
Pagi itu, Lyra terbangun dari tidurnya. Ia pun mengendap-endap ke luar tanpa membangunkan Reyhan suaminya. Ia sengaja karena tampaknya sang suami sedang kelelahan terlihat dari dengkurannya, padahal lelaki itu tidak pernah berdengkur.
"Ah, laparnya.... " Lyra menghampiri para Bibi yang sudah bertempur dengan masakannya.
"Nyonya, sudah bangun," ujar Bik Sum sambil memotong sayur kangkung kesukaan Lyra.
Lyra tersenyum, "Bi, kan saya sudah bilang jangan panggil nyonya. Lyra saja, ya," jawab Lyra lembut.
Bik Sum tersenyum lalu mengangguk.
Lyra menyeka bulir keringat yang membasahi dahi hingga pipinya. "Panas ya? Padahal masih pagi," ujarnya dengan napas yang tersengal-sengal.
Para Bibik saling berpandangan tapi tak berani menyela.
Tiba-tiba...
"Huek!" Suara mual yang datang mendadak membuat Lyra hampir memuntahkan isi perutnya.
"Nyonya, eh Neng Lyra!" Bik Ati menepuk pelan pundak Lyra.
"Itu telur busuk ya Bik? Kok baunya amis banget," ujar Lyra sembari menutup hidungnya. Keringat di dahinya semakin menjadi-jadi membasahi hingga ke lehernya.
Bik Sumi memperhatikan gelagat aneh Lyra hari ini, "jangan-jangan Neng Lyra... Hamil!"
Semuanya spontan tersenyum dan bik Sum tak sadar mengeluarkan air matanya.
Akhirnya yang diidamkan Nyonya Marta kejadian. Nyonya akan punya cucu.
"Bibi, ini mungkin asam lambung saya kambuh dan lagipula-"
"Dulu, waktu saya hamil persis seperti Neng Lyra," jawab Bik Sumi.
Semua terkejut mendengar pernyataan Bik Sumi.
Bik Sumi tersenyum, "sebelum jadi janda, saya pernah hamil tapi sayangnya keguguran waktu usia kandungan saya tiga bulan. Itu karena, saya bekerja di rumah orang. Saya kan ART juga, karena suami nggak mau kerja. Karena saya keguguran, saya pun minta cerai."
Lyra menatap haru, tidak menyangka dibalik keceriaan sang bibi Sumi ada pengalaman pahit juga.
"Lah kok jadi diam semua! Ya, ampun Sari telurnya gosong!" teriak Bik Sumi.
"Ya... Gosong!" Sari menghela pasrah diikuti tawa mereka semua.
Reyhan menengkuk kakinya di balik selimut, tampaknya lelaki itu kedinginan. Lelaki itu pun terbangun ketika tak tangannya meraba tempat tidur yang tidak ada Lyra.
Reyhan memaksa membuka matanya yang menyipit karena masih mengantuk. Semua tetap terlihat kabur, ingin rasanya ia kembali tidur. Akan tetapi, dia adalah Reyhan yang harus tidur dengan pelukan sang istri. Mau tidak mau, ia harus mencarinya.
Reyhan menuruni anak tangga satu persatu, tiba-tiba suara gemuruh para bibi dan Lyra terdengar. Lelaki itu berjalan mendekat.
"Aku yakin kalau dia laki-laki pasti setampan den Reyhan!" Suara bik Aty membuat Reyhan menghentikan langkahnya. Kini, lelaki itu penasaran apa yang dibahas sekumpulan para wanita itu.
Pandangan Reyhan mengarah pada Lyra yang tengah tersenyum salah tingkah.
Entah mengapa setiap melihat senyumanmu rasa cintaku semakin bertambah.
"Kalau perempuan pastilah cantik seperti neng Lyra yang cantik. Ah, jadi nggak sabar menunggu majikan kecil. Nyonya pasti sangat senang." Bik Aty berucap dengan wajah haru.
"Jangan beritahu dulu, aku ingin memberi kejutan pada mama."
Semua sepakat tak memberi tahu Marta karena permintaan Lyra tersebut. Reyhan yang sedari tadi mengintip tiba-tiba tak jadi menghampiri ia pun berlalu kembali ke dalam kamarnya.
***
Lyra berjalan menaiki tangga, berlari kecil menuju kamar. Senyumnya mengembang ketika ia berkali-kali melirik tes kehamilan yang ia bawa.
