Reyhan tampak hening tak satu pun yang mengeluarkan suara mengamati adegan-adegan yang mereka nonton namun mereka dibuat heboh setelah melihat adegan intim yang terdapat dalam film. Lyra langsung menunduk malu karena ia yang memilihkan film tersebut secara langsung. Sementara itu, Reyhan terlihat sangat menikmati dan senyumannya juga tampak santai.


Kenapa harus ada adegan seperti ini, ini sangat memalukan sumpah aku malu. Batin Lyra.


Tapi ada apa dengannya kenapa tampangnya begitu serius, apa dia sangat menyukai film kotor seperti ini. Gumam Lyra sambil melirik Reyhan.



"Kenapa kamu terus menunduk?" tanya Reyhan.


"Itu filmnya-


"Bukankah kamu menyukainya, aku juga mencoba untuk menyukai film seperti ini." Tersenyum nakal pada Lyra.


Apa dia ini sedang menggodaku, aku tidak suka film seperti ini. Batin Lyra menahan amarah.


Ternyata sedari tadi Reyhan diam-diam melirik Lyra yang terlihat kesal pada film yang mereka tonton. Reyhan hanya berpura-pura fokus pada layar tapi sebenarnya ia hanya mengecoh Lyra.

__ADS_1


"Ayo kita pergi." Menarik tangan Lyra dengan pelan.


:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


"Akhirnya makan juga aku sangat lapar Rey ." Mengangkat kedua tangannya merasa sangat gembira.


"Selera film yang kamu sukai itu lumayan juga." Tersenyum berusaha menggoda Lyra.


"Aku beneran ga tahu Rey kalau adegan filmnya bakal seperti itu, padahal di covernya jelas terlihat seperti film horor." Berusaha membela diri.


"Ya sudahlah kamu lanjutkanlah makan karena mengoceh juga butuh tenaga." Tersenyum melihat ekspresi Lyra yang seolah terintimidasi.


"Oh ya, habis makan kita kemana lagi?" tanya Lyra sambil mengunyah makanannya.


"Bagusnya sih kalau kita pergi nonton lagi, bagaimana?" jawab Reyhan pelan.


Lyra memelotot kesal karena Reyhan tak henti-henti menggodanya.


"Jangan seperti itu lagi, aku beneran nggak suka film yang kayak tadi, itu benaran asal pilih film." Berusaha agar Reyhan mempercayainya.


"Iya-iya aku hanya bercanda habiskanlah makananmu, waktu kita sudah tidak banyak." Tersenyum menahan tawa.


"Kamu mau tidak?" tanya Lyra sambil mengacungkan sesendok makanan ke depan wajah Reyhan.


Reyhan tersenyum, ia pun berdiri lalu membungkukkan punggungnya.


"Aku mau kamu menyuapiku seperti ini, bagaimana?" Menatap nakal membuat Lyra malu, yang benar saja tingkah Reyhan yang terkadang tidak peduli dengan lingkungan dimana itu pun menjadi pusat perhatian.


Wajah Reyhan memerah dengan perlakuan Lyra yang memanjakannya. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi dan berpura-pura melihat ke kanan-kiri.


::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


"Ah akhirnya selesai juga, aku hampir mati karena sudah sangat kenyang," ujar Lyra sambil mengelus- perutnya yang tampak sedikit membuncit.


"Sekarang apa yang akan kita lakukan?" tanya Reyhan sambil menghentikan langkahnya.


"Apa kamu butuh saran dariku?" tanya Lyra menepuk pelan punggung Reyhan.


"Tentu saja, karena ini kencan kita berdua jadi jangan menggunakan otak orang lain secara sepihak saja untuk berpikir apa saja yang akan kita lakukan," jelas Reyhan.


"Baiklah Den Reyhan, apa boleh aku ungkapkan saranku sekarang, aku hanya bertanya sedikit kamu malah menjelaskannya secara rinci." Tersenyum geli melihat raut wajah Reyhan.


"Hmmm, jadi kemana kita akan pergi?" Bergaya layaknya laki-laki cool.


