
Erick berjalan menyusuri lorong kampus, di sepanjang melangkah para mahasiswi menyapanya yang hanya dibalas dengan senyuman.
Hari ini, lelaki itu bertekad untuk memenuhi permintaan sang papa yang memintanya untuk belajar dengan bersungguh-sungguh.
Flashback
Erick baru kembali, setelah menjenguk Rania. Raut wajahnya terlihat jelas sedang bahagia. Bahkan, lelaki itu tak henti-hentinya bersenandung mengiringi langkahnya.
"Darimana saja kamu?" Suara parau menghentikan langkah lelaki itu.
Ia menoleh ternyata, Rizwan Rojali sang papa tengah duduk di apartemen Erick. Entah apa lagi tujuan pria setengah baya itu? Dan yang tak kalah membuat darah Erick naik turun, kala itu sang papa membawa seorang perempuan yang usianya sama dengan Erick.
Perempuan itu tinggi semampai, rambut pirang dan kulit putihnya khas Amerika. Sebenarnya, Erick sangat mengesalkan sikap sang papa yang mulai terang-terangan mempublikasikan daun mudanya itu. Hanya saja, mengingat sang mama yang sudah lama meninggal, wajar sang papa mencari tambatan hati untuk mengusir kesepiannya. Dan juga, Erick bukan lagi anak-anak yang masih dikontrol kehidupannya.
Yang sangat Erick sayangkan, kenapa harus seorang gadis yang seusia dengannya? Padahal masih banyak wanita karir bertebaran. Dan seharusnya bagi Rizwan itu tidaklah sulit.
Dengan malas, Erick duduk tepat berhadapan dengan sang papa. "Tumben, datang?" tanyanya, dengan nada kurang suka.
Rizwan menegakkan badannya, membiarkan perempuan itu bergelayut manja di pundaknya. "Bagaimana kuliahmu? Hampir setahun ini, Reyhan sudah memimpin Almirza grup di Indonesia. Kemampuannya tidak main-main, bagaimana denganmu? Kuliahmu lancar saja sudah syukur."
Erick terkekeh, "Papa seharusnya sih berkaca lebih dulu." Mengangkat kaki kanannya.
__ADS_1
"Kau!" Rizwan memasang wajah marah.
"Reyhan memiliki Tante Marta serta istrinya yang cantik dan baik hati di sekitarnya. Bagaimana bisa kami dibandingkan? Apa aku harus membandingkan antara Papa dan Tante Marta?" Melipat kedua tangannya, jelas menantang sang papa dengan lantangnya.
Rizwan memijat pelipisnya, "ingin rasanya aku mengabaikan hidupmu. Tapi, bagaimana lagi kau putraku satu-satunya. Sekarang terserah, diusiamu yang sekarang harusnya sudah bisa memilih jalan hidupmu sendiri. Lakukan apapun yang membuatmu bahagia, aku tidak akan memaksa." Pria itu memasang wajah pasrah.
"Kau tahu kan. aku ini belum tentu bisa menemanimu sampai sukses. Jadi, kusarankan agar sebaiknya kau belajar bisnis. Kau ini putraku satu-satunya. aku tidak bisa mengabaikanmu. Aku, Papamu pemilik Riss grup, kalau bukan kau siapa lagi penerusnya." Bangkit lalu bergegas pergi.
Flashback Off
Erick menyusuri lorong yang berada dekat dengan perpustakaan, saat ia mendongak tak sengaja matanya menangkap sosok Rania yang sedang serius dengan tumpukan buku di meja.
Perlahan-lahan senyuman mulai terukir di sudut bibir lelaki itu.
...****************...
Rania merangkum semua buku yang ia baca. Ia mengalami deadline yang luar biasa padat. Dikarenakan terjadi insiden yang menimpanya, ia harus semangat mengerjakan tugas yang diberikan dosen killermya yang seharusnya ia ikuti beberapa hari yang lalu.
"Ah, lelahnya." Rania meregangkan kedua tangannya, ia raih ponselnya yang sedari tadi nangkring di atas meja.
Kak Erick lagi apa ya? Ah lupakan saja. Dia bahkan tak mengingatku, tapi aku.....
__ADS_1
Rania mendongakkan kepalanya memandangi langit-langit perpustakaan.
Aku merindukannya.
"Hai kutu buku." Tiba-tiba Erick muncul tepat berada di atas wajahnya yang tentu saja membuat gadis itu terkejut setengah mati.
"Ih, Kakak aku hampir saja mati karena jantungan!"Teriak Rania sembari menepuk-nepuk dadanya.
Erick meletakkan satu botol susu serta biskuit yang langsung diambil Rania.
"Terima kasih," ucap Rania lalu meminum susu tersebut.
"Padahal baru masuk rumah sakit, sudah masuk kuliah. Apa kamu nggak capek? Mana banyak banget lagi." tanya Erick sembari menghitung tumpukan buku milik Rania.
"Aku sudah sehat, tugas semakin menumpuk semakin menambah stress, Aku nggak mau menambah beban mama, cukup insiden itu membuatnya kepikiran." Kembali menyentuh buku-buku tersebut.
Erick menyenderkan tubuhnya, "definisi anak idaman, si pecinta mamanya ya," ujar Erick membuat Rania terkekeh.
Erick memejamkan matanya, mencoba melepaskan beban di kepalanya.
Sesekali, Rania melirik ke arah Erick.
__ADS_1
"Sebenarnya, Kakak ke perpustakaan hari ini mau ngapain sih?" tanya Rania..