__ADS_1
"Sayang, eh! Di mana?" Sosok Reyhan yang Lyra hampiri tak ada di tempat tidur. Tak lama kemudian Lyra mendengar suara gemercik air yang berasal dari kamar mandi..
Lyra tersenyum, disambarnya poto mini dari nakas. "Katanya kalau cantik itu mirip mama tapi kalau ganteng itu mirip papa, Nak! Tapi, yang mama tahu seorang putri mirip papa dan seorang putra mirip mama itu disebut berkah. Mama nggak masalah yang penting hiduplah dengan sehat dan kuat akan menghadapi dunia ini." Lyra terus mengamati poto yang ia ambil itu. Kemudian, wanita itu memeluknya lalu pandangannya beralih pada tes kehamilan yang beberapa lalu dibelikan pengawalnya.
Klak!
Aroma wangi dari kamar mandi menyeruak. Terlihat Reyhan sedang mengelap rambutnya dengan hancuk kecil. Ia lalu berjalan pelan mendekati sang istri.
"Sayang," panggil Lyra.
Bukannya menjawab, Reyhan segera memeluk wanitanya itu.
...Tubuhnya sangat lembut. Dan, sejak kapan menjadi kekar begini? Tubuhnya sudah seperti Redro saja....
"Sayang, apa setelah mereka lahir, aku akan diabaikan?" Reyhan membisik.
Dia tahu?Ya, padahal mau kasi kejutan.
Reyhan melepaskan pelukannya, dipandanginya Lyra lamat-lamat. "Kenapa tidak menjawab?" tanya Reyhan seraya mengusap lembut pipi Lyra.
Lyra mengerucutkan bibirnya, "tadinya aku mau ngasi kejutan eh keduluan ketahuan sama kamu. Ya...Jadi nggak seru, ah!"
"Apa kita harus mengulang adegannya?"
Wajah polos Reyhan, membuat Lyra terkekeh. "Apa hari ini ada waktu? Aku berencana untuk memeriksakannya."
Reyhan tampak berpikir, "Dia anakku juga, mulai sekarang dia akan menjadi prioritasku."
Lyra tersenyum.
Meskipun dia tidak suka anak-anak tapi dia berusaha menjadi ayah terbaik.
Reyhan pun bangkit. Tiba-tiba....
"Lyra, aku suamimu." Memungut handuk jatuh yang tadinya menutup bagian bawah tubuh Reyhan.
***
Siska terlihat antusias mengoleskan bubuk masker di wajah Redro.
"Beb, kamu imut terlihat seperti beruang." Entah berapa kali Redro mendengar kalimat istrinya yang menyamakan dirinya dengan binatang yang lumayan buas tersebut.
Redro menghela napas, "kamu terus mengatakannya. Apa kamu tahu wujud asli beruang itu seperti apa? Mereka sangat buas dan ganas."
Siska terdiam, wajahnya kini terlihat polos.
"Nah, benar kan, mirip beruang. Kamu tahu nggak setiap kali kita melakukannya aku menatap wajahmu dari bawah dan juga mendengar suaramu yang terdengar seperti mengaum."
Seketika Redro membisu, pria itu selalu saja kehabisan kata-kata setiap berhadapan dengan Siska.
"Kan benar-benar seperti beruang yang lucu." Siska meletakkan piring kecil bekas bubuk masker tadi.
Sebenarnya, Siska menjadikan Redro sebagai bahan percobaan atas kegabutannya. Wanita itu mencoba mencari kesibukan dengan membuat masker yang ia pelajari dari Utube.
"Eh, kamu kenapa?" tanya Siska yang terkejut karena Redro tiba-tiba menguncinya di bawah tubuh suaminya itu.
Redro tiba-tiba membuka satu persatu kancing piyamanya. "Mau menunjukkan sosok beruang yang sebenarnya."
Kedua mata Siska membulat, "Ben, aku cuma bercanda lho," jawabnya malu-malu.
"Tapi, aku tidak." Redro mengawali aksinya yaitu mengecup leher Siska, membuat wanita itu mengerang kegelian.
"Apa aku masih terlihat seperti beruang?" bisik Redro yang membuat Siska mendadak merinding. Wanita itu tak menjawab.
__ADS_1
"Sekarang beruang ini akan benar-benar menerkammu!"
Dan, di pagi hari yang masih gelap itu mereka bertempur.
***
Lyra turun dari ranjang pasien dibantu Reyhan. Ya, hari ini pasangan suami istri itu melakukan pemeriksaan kandungan di rumah sakit.
"Usianya 4 minggu, dan sejauh ini janinnya kuat. Apa ibu ada keluhan lain?" tanya Dokter Amelya, begitu tertera di badge yang tertempel di pakaiannya.
"Ini, Bu Dokter saya sering mual pada aroma-aroma yang biasanya saya suka. Dan, paling parah aroma telur dadar," jawab Lyra.
Dokter Amelya tersenyum, "itu bawaan bayi, mual muntah itu tolong dimaklumin. Biasanya itu akan terhenti ketika usia kandungan lima bulan ke atas tapi balik lagi itu semua tergantung pada bayi. Diusia segitu, sering-sering saja untuk mengajaknyanya mengobrol. "
Lyra mengangguk,
"Ini resep obatnya, terdiri dari obat mual, muntah dan juga penguat kandungan. Dan satu lagi, sering-sering mengkonsumsi sayur dan buah dan tambahan susu ibu hamil itu juga perlu." Dokter Amelya memberikan secarik kertas berisikan resep obat yang harus ditebus pada apotek rumah sakit.
"Baiklah Dokter, terima kasih penjelasannya, kami permisi pulang dulu," jawab Lyra.
Dokter Amelya tersenyum, "hindari pikiran yang membebani jiwa dan jangan terlalu banyak melakukan pekerjaan berat lainnya. Janinnya masih muda baiknya perbanyak istirahat di rumah."
Lyra tersenyum, lalu mengangguk mengiyakan. Mereka berdua pun beranjak pergi.
"Dari tadi kenapa diam saja?" tanya Lyra bingung.
Reyhan menggeleng, "dalam hal ini aku tidak terlalu pintar."
"Oooh...aku juga begitu Rey, kan kita berdua yang buat," jawab Lyra.
"Iya, tapi aku hanya bisa menurut saja aku takut tindakanku justru membuatnya tidak nyaman," jelas Reyhan.
Lyra tersenyum, "Sayang, mana mungkin wajah tampan ini menyakitinya dia malah bersyukur memiliki papa yang penyayang."
Reyhan memeluk Lyra lalu, ia kecup dahi istrinya itu. "Aku lupa mengatakan ini, terima kasih menjadi istriku dan sekarang aku menambah terima kasihku karena memberikan malaikat kecil untukku. Dalam hidup ini, hal yang paling aku syukuri yaitu mengenal dan memilikimu."
Bulir-bulir air terkenang di kedua mata Lyra. "Seharusnya aku yang berterimakasih, aku kira hidupku berakhir sebagai tukang laundry tak kusangka bocah yang kutolong itu justru berubah menjadi sosok yang membahagiakan aku. Kamu membuatku percaya bahwa keajaiban itu sungguh ada." Lyra berjinjit ia lalu mencium pipi Reyhan.
Tiba-tiba...
"Anak muda zaman sekarang, emang nggak punya malu ya. Nanti hamil, anaknya digugurin, dibuang. Aduh, kiamat semakin dekat." Ocehan ibu-ibu yang terang-terangan menyindir itu membuat tangan Reyhan mengepal marah.
Melihat hal itu Lyra menghampiri ibu tersebut. "Kami sudah menikah dan kebetulan hari ini sedang memeriksa kandungan. Karena terlalu bahagia, kami tidak sengaja menunjukkannya di depan umum maaf membuat Ibu tidak nyaman," jawab Lyra.
Sang ibu mendadak malu, "maaf, saya kira masih status pacaran habis wajah kalian terlihat masih siswa siswi SMA. Maaf mengganggu kebahagiaan kalian berdua." Ia pun beranjak pergi saking malunya.
"Ayo, pulang," ujar Lyra.
"Apa tidak ada tempat yang ingin dikunjungi?" tanya Reyhan.
Lyra menggeleng, "Kamu terlalu mencolok, aku nggak mau berbagi dengan orang lain. Wajah tampan ini, milikku seorang. Jadi, aku ingin Abang tampan ini menemaniku di rumah sekarang."
Reyhan memasang wajah nakal, "apa ada buktinya?" tanya Reyhan.
Lyra tak bisa berkata-kata, "ayo pulang aku mengantuk!"
"Bagaimana dengan pembahasan tadi?"
"Rey, jangan menindas ibu hamil," jawab Lyra.
Reyhan tertawa, ia merasa gemas pada wajah istrinya yang tengah malu itu.
BERSAMBUNG...
__ADS_1