"Bagaimana kalau kita bermain time zone, aku sudah lama tidak ke sana, waktu itu kami hampir sering tapi setelah kuliah menguras beban pikiran kami jadi nggak pernah lagi datang kemari," ujar Lyra.


"Jadi maksud kamu aku ini laki-laki yang pertama kali pergi bersamamu bermain time zone?" tanya Reyhan.


Lyra mengangguk langsung dibalas senyuman Reyhan yang salah tingkah.


"Bagaimana kamu mau tidak?" tanya Lyra.


"Tentu saja, ayo kita ke sana." Menarik tangan Lyra lalu berjalan ke arah time zone.

__ADS_1


::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


"Aku kan sudah bilang jangan dipaksakan mesin capitnya." Mengerutkan dahi merasa kesal pada Reyhan.


"Siapa suruh membuat mesin pemberi harapan palsu seperti itu?" Merasa tidak bersalah.


"Reyhan kamu ini-


"Jangan pernah membela laki-laki lain di mana pun, kecuali membelaku." Menatap tajam.


"Iya Rey aku tahu itu, tapi dia kan-


"Jangan menceritakannya lagi atau aku akan masuk ke dalam sana dan membunuhnya." Memelotot kesal.


10 Menit sebelumnya/ Flashback.


"Wah boneka beruang yang warna cream itu imut banget," ujar Lyra sambil menunjuk ke arah mesin capit.


"Kamu mau biar aku ambilkan untukmu," jawab Reyhan.


Lyra mengangguk, mereka pun berjalan menuju mesin capit. Dengan rasa percaya diri yang tinggi Reyhan memulai permainannya namun ternyata di luar dugaan ia justru kalah berkali-kali. Merasa kesal pada mesin capit Reyhan meninju tombol yang ada pada mesin capit tersebut. Sontak membuat suara alarm pertanda terdapat adanya kerusakan pun berbunyi sangat keras, para petugas penjaga time zone pun menghampiri mereka.


"Ada apa ini?" tanya salah satu penjaga tersebut yang memakai badge bernama Rio.


"Ma-maafkan kami tidak sengaja telah menekan tombolnya secara kasar," jawab Lyra dengan suara terbata-bata khawatir Reyhan akan dihajar.


"Ini tidak mungkin kalian pasti sengaja kan, kalian pasti ingin mencuri iya, kan!" teriak Rio.


"Beraninya kau meneriakinya dan menuduh kami maling, berapa pun akan aku bayar tapi setelah aku membayarnya akan aku robek mulutmu ini." Menarik kerah pakaian Rio.


"Kamu kira aku akan takut ancaman murahmu ini, heh bocah kau sok jagoan ternyata." Tertawa sinis.


"Plak, bugh." Emosi yang meluap-luap membuat tinjuan Reyhan mendarat di wajah Rio hingga mengeluarkan darah.


Rio memelotot marah ia pun mulai melayangkan bogemannya yang dengan cepat ditangkis oleh Reyhan. Dan lagi-lagi ia mendapat tinjuan dahsyat dari Reyhan hingga membuatnya tersungkur.


Teman-temannya yang sedari tadi sengaja diam karena mengira kalau Rio lah yang akan menjadi pemenangnya pun marah mereka ramai-ramai menghadapi Reyhan.


"Wah dikeroyok ramai-ramai seperti ini, aku sangat merindukannya." Tersenyum sinis.


"Jangan banyak bicara rasakan ini!" teriak mereka, berlari ke arah Reyhan dengan mengepal tangannya akan menghajar Reyhan.


Dan akhirnya mereka pun hanya bisa menjatuhkan tubuh di atas lantai. Luka memar di wajah mereka serta di area tubuh lainnya menandakan Reyhan lah pemenangnya. Ya, Reyhan masih berdiri tegak tanpa adanya luka sedikitpun.


"Akan aku pastikan menutup tempat ini, katakan pada manejer kalian untuk menghadap padaku." Melemparkan kartu namanya ke hadapan mereka.


Reyhan pun menarik Lyra keluar dari tempat itu. Mereka langsung mengambil kartu nama yang Reyhan lempar pada mereka.


"Apa? Dia Reyhan Almirza."


BERSAMBUNG.....


__ADS_1


__ADS_2