MY BERONDONG

MY BERONDONG
ERICK DAN RANIA (3)


__ADS_3

Sebulan sudah, Rania tak melihat sosok Erick. Sejak kejadian kemarin, rasa benci di hati Rania menutupi rasa suka yang ia pendam selama ini. Nama. Erick kini sudah samar di hatinya.


Akan tetapi, melupakan sosoknya tetap saja mustahil baginya. Erick masih bertakhta. Gadis itu kini memfokuskan diri pada studynya.


"Nenek, makan ya sebentar lagi musim salju tiba. Jadi, tolong Nenek jaga kesehatan." Rania menyuapi neneknya yang sepertinya mogok makan.


Neneknya mendesah, ia tahu cucunya itu berusaha berjuang untuk kesehatannya.


"Nah, gitu dong!" seru Rania ketika neneknya menerima suapan pertama.


Dua puluh menit berlalu sudah, sekarang nenek Rania sudah tertidur akibat kekenyangan. Setelah memastikan Neneknya terlelap cantik, Rania pun ke luar dari kamar.


Di luar, ternyata ada Marta yang sedari tadi harap-harap cemas ketika nenek Rania menolak untuk makan.


"Gimana?" tanya Marta dengan wajah setengah panik.


Rania mengacungkan jempolnya, "sudah Mampir, semua beres!" serunya.


Marta melompat kegirangan. Rania terkekeh melihat tingkah mamanya yang lucu.


Drrrrrttt Drrrrrrttt Drrrrrrrrttt


Rania menatap nama kontak yang tengah meneleponnya, senyumannya pun mengembang.


"Oh, ya halo... Aku di rumah sih. Boleh, oke, aku ke sana ya!"


"Cie, cie...Tumben Erick nggak jemput kemari," goda Marta.


"Ma, ini bukan Kak Erick tapi Jason dia dari Indonesia juga Ma. Dia baru pindah dari Surabaya, ikut mamanya karena kedua orang tuanya udah pisah dan mamanya udah nikah sama orang Amerika makanya dia ikut mamanya karena ayahnya seorang pengangguran." Mendengar penjelasan dari Rania, membuat Marta bertanya-tanya kemana perginya Erick dan Marta sekarang bertambah khawatir pada Rania.


Rania melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, "udah dulu ya Ma, emmuach...Rania mau pergi dulu. Bye Ma!" Setelah mencium pipi Marta, Rania beranjak sambil melambaikan tangannya.


Marta mengambil ponselnya lalu menghubungi Erick. Akan tetapi, nomor yang dihubungi tidak aktif. Kecemasan Marta bertambah segera ia hubungi Kriss Rojali, Papa Erick. Tetapi, tetap saja sama seperti anaknya, nomor Papa Erick juga tak aktif.


...****************...


Rania mencari sosok Jason di keramaian para pengunjung. Oh ya, mereka janjian bertemu di sebuah taman hiburan yang dimana tempat itu sangat diminati kalangan muda tersedia, food court, orgen keyboard DJ serta berbagai macam wahana dan juga terdapat pantai tempat para pecinta boat.


"Rania." Jason berada tepat di belakang Rania.


Rania membalikkan badannya, Jason segera memberikan buket bunga di tangannya. "Makasih sudah datang," ucapnya.


Rania terkekeh, "apaan sih pakai buket bunga segala. Aneh banget!"

__ADS_1


Jason ikut tertawa, "ke sana yuk! Ramai banget, aku suka tempat seperti ini."


Mereka pun berjalan ke tempat yang Jason tunjuk tadi. Di sana orang-orang mulai berjoged menikmati alunan musik yang menggelegar layaknya party.


Rania menggeleng ketika Jason menariknya ikut bergoyang dengannya seperti pasangan bule-bule di sana. Gadis, itu berusaha membuat dirinya senyaman mungkin tetapi tetap saja dia tidak bisa. Rasanya sangat melelahkan sekaligus mual.


Tidak terasa, Jason berjoged lumayan lama. Ia bak orang gila berjoged sambil menyentuh seorang wanita berkulit putih. Rania memaklumi, mungkin saja mungkin saja kehidupan yang dijalani Jason sangat berat hingga ia butuh untuk meluapkannya.


Hari mulai gelap, jarum jam tangan Rania menunjukkan pukul 8 malam. Sudah waktunya untuk pulang. Belum lagi perutnya yang kosong karena sedari tadi hanya duduk diam memperhatikan Jason tanpa mengisi perutnya sedikit pun.


"Ah! Lowbet lagi!" Rania mengesalkan dirinya yang tidak mengisi daya ponselnya terlebih dahulu sebelum pergi.


"Hy, girl... Are you want dance with me?" Seorang pria dengan rambut gondrong menarik siku Rania.


Rania segera menghentakkan tangan pria itu. "Sorry, i don't."


"Rania ayolah sekali saja!" Terdengar suara Jason di tengah kencangnya musik itu.


Jason, kenapa jadi begini?


Pria itu terus menarik lengan Rania, memaksanya sebisa mungkin agar gadis itu menuruti kemauannya.


Rania terus menggelengkan kepalanya, orang-orang di sana terlihat tidak peduli bahkan dari kejauhan Jason malah mengumpat senyuman di wajahnya. Senyuman yang jelas terlihat Rania.


"Lepaskan aku!" teriak Rania ketika kedua tangannya ditarik Jason dan pria itu.


"Ayolah Rania temani aku bersenang-senang... Setelah ini kita pulang." Menarik lengan kanan Rania.


Sementara pria yang satu lagi menahan tangan kiri Rania. Pria itu bahkan meminta satu botol anggur yang sudah dibuka penutupnya. Ia bahkan memasukkan obat yang membuat Rania semakin takut.


"Ini, akan membuang lelahmu, Rania." Suara Jason membuat Rania merinding.


Mereka pun memaksa mencekoki Rania dengan minuman itu. Gadis itu berteriak sembari menangis sejadi-jadinya. Tetap saja tak seorang pun peduli.


"Akh!" Teriak Jason kuat ketika tubuhnya terpental hingga terkena tiang besi yang menjulang.


Tak berselang lama, teriakan pria jahat itu pun ikut terdengar.


"Bangun, Lu!"


"Sia-"


Bugh! Belum selesai Jason bertanya bogeman maut sudah menyerang tubuhnya tanpa ampun begitu juga pria yang memaksa Rania tak kalah sadisnya.

__ADS_1


Kedua makhluk jahanam itu ambruk seketika dengan tubuh yang tak berbentuk, sangat menyeramkan.


...****************...


Samar-samar terdengar suara orang bercakap-cakap. Rania memaksa membuka matanya, berhasil tetapi pusing yang luar biasa membuat matanya kembali tertutup.


"Mmmmm... Ma." Suara parau terdengar sangat lemah.


Seketika orang yang sedang bercakap tadi berhenti.


"Iya, Sayang sudah bangun?" Terdengar suara Marta yang jelas sangat mengkhawatirkannya.


Sebulir air mata membasahi pipi Rania, "Mau," panggilnya dengan suara parau.


"Iya Sayang mama di sini Nak."


"Permisi Ibu Marta kami akan memeriksanya dulu," ucap seorang Dokter yang baru saja dipanggil Suster.


Suara yang didengar oleh Rania sebelumnya adalah suara Marta dan seorang suster. Begitu Rania memanggil Marta, refleks suster tadi bergegas memanggil Dokter yang menangani Rania.


Begitu, Dokter menyentuh Rania bergerak hebat ketakutan yang luar biasa. Marta mengusap rambutnya berusaha menguatkan putrinya itu.


"Bu Marta, apa bisa Ibu tetap bicara? Menceritakan dongeng misalnya!" tanya sang Dokter.


Marta mengangguk, "baik Dokter."


Apa yang sebenarnya terjadi Nak?


Marta mulai menceritakan dongeng seperti yang diintruksikan sang Dokter. Dan benar saja pemeriksaan berjalan dengan lancar tanpa adanya pemberontakan dari Rania.


Setelah memastikan Rania terlelap, sang Dokter pun ke luar tinggallah Marta yang terus mengusap puncak kepala Rania.


"Sebenarnya hari itu, apa yang telah mereka lakukan padamu."


...****************...


Di kantor polisi, di hadapan Marta tampak wajah Jason yang masih penuh luka yang belum mengering begitu juga dengan pria gondrong.


Menurut kesaksian pria itu, Jason menyuruhnya untuk memaksa Rania ikut bergoyang dengannya. Jason mengiming-imingi pria itu dengan uang sebanyak 2 dollar. Pria itu menyanggupi. Tetapi, ia tidak mengira akan sepanjang ini urusannya bahkan nyawanya hampir saja melayang. Ia mengucapkan rasa sesal yang mendalam.


Berbeda dengan pria itu, nampak raut wajah tenang Jason yang tak menunjukkan rasa bersalahnya.


"Papa tiriku kaya," gumamnya pelan.

__ADS_1


__ADS_2