MY BERONDONG

MY BERONDONG
S2-Lyra VS Reyhan....


__ADS_3

"Permisi, tolong bawakan pakaian brand untuk anak remaja dan balita," ujar Reyhan sambil menggandeng tangan Lyra.


Para karyawati pun sibuk berpencar membagi tugas mencari pakaian yang dipesan Reyhan. Mereka terlihat begitu sibuk kesana-kemari.


"Kenapa bukan kita yang mencarinya sendiri?" tanya Lyra merasa tidak tega melihat karyawati yang kocar kacir.


"Itu tugas mereka, dan tugasmu menemaniku duduk disini, jadi tetaplah disini dan abaikan mereka," jawab Reyhan sambil menyenderkan tubuhnya.


"Apa mereka mengenalmu? Mereka menatapmu seperti segan atau-"


"Ini toko milik keluarga Erick, tidak heran mereka menatapku seperti itu," jawab Reyhan lalu mengusap bahunya.


"Kenapa? Kamu butuh pijitan?" tanya Lyra dengan wajah polosnya.


Reyhan tidak menjawab, ia menarik pelan kepala Lyra lalu mengarahkannya ke bahu kiri yang ia usap tadi.


"Ada banyak orang disini, aku malu tahu," bisik Lyra, merasa gugup dengan yang mereka lakukan.


"Sudah ku bilang berhenti memikirkan perasaan orang lain, suamimu ini jauh lebih berharga daripada mereka." Mengusap kepala Lyra berusaha membuatnya tenang.


Hah, terserahlah mau bilang apapun tetap dia yang akan menang. Batin Lyra.


"Permisi Tuan, ini yang anda pesankan. Setelan pakaian untuk anak remaja dan yang ini anak balita cewek cowok lengkap semua," ujar salah satu karyawati sambil membawa trolly yang berisikan beberapa setelan pakaian beserta set celana. Dan di belakangnya ada 3 karyawati lainnya yang juga membawa trolly berisikan setelan pakaian balita.


"Apa semua brand terkenal?" tanya Reyhan lalu bangkit dari duduknya.


"I-iya Tuan," jawab karyawati itu dengan suara yang gugup.


"Baiklah, bungkus semua dan suruh orang lain mengantarnya ke parkiran nanti, saya sedang ada urusan lain." Menarik pelan tangan Lyra.


"Lho, kok nggak bayar?" tanya Lyra kebingungan.


"Tidak perlu, Erick akan merasa direndahkan kalau aku melakukannya," jawab Reyhan lalu berjalan keluar sambil menggandeng tangan Lyra. Merekapun berlalu.

__ADS_1


"Sudah lama aku tidak melihatnya dia semakin tampan saja, tapi siapa wanita yang disampingnya tadi." Seorang karyawati yang paling belakang membuka suaranya.


"Kamu enggak tahu ya, itu istrinya tahu," jawab salah satu karyawati.


"What? Si tampan Reyhan sudah menikah. Kenapa aku tidak tahu dan juga kenapa dia menikah di usia muda? Istrinya terlihat sangat sederhana apa dia dari kalangan anak konglomerat." Memelotot kaget.


"Hush! Pelankan suaramu, kamu sama sekali tidak tahu gosip ya, istrinya hanya dari kalangan orang biasa saja. Ku dengar dia sempat jadi guru PPL di sekolah ah tepatnya di kelas Reyhan. Masih jadi misteri kenapa Reyhan memilihnya menjadi istri." Berbicara serius.


"Jangan-jangan dia di pelet lagi."


"Ah kalian ini kerjaannya menggosip saja, janga suudzon jadi orang. Urus diri masing-masing." Seorang karyawati mendorong trolly nya lalu menyerahkannya kepada karyawati lain untuk membungkusnya.


"Ayo! Kita bubar-bubar." Berjalan mengikuti karyawati tadi dan akhirnya mereka pun bubar dan sibuk merapikan pakaian-pakaian pesanan Reyhan.


::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


"Rey, aku rasa semuanya sudah lebih dari cukup, mainan juga tidak terlalu diperlukan, yang penting pakaiannya sudah terbilang banyak jadi-"


"Ssst, bagimu memang mainan tidak terlalu diperlukan tapi pernahkah kamu berpikir para balita ingin menghabiskan hari-hari mereka hanya untuk bermain. Perasaan orang dewasa dan anak-anak tidaklah sama. Jadi beli mainan tapi aku akan memberikan mereka mainan yang lain maksudku lebih bergunalah untuk mereka." Tersenyum menarik tangan Lyra pelan menuju sebuah toko serba-serbi.


"Buku gambar?" Memelotot tidak mengerti.


"Ya, mereka bisa bermain sambil belajar bukan, mereka tidak sekolah tapi harus tetap ada asupan ilmu. Terlebih dahulu kenalkan mereka pada warna." Menunjukkan kotak pensil warna.


"Wah, kamu benar sekali, aku ingat sekali mengajar mereka bermain bola, bernyanyi dan boneka. Aku tidak kepikiran untuk mengajari mereka bermain sambil belajar." Menatap Reyhan kagum.


"Dan yang ini untuk mengenalkan mereka pada yang namanya huruf. Agar mereka tidak jenuh pilih yang buku yang bergambar saja pasti mereka akan bersemangat. Dan untuk para remaja kita akan membelikan-"


"Mereka juga belum tahu menulis, membaca dan menghitung mereka benar-benar tidak pernah diajarkan untuk itu." Lyra memotong perkataan Reyhan.


"Benarkah? Apa panti asuhannya sangat kecil?" tanya Reyhan.


Lyra menganggukan kepalanya, mengiyakan pertanyaan Reyhan.

__ADS_1


"Mengapa bisa begitu? Apa tidak ada para donatur yang datang? Atau-"


"Yang datang hanya para warga yang juga hidupnya sederhana dan berkecukupan saja dan kami para mahasiswa hanya bisa memberi berapa yang semampu kami saja dan selain itu kami hanya memberikan bantuan tenaga saja. Panti asuhan itu bahkan tidak pernah didatangi oleh para orang kaya sepertimu Rey." Menatap dalam pada Reyhan, sebenarnya Lyra enggan mengatakannya tapi itulah kenyataannya.


Reyhan terdiam sejenak ia tertegun mendengar penjelasan dari Lyra.


"Tunggulah disini, aku ingin ke toilet sebentar." Melepaskan tangan Lyra lalu berjalan menuju arah toilet.


Padahal aku berharap dia akan berbaik hati menjadi salah satu donatur tapi dia memang tidak memikirkan perasaan orang sama sekali. Ya sudahlah Lyra harta yang ia miliki kau tidak berhak mencampurinya. Batin Lyra sambil memasukkan buku-buku yang ia pilih ke dalam keranjang.


Beberapa menit berlalu Reyhan kembali dan langsung mengajak Lyra pergi.


"Bukankah kita membeli buku-buku ini untuk mereka?" tanya Lyra keheranan.


"Lupakan saja ini, kita harus pergi kesana sudah tidak banyak waktu lagi, perjalanan kesana cukup memakan waktu belum lagi melewati kemacetan." Reyhan menarik tangan Lyra dan berjalan gergesa-gesa.


:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


"Apa kamu marah?" tanya Reyhan melirik Lyra yang sedari tadi hanya memandangi jalanan luar jendela mobil. Lyra menutup rapat mulutnya tidak menjawab pertanyaan Reyhan.


"Lyra, kenapa kamu mengabaikan pertanyaanku?" tanya Reyhan lagi.


"Tadinya beli ini beli itu tiba-tiba batal, kalau kamu jadi aku. Apa kamu marah?" Tetap tidak menoleh pada Reyhan, wajahnya terus mengeluarkan kerutan kasar kekesalannya memang tak bisa ia bendung lagi.


"Aku tahu tapi disana kita akan-"


"Sudahlah Rey, aku lelah berdebat denganmu. Aku selalu mengalah untuk beberapa hal yang sebenarnya aku sangat ingin menentang. Tapi mengingat statusku yang sebagai istri aku tidak punya daya apa-apa jadi lakukan apa yang kamu mau dan terus perlakukan aku sebagai boneka yang kamu mainkan sesuka hatimu." Menyenderkan tubuhnya merasa muak.


Ternyata dia tersiksa dengan perlakuanku. Aku tidak tahu karena aku selalu berusaha membuatnya sebahagia mungkin di dekatku. Tidak disangka kenyataannya berbalik dengan yang aku harapkan. Batin Reyhan tak berkutik begitu mendengar keluhan dari Lyra.


Selama di perjalanan tak ada satu dari mereka yang mengeluarkan suara. Yang satu masih merasa kesal dan yang satu lagi merasa bersalah memilih diam tidak ingin memperpanjang masalah.


Sekitar 1 jam 40 menit mereka pun sampai dan benar saja macet yang lumayan parah melanda Ibukota Jakarta.

__ADS_1


Reyhan membuka sabuk pengaman Lyra, namun Lyra lebih dulu membukanya dan segera keluar dari mobil. Wajah yang masih kesal tidak bisa dia tahan bahkan napasnya tersenggal-senggal menahan amarah yang bersarang.


"Tunggu sebentar." Reyhan memegang tangan Lyra membuat langkah istrinya itu terhenti.


__ADS_2