
"Aku serius apa menurutmu aku ini tampan?" tanya Reyhan lagi.
"Hmm iya iya kamu memang tampan, sudah ya jangan bertanya lagi!" kesal Lyra.
"Dan kamu cantik, baiklah sekarang waktunya tidur besok kita bersiap-siap pulang," kata Reyhan sambil merapikan selimut Lyra.
"Aku cantik darimananya Rey? Aku rasa kamu perlu kacamata deh," tanya Lyra yang merasa aneh dengan jawaban Reyhan yang selalu mengatakan dia cantik.
Reyhan tidak menjawabnya pandangannya terfokus pada laptop yang berada di pangkuannya.
"Kamu sedang apa? Serius banget kayaknya?" tanya Lyra penasaran.
"Aku sedang belajar," jawab Reyhan singkat.
"Hahaha aku kira kamu tidak memikirkan UAN lagi, belajar yang baik ya anak pintar," goda Lyra sambil mengelus kepala Reyhan.
"Kalau aku tidak belajar sekarang bagaimana aku mendapatkan kerja nanti kalau aku tidak bekerja bagaimana aku menafkahimu nanti," jawab Reyhan antusias.
Lyra terpaku mendengar jawaban Reyhan yang spontan.
Dia ini kenapa sih mikirnya sampai kesana. Aku yang sudah jauh lebih dewasa darinya saja tidak kepikiran sama sekali. Batin Lyra sambil menutupi wajah malunya dengan selimut.
Reyhan tersenyum melihat tingkah konyol Lyra.
Tring!!!
Sebuah pesan dari Erick masuk ke ponsel Reyhan.
Sorry gua enggak bisa datang, lu kenal si Mita kan dia ngaku ke bokapnya kalau gua nidurin dia pdhl gua gk segila itu
jadi. Balas Reyhan singkat.
Gua dilarang keluar rumah nih, tolongin gua dong. Erick.
Itu derita kamu sendiri siapa suruh jadi nakal. Reyhan.
Drrrrrrrrrt Drrrrrrrrt Drrrrrrrrrrrt
Panggilan telepon pun masuk dan tentu saja dari Erick.
"Hei! lu kenapa sih bukannya nolongin gua menyelesaikan masalah, malah ledekin lu lupa ya gua ini sahabat lu!" teriak Erick.
"Hmmm salahmu sendiri tidak bisa menahan diri, terima akibatnya dan jangan seret orang lain dalam masalah rumitmu itu," jawab Reyhan santai.
" Gua enggak tidur dengan dia, kami enggak sampai kesana Rey. Lu percaya sama gua dong kami itu pacarannya biasa saja dan melakukan hal biasa juga You know lah." Erick membela diri.
"Aku tidak tahu apa-apa yang kalian lakukan selama kencan dan itu tidak ada urusannya denganku,"
ujar Reyhan.
"Paling tidak lu ngomong dong ke bokap gua kalau itu enggak pernah gua lakukan sama sekali. Dari dulu sampai sekarang bokap gua lebih percaya ke lu dibandingin gua," jawab Erick meyakinkan Reyhan.
"Tapi kamu bicara jujurkan kalau kamu sama sekali enggak pernah nidurin dia!" tegas Reyhan.
__ADS_1
"Sumpah Rey gua paling sampai leher doang yang bawah enggak gua sentuh sama sekali. Kalau bibir kan pastilah semua yang berpacaran sudah pernah termasuk lu iya 'kan?" jawab Erick kemudian bertanya balik pada Reyhan.
Reyhan terdiam wajahnya kembali memerah untuk kesekian kalinya.
"Jangan bilang lu belum mencobanya sama sekali Rey?" tanya Erick dengan suara serius.
"Kenapa kau malah menanyakan tentangku, sudahlah kau urus saja urusanmu itu dan jangan menggangguku. Aku sedang tidak ada waktu." Reyhan kesal ia mengakhiri panggilan tersebut.
Reyhan mematikan laptopnya kemudian merapikan selimut yang menutupi wajah Lyra. Ia pun dikejutkan bibir Lyra yang sedikit tebal nan mungil. Dengan cepat ia berdiri lalu mundur beberapa langkah hingga tubuhnya tersentuh dinding.
Seketika Ia menepuk-nepuk pelan dadanya dengan nafas yang tak beraturan.
Aku rasa memang harus melakukannya tapi tidak sekarang aku harus menahannya. Buat apa terburu-buru bukannya aku yang terlalu sok suci tapi rasa sayangku tidak harus pembuktian yang seperti itu bukan? Aku harus bisa menahannya, ya aku pasti bisa. Batin Reyhan sembari berbaring di sofa panjang sudut kamar.
Sementara itu...
Siska menggigit jarinya sesekali ia melirik pada Redro yang serius mengemudi.
Si mahluk es ini memang tidak bisa diajak menjadi teman, sayang banget ganteng begini tapi tidak bisa menikmati hidup, mending mati saja toh hidup sama mati juga enggak ada bedanya. Batin Siska.
"Nona besok berangkat jam berapa? Saya ditugaskan untuk mengantar Nona," tanya Redro.
"Itu tidak perlu, aku akan berangkat dengan motorku sendiri kamu istirahatlah," jawab Siska.
"Tapi den Reyhan bilang saya yang harus antar Nona, perintah den Reyhan itu pekerjaan saya," ujar Redro.
"Iya aku tahu, kamu tidak perlu mengulangi kalimat itu berkali-kali. Aku ini belum terlalu pikun," jawab Siska.
"Tidak, aku masih sangat kenyang," jawab Siska singkat.
"Kalau Nona perlu sesuatu katakan saja, karena itu tugas saya," jelas Redro singkat.
Dan lagi dia mengulanginya, aku tahu itu tugasmu huh buat aku semakin kesal saja. Eits tunggu sebentar sepertinya aku perlu memberi dia sedikit pelajaran oke aku akan mengerjaimu hahaha. Batin Siska dengan senyuman licik di wajahnya.
"Oh tunggu sebentar, sepertinya aku membutuhkan beberapa barang apa kamu mau menemaniku berbelanja?" tanya Siska.
"Baiklah Nona karena-"
"Itu tugasmu kan haha baiklah kita shooping sekarang yuhu!" seru Siska.
Beberapa menit kemudian merekapun sampai di sebuah Mall besar di jakarta. Siska langsung membuka pintu mobil dengan senyum bahagianya. Sementara itu Redro setia mengikutinya dari belakang.
Merekapun berjalan masuk mengitari semua toko-toko yang ada didalam mall tersebut. Siska menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah toko besar yang terkenal memiliki barang mewah dan harga yang fantastis tanpa ragu ia pun masuk.
Wah...akhirnya aku bisa masuk juga ke tempat ini, berasa seperti orang kaya terimakasih Tuhan aku sudah tidak sabar. Batin Siska lalu ia menoleh kebelakang tampak Redro berdiri tegap.
"Kamu tunggulah disini aku tidak akan lama oke," kata Siska sambil menarik Redro lalu menuntunnya ke kursi santai yang tersedia di toko tersebut.
"Hah ini bagus sekali buatan Italy, ya ampun harganya 20 juta padahal cuma kemeja biasa. Hmmm biarkan saja Redro yang bayar tapi kalau dia enggak ada uang bagaimana? Bodo amat siapa suruh membuat aku kesal, tapi ini terlalu mahal. Cari yang ratusan ribu sajalah," gumam Siska sambil berjalan memilih pakaian lainnya.
2 karyawati di toko mengikuti Siska dan itu membuatnya sangat tidak nyaman. Mereka bernama Santi dan Rika.
Baiklah sepertinya mereka juga perlu aku beri tugas, jangan tahu nya mengikuti orang lain baru dibayar kan gaji buta itu namanya. Batin Siska.
__ADS_1
"Wah ini bagus banget aku suka, yang ini juga dan yang ini unik sesekali memakai seperti ini bolehlah biar tampil beda. Tolong bawakan dong," ujar Siska sambil memberikan 6 helai pakaian kepada Rika.
Tak sampai disitu Siska mengambil beberapa tas mahal lalu diberikan kepada Santi, tiba-tiba fokusnya teralih pada gaun yang dipakaikan pada patung setengah badan dan berada sangat tinggi.
"Ehm tolong ambilkan yang itu dong, aku tertarik untuk mencobanya," perintah halus Siska sambil menunjuk ke arah patung tersebut.
Kedua karyawati itu pun melotot kaget dari wajah mereka tampak sudah lelah karena terus mengikuti Siska serta membawa barang-barangnya sedari tadi.
"Ba-baik tunggu sebentar saya ambilkan dulu tangganya," jawab Santi sambil memberikan barang bawaannya pada Rika.
Sialan ini cewek belagu banget sekaya apa sih dia. baju yang dipakai juga pas-pasan huh kita lihat saja nanti. Kalau kau tidak bisa bayar akan kubalas berkali lipat karena sudah mengerjaiku. Batin Rika.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Siska.
"Ah ini Mbak saya mau taruh barangnya depan kasir saja, boleh tidak?" tanya balik Rika.
"Hmmm aku kira kamu nggak mikir kesana, ya sudah terserah kamu hati-hati bawanya jangan sampai lecet," jawab Siska.
Si karyawati pun berjalan dengan sempoyongan karena banyaknya barang Siska.
"Hmmm, dulu kalian dengan gampangnya mengusirku dan Lyra dari toko ini tidak disangka sekarang bertemu kalian lagi. Makanya lain kali jangan meremehkan orang lain sekarang rasakan tuh," kenang Siska.
"Permisi Mbak saya sudah dapat tangganya saya ambilkan dulu ya," ujar Santi.
Siska mengangguk Santi pun menaiki tangga tersebut lalu berusaha meraih patung namun, tidak disangka ia malah terjatuh kebelakang karena tangga yang ia naiki berdiri tidak seimbang.
"Aw pinggangku!" teriaknya.
"Maaf sudah membuatmu kerepotan," ujar Siska sambil mengurkan tangannya.
Santi tersenyum lalu membalas uluran tangan Siska, dari kejauhan terlihat Rika dengan wajah gusar.
Tadi niatnya mau ngasih pelajaran kok jadi enggak tega begini ya aku ini kenapa tiba-tiba jadi pendendam begini sih. Batin Siska kesal dengan perlakuannya sendiri.
Siska berjalan ke arah kursi tempat Redro yang ia tinggalkan tadi namun betapa terkejutnya dia sosok Redro tidak ia temukan.
Apa yang akan dilakukan Siska selanjutnya ?"
Siapa yang akan membayar tagihan yang dibeli Siska ?"
Komen jawaban kalian masing-masing ya readers š
REYHAN DAN LYRA
SISKA DAN REDRO
BERSAMBUNG
TERIMAKASIH SUDAH MAMPIR JANGAN LUPA LIKE,KOMEN DENGAN IKHLAS
__ADS_1