MY BERONDONG

MY BERONDONG
BISA GILA AKU (Rania)


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Malam itu, sangat sulit bagi Rania memejamkan mata. Ia terbayang-bayang akan suasana tempat Erick melamarnya menjadi kekasih sekaligus tunangannya.


Rasanya seperti mimpi, malam ini ia takut begitu memejamkan mata semua berubah. Ia takut kalau yang ia rasakan kini berubah menjadi mimpi.


Diraihnya ponsel dari atas nakas. Memeriksa apakah ada kabar dari Erick ternyata tidak sama sekali. gadis itu mendesah, sembari jari-jemarinya mulai memencet, berniat mengirim Erick pesan.


Baru mengetikkan beberapa kalimat, gadis itu segera menghapusnya kembali. Itu terjadi berlangsung lama hingga akhirnya gadis itu pun menyerah dan bertekad kali ini ia tidak akan menghapusnya.


"Nggak mungkin banget dia balas, jangankan balas baca pesan jam segini saja belum tentu." Rania bergumam.


Tring!


"Apa kamu, mau ke luar? " Erick.


Rania membalalakkan kedua matanya, "dia membalasnya!"


"***Kamu kok belum tidur?" Rania. ***


"Aku nggak bisa tidur, rasanya sangat sepi!" Erick membalas.


Tawa kecil muncul di sudut bibir gadis itu. Ia pun meletakkan ponselnya ke sembarang tempat. Ia bingung membalas pesan Erick lagi.


Rania mengusap-usap cincin yang tersemat di jemarinya.


"Terima kasih karena telah memilihku Kak, aku sangat senang sekarang."Rania mengecup cincinya.


Sementara itu, ternyata Erick pun tidak kunjung tidur. Pikirannya melayang, kadang ia tertawa-tawa sendiri lalu mendesah lega. Perasaannya tersampaikan kini, tinggal memberi penjelasan kepada sang papa, Chris Rojali.


Denting jam berbunyi kuat, menarik perhatian Erick melihat jarum jam antik itu. Sudah tengah malam rupanya, Erick mulai mengatur suhu AC ruangan kamarnya lalu mematikan lampu, tak lupa juga ia menarik selimut.

__ADS_1


"Selamat malam semua," ucapnya, menyapa pembaca.


...----------------...


Rania mengucek matanya, terdengar jelas suara Marta yang tengah menelepon seseorang, entahlah siapa gerangan yang menelepon dini hari. Tetapi, hal ini sering terjadi, yang Rania tahu itu mengenai perusahaan.


"Kalau dipikir-pikir Kak Reyhan dan Kak Lyra nggak pernah menelepon Mama? Apa terjadi sesuatu?" Rania bertanya-tanya.


Rania menghardik ponselnya dari atas nakas, memeriksa pesan terakhir antara ia dan Lyra.


Tiga bulan yang lalu, rasanya aneh pesan yang Rania kirim tak kunjung dibