MY BERONDONG

MY BERONDONG
LYRA VS MARTA....


__ADS_3

"Lyra."


Lyra dan Reyhan bangkit dari pembaringan yang terlihat indah setelah mendengar seseorang memanggil namanya.


"Kak Fardan." Memelotot kaget.


Fardan tampak bingung dengan pemandangan yang berada tepat di depannya. Sementara itu Lyra tampak panik dan kehabisan kata-kata berbeda dengan Reyhan yang tampak santai dan tenang.


"Kebetulan jumpa disini, eh ada Reyhan juga kalian berdua sedang apa kemari dan hubungan kalian ini-


"Baiklah Kak Fardan sebenarnya aku dan Reyhan-


"Kami sedang olahraga bareng tadinya bareng Erick tapi dia sedang pergi beli cemilan. Kebetulan jumpa dengan kak Lyra dan kak Siska hanya saja kak Siska tiba-tiba ada urusan mendadak jadi dia pulang. Dan yang tadi itu kaki kami sama-sama kram jadi kak Lyra mengajarkan saya cara peregangan yang baik." Reyhan memotong perkataan Lyra yang hampir saja mengakui hubungan mereka.


"Oh begitu ya, ah ternyata otakku yang salah maaf tadi aku sempat berpikir yang tidak-tidak," ujar Fardan sambil tersenyum.


"Kak Fardan sedang apa kemari?" tanya Lyra.


"Ini, tadi aku juga sedang olahraga tapi tiba-tiba ada panggilan mendadak dari rumah. Entahlah aku juga sedang buru-buru aku duluan dulu ya Lyra, Rey." Tersenyum sambil melambaikan tangannya lalu berlari. Saat ia berbalik wajah yang tadinya tampak ramah berubah seketika.


Cepat atau lambat aku akan menghancurkanmu Reyhan Almirza kau akan kalah kali ini. Batin Fardan.


"Kamu kenapa sih harus berbohong lagi? Kenapa ga jujur saja? Kamu aneh Rey saat dia ada kamu melarangku mengatakannya. Akan tetapi saat dia tidak ada cemburu butamu itu muncul kamu ini kenapa harus menyiksaku seperti ini sih?" Menatap kesal pada Reyhan.


"Suatu hari kamu akan mengerti, tapi yang pasti saat ini dia tidak boleh tahu hubungan kita itu akan membahayakanmu." Mencoba menjelaskan tapi takut Lyra tidak mempercayai perkataan Reyhan.


"Kamu sedang mengada-ada Rey, aku benci padamu aku mau pulang saja mood ku hilang." Berjalan pergi meninggalkan Reyhan dengan raut wajah penuh kekesalan.


Reyhan berjalan menuju parkiran mobil, ia pun melajukan mobilnya.


"Naiklah, aku akan mengantarmu ke rumah." Menatap Lyra lewat jendela mobil.


"Tidak akan." Mengalihkan pandangannya.


Reyhan pun turun dari mobil ia menggendong tubuh Lyra lalu masuk ke dalam mobil.


"Rey aku mau ke kursi sebelah saja," ujar Lyra yang sedang berada di atas pangkuan Reyhan.


"Rey gimana kalau ada yang lihat, ini tidak enak untuk dipandang orang lain." Merasa canggung.


Tiba-tiba mobil yang dibawa Reyhan tidak sengaja menghantam sebuah batu berukuran sedang membuat Lyra terkejut dan tak sengaja menyematkan wajah Reyhan erat tepat di bagian dadanya. Reyhan membuka matanya, pipi Reyhan dilindungi oleh 2 benda kembar dan kenyal milik Lyra. Reyhan menahan napasnya, ia menekan tombol klakson untuk membuat Lyra menyingkir darinya.


"Ah apa aku bilang? Kalau seandainya tadi kamu biarkan aku duduk di sebelah pasti nggak bakal ada kejadian seperti ini." Pindah ke kursi sebelah.


"Sudahlah, jangan dibahas lagi." Wajah masih memerah terbayang kejadian barusan.


Reyhan kembali menyetir mobilnya, selama di perjalanan tak satu pun dari mereka yang berbicara suasana hening itu tentu saja terasa sangat menyiksa.


Mobil berhenti, tanpa ragu Lyra pun turun dari mobil, Reyhan belum pergi ia selalu menunggu Lyra masuk barulah ia pulang.


"Lyra," panggil Reyhan.


Lyra berbalik, tampak Reyhan berjalan ke arahnya.

__ADS_1


Dia mau ngapain, kenapa aku jadi deg-degan begini sih. Batin Lyra salah tingkah menyaksikan Reyhan yang terus berjalan menghampirinya.


"Aku tidak minta apapun tapi di pagi hari menjelang siang ini, aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Apa kamu benar-benar serius menyukaiku?" tanya Reyhan.


"Ah apa lagi sih ini kamu-


Reyhan berlutut tampak sebuah kotak kecil berwarna merah di tangannya.


"Lyra aku yang seperti ini ingin menikahimu. Apa kamu bersedia menjadi istriku?" Kalimat yang keluar dari mulut Reyhan membuat Lyra terkejut seakan tak percaya.


"Terima-terima, terima-terima!" Terdengar teriakan serta tepuk tangan dari orang-orang yang entah kapan datangnya.


"Lyra! Terima atuh Neng kasihan tu kakinya si Reyhan!" teriak Siska yang tak kalah hebohnya.


Lyra meraih tangan Reyhan untuk bangkit dari berlututnya. Sambil mengeluarkan air mata ia menganggukkan kepalanya serta tersenyum bahagia.


"Aku mau Rey, aku mau jadi istri kamu." Memberikan jarinya untuk dipasangkan cincin putih yang didesain khusus untuknya.


Mereka pun berpelukan, Reyhan tak sadar mengeluarkan beberapa titik air mata. Ia tidak menyangka telah menyematkan cincin tersebut ke jari manis wanita yang sangat ia sayangi itu. Orang-orang yang melihat bertepuk tangan kegirangan seolah ikut hanyut ke dalam perasaan dua sejoli itu.


::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


"Nggak bosan apa liatin cincin itu terus?" tanya Lyra keheranan melihat Siska yang bolak balik melihat cincin miliknya.


"Neng kira-kira Redro bakal semanis Reyhan nggak ya? Aku kan juga pengen." Menatap ke arah Lyra dengan memelas.


"Hush nggak boleh bilang begitu, masing-masing orang punya cara yang berbeda dalam memperlakukan kekasihnya. Jangan disama-samain nggak baik tahu." Merebut cincin tersebut dari tangan Siska.


"Iya sih maklumlah aku terlalu terbawa perasaan lihat momen indah tadi. Ahhh! Hampir gila rasanya kalau tiba-tiba Redro melamarku, aku akan berteriak sekencang-kencangnya Ra," ujar Siska.


"Ada kata-kata yang lebih baik lagi nggak? Itu terlalu menyakitkan, Ra."


"Itu paling baik Siska sayang," ujar Lyra lembut.


"Oh jadi seperti itu panggilanmu pada Reyhan wah pantas Reyhan betah kedengarannya mesra banget," sindir Siska.


Aku belum pernah memanggil dia dengan sebutan kata sayang sebelumnya tapi mendengar Siska berbicara seperti itu, aku jadi penasaran. Besok-besok aku coba ah. Batin Lyra sambil tersenyum.


_________________________________


"Reyhan! Dari mana saja kamu hari ini?" Suara yang perlahan meninggi sontak terdengar dari mulut Marta yang menatap Reyhan dengan penuh amarah.


Reyhan yang biasanya terlihat cuek kali ini ia malah berjalan menghampiri Marta dengan sorot mata penuh kebencian yang tidak bisa ia singkirkan.


"Hari ini aku telah melamar Lyra, kekasihku." Melipat kedua tangannya.


"Kamu mengabaikan aku Rey, kamu sudah keterlaluan!" teriak Marta.


"Apa untungnya aku berbaik hati mengikuti saranmu itu?" tanya Reyhan berusaha tenang.


"Kamu, aku akan membuatmu menyesal Rey, aku akan membuatnya tidak bahagia!" teriak Marta.


"Apa yang Anda inginkan harta, jabatan dan fasilitas mewah apakah itu belum cukup? Dan sekarang Anda mau mengatur hidup saya, memangnya Anda siapa?" tanya Reyhan.

__ADS_1


"Apa maksudmu dengan menyinggung harta, jabatan dan fasilitas mewah?" tanya Marta memelotot heran.


"Usiaku kini sudah menginjak 18 tahun, jangan lupa seluruh aset yang Anda miliki sekarang semuanya atas namaku. Anda hanya menjalankannya, tapi kalau Anda ingin berhenti katakan kapan saja Anda mau , saya dengan senang hati akan mencari pengganti Anda," jelas Reyhan.


"Reyhan, tidakkah kamu takut telah menjadi anak durhaka?" tanya Marta.


"Anda yang telah memulainya sebagai orang tua yang durhaka terhadap saya, menurut Anda apa yang Anda rasakan saat itu. Meninggalkan saya mengabaikan telepon dari saya dan menatap benci kepada saya. Bukan saya yang menginginkan kecelakaan itu terjadi, saya juga butuh perhatian dari Anda saat itu. Akan tetapi apa yang saya dapat, Anda dengan sombongnya pergi tanpa sepatah katapun. Setiap hari saya menangis meratapi gundukan tanah yang berisikan orang yang saya cintai menatap potonya yang sedang tertawa mungkin itu yang sedang dia rasakan disana. Ya, dia sedang bahagia di surga berbeda denganku seorang anak yang setiap hari hidup dengan orang asing, yang setiap hari merasakan iri melihat anak seusia saya bercengkrama dengan ibunya." Air mata yang tak dapat dibendung Reyhan pun mengalir dengan derasnya, hidungnya pun memerah.


Tubuh Marta seketika melemah ia pun terjatuh merasakan betapa sakitnya menjadi Reyhan kala itu, rasa penyesalan pun terlihat ketika air mata itu mengalir di pipinya. Bibirnya bergetar napasnya terdengar,sesak.


"Sekarang setelah semua yang Anda lakukan pada saya dengan gampangnya Anda mengatur masa depan saya serta melarang saya memiliki hubungan dengan Lyra hanya karena dia miskin. Saya akui dia miskin tapi sifat dan etikanya lebih baik dari Anda. Dan satu lagi dia selalu berusaha ada untuk saya jadi tolong! Ini kebahagiaan saya jangan pernah merusaknya, saya sudah lelah dipermainkan." Reyhan berbalik langkahnya terasa berat ia pun berlari menuju kamarnya.


Tidak, dia anakku kenapa aku sangat egois dia Reyhanku. Bukan ini yang aku inginkan bukan hal seperti ini yang aku mau aku benci membuatnya menangis, kenapa aku begitu bodoh maafkan aku, aku terlalu malu seandainya saat itu aku pulang lebih cepat mungkin saat ini aku bisa merasakan pelukan darimu, aku menyayangimu Nak! Kamu anak yang paling aku banggakan. *M*aafkan aku yang memilih diam maafkan aku yang memilih berlaku kejam aku takut menambah beban pikiranmu, aku takut pendidikanmu terhambat karena aku. Kamu tidak tahu Nak saat aku mendengar kamu kecelakaan hatiku sakit, aku diam-diam datang menjengukmu, padahal keadaanku pun sedang tidak baik, aku sengaja menyuruh orang lain merahasiakannya karena kalau kamu tahu aku datang, kamu pasti akan berharap dan melakukan hal-hal yang membahayakan lainnya aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Batin Marta.


:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


"Reyhan nggak datang Ra?" tanya Siska.


Lyra menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?" tanya Siska lagi.


"Katanya kakinya masih terasa kram karena olahraga tadi, padahal aku lihat dia baik-baik saja. Aku yang kram saja sudah mendingan."


"Sudahlah, Ra mungkin dia kelelahan atau mungkin dia merasa malu kali karena tadi siang dia melamarmu secara tiba-tiba seperti itu." Menepuk punggung Lyra pelan.


"Entahlah aku malah berpikir saat ini dia sedang berdebat dengan ibunya, aku takut dia tidak bisa mengontrol emosinya, Sis."


"Biarkan saja, habis mamanya kasar begitu kok aku ya Ra-


"Permisi." Tampak sosok Marta berdiri di depan pintu.


"Eh! Orangnya datang, ups," ujar Siska sambil menutup mulut ceplas-ceplosnya.


Lyra pun berdiri seluruh tubuhnya tiba-tiba terasa kaku.


"Bisa bicara berdua di luar?" tanya Marta.


"Apa?"


BERSAMBUNG...


Tebak-tebakan lagi yuk


Apa yang akan dilakukan Marta pada Lyra ?


dijawab ya di kolom komentar


Terima Kasih Sudah Membaca jangan Lupa Like, Komen dan Vote.


Eits klo ada poinnya Luv u Readers


šŸ˜šŸ˜šŸ˜

__ADS_1



__ADS_2