MY BERONDONG

MY BERONDONG
BOLEHKAH AKU MEMINTA SESUATU


__ADS_3

"Rey, kamu selalu bilang apapun yang terjadi padaku aku harus melibatkanmu maka dari itu aku ingin kamu melibatkanku dalam hal apapun yang berkaitan denganmu," kata Lyra sambil menggenggam tangan Reyhan.


Reyhan tersenyum sambil memegang erat tangan Lyra kembali.


"Oh ya, kapan kamu masuk sekolah?" tanya Lyra.


"Tunggu kamu pulih dulu," jawab Reyhan sambil menyuapi buah ke mulut Lyra.


"Ah itu tidak boleh kalau aku pulihnya sebulan gimana dong? Jangan beralasan yang tidak-tidak Rey, pokoknya kamu harus masuk secepatnya," kata Lyra.


"Kalau begitu kamu juga harus masuk secepatnya," jawab Reyhan tak mau kalah.


"Lah kenapa jadi kamu yang atur, aku ini kan masih berstatus sebagai pasien Rey, pokoknya lusa kamu sudah harus masuk," kata Lyra.


"Hmmm akan aku pertimbangkan," jawab Reyhan singkat.


Seorang suster masuk dan menyuruh Reyhan keluar karna tubuh Lyra akan diperiksa, Reyhan menurutinya.


"Drrrrrt," sebuah pesan masuk ke ponsel Reyhan.


*Den, saya dpt kbr nyonya akan plg mnggu ini*


Reyhan tampak bergetar dan langsung mengabaikan pesan tersebut. Reyhan menyandarkan tubuhnya pada dinding belakang kursi dan memejamkan matanya.


"Den bangunlah Den!" teriak pak Mat.


"Pak Mat, ini bukan kamarku? Papa dimana? Dan kenapa badanku terasa sakit semua, kenapa jarum ini menempel di tanganku?" tanya Reyhan kebingungan.


"Den yang sabar ya bapak akan temani Den sampai kapanpun," jawab pak Mat sambil mengurai air mata.


"Bapak jawab, papa dimana? Bukankah dia sedang mengajariku mengendarai motor? Aku mau ketemu papa, aku mohon pak Mat aku mau ketemu papa," rengek Reyhan dengan tenaga yang melemah.


Tiba-tiba seorang suster memberikan suntikan penenang ke lengan kiri Reyhan hingga membuatnya perlahan-lahan tidak sadar dan mulai menutup matanya. Samar-samar ia mendengar jeritan seorang remaja perempuan.


"Papa, Mama jangan tinggalkan Rara, Rara mau ikut Rara enggak punya siapa-siapa Papa Mama jangan pergi!" Jeritan itu terngiang ditelinga Reyhan dan....


"Akh!" teriak Reyhan dengan keringat di sekujur tubuhnya


"Sudah bangun lu?" tanya Erick yang entah kapan sudah ada disampingnya.


"Hah, kau kapan sampai?" tanya Reyhan yang masih merasa pusing.


"Tepat 1 jam yang lalu, mimpi itu lagi ya?" tanya Erick sambil memberikan tisu.

__ADS_1


"Ah ya hanya saja suara remaja perempuan itu lebih jelas terdengar bahkan aku mendengar namanya," jelas Reyhan.


"Serius lu? Siapa namanya?" tanya Erick penasaran.


"Rara iya Rara. Apakah aku harus mencarinya lagi? Pak Mat bahkan sudah tidak mengingatnya lagi, tentu saja dari perubahan wajah itu memang tidak gampang untuk ditemukan" kata Reyhan.


"Menurut gua sih lu lupain dulu si Rara itu fokus pada Lyra gua takut Fero menghantuinya lagi secara kan lu tahu dia orangnya ambisius," jawab Erick.


"Lyra..., aku mau masuk dulu," kata Reyhan seraya bangkit dari duduknya.


Dengan cepat Erick menarik tangan Reyhan.


"Ssst lu disini saja dulu, dia dan kak Siska lagi ngobrol masa lu mau ganggu enggak peka banget sih. Jadi orang santai dong," kata Erick.


Reyhan kembali ke tempat duduknya semula.


"Lu tahu enggak di sekolah anak-anak pada heboh tadi karena lu enggak masuk sampai-sampai kak Siska bingung menanganinya untung ada kak Fardan itu ikut bantu," kata Erick.


"Kenapa bukan kamu yang bantu?" tanya Reyhan dengan tatapan tajam.


"Eits tatapan lu biasa aja kali Rey, kan lu tahu kita beda kelas. Lagipula kenapa sih lu itu sensi amat sama yang namanya kak Fardan itu? Padahal orang baik gitu juga," tanya Erick.


"Entahlah aku hanya merasa sedikit tidak nyaman dengan dia," jawab Reyhan.


"Atau jangan-jangan lu benci sama dia karena dia pernah deketin kak Lyra kan hahaha cemburu terus sampai tamat," kata Erick sambil tertawa.


Sementara itu, Siska melepaskan kulit buah apel dengan pisau lalu memotongnya menjadi beberapa bagian kemudian ia berikan pada Lyra.


"Kamu tahu enggak tadi disekolah anak-anak pada nanyain kabar kamu lho!" seru Siska.


"Haha nanyain aku atau Reyhan jangan bohong Sis, itu tidak baik," jawab Lyra merasa geli.


"Sebagian nanyain kamu tahu, ya walaupun kebanyakan nanyain Reyhan haha," jawab Siska sambil menggaruk pelan kepalanya.


"Hmmm jadi tadi pas ngajar enggak terjadi hal yang aneh-aneh kan ya?" tanya Lyra.


"Gimana ya jelasinnya aku, tadi sedikit stres habis anak-anak pada bertanya balik ke aku mereka tahu aku enggak sepintar kamu. Tapi untungnya sih kak Fardan kebetulan lewat dan langsung bisa teratasi," jelas Siska.


"Hah yang benar terus bagaimana?" tanya Lyra semakin penasaran.


"Enggak tahu ah kami hanya diam-diaman saja aku mau bilang terima kasih juga berat banget. Tapi ya sudahlah dia juga diamin aku. Bel istirahat langsung nyelonong keluar kan enggak dewasa banget ya,"


jawab Siska.

__ADS_1


"Kamu jawab jujur ya, kamu masih suka enggak sama kak Fardan?" tanya Lyra sambil merapikan selimutnya.


"Aku enggak tahu Ra aku juga bingung makin kesini makin enggak jelas. Aku rasa lebih baik berteman sajalah toh dia juga enggak pernah melirik aku sedikitpun," jawab Siska.


"Kalau tiba-tiba dia nembak kamu bagaimana? Kamu terima enggak?" tanya Lyra mencoba menghibur Siska.


"Jangan ngaco ah. Lagian sekarang aku sudah enggak fokus kesana lagi kok. Masalah laki-laki mah bikin tambah runyem aja, sekarang ada urusan yang lebih penting selain itu," jawab Siska.


"Apa?" Lyra semakin penasaran.


"Ya tentu saja kamu jangan lama-lama dong sakitnya kamu enggak kasihan sama aku ya. Aku pengen banget melewati hari-hariku denganmu lagi, dirumah sepi enggak ada kamu," jawab Siska sambil mengerucutkan bibirnya.


Lyra menggenggam tangan Siska.


"Di dunia ini aku hanya memiliki beberapa orang yang mencintaiku yaitu kamu, Reyhan dan paman aku tidak tahu apa yang terjadi padaku kalau kalian tiba-tiba enggak ada. Mungkin lebih baik aku mati saja," kata Lyra sambil meneteskan air matanya.


"Ra, sejak kita bertemu dan mulai dekat sejak itulah aku selalu berusaha ada di dekatmu aku sangat mengenalmu, sifatmu membuat aku merasa selalu kagum padamu, yang berusaha menutupi kesedihanmu sendiri demi kebahagiaan orang di sekitarmu. Dari itulah aku merasa kamu pantas mendapatkan banyak cinta dari orang lain termasuk aku maka dari itu tetaplah semangat hingga akhir aku akan disampingmu," jelas Siska.


"Ah Siska aku mulai nangis ini kamu ngapain naruh bawang disini," kata Lyra sambil berusaha menyeka air matanya.


"Hmmm sudah mulai senja nih, aku mau pamit pulang dulu, besok aku kesini lagi," kata Siska sambil merapikan bantal Lyra.


"Ah kamu pasti lelah mending enggak usah Sis kamu juga harus memperhatikan kesehatanmu aku enggak mau ya kalau kamu ikutan sakit karena aku,"


ujar Lyra.


"Siap bos, oh ya nanti yang temani kamu disini kan Reyhan tuh jangan berbuat yang tidak-tidak lho ya hahaha," goda Siska.


"Yah mulai lagi," kata Lyra.


"Hahaha aku hanya bercanda, kalau begitu aku pulang dulu ya bye," kata Siska sambil beranjak keluar.


***


"Rey, kamu enggak tidur ya enggak baik lho begadang ?" tanya Lyra.


"Aku belum mengantuk, sudahlah kamu tidur duluan saja," jawab Reyhan.


Bagaimana aku bisa tidur kalau kamu tetap menatapku seperti mau menerkamku. Batin Lyra.


"Lyra, bolekah aku minta sesuatu padamu?" tanya Reyhan sambil menyenderkan tubuhnya di sisi kursi.


"Apa?" tanya Lyra dengan wajah memerah.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....



__ADS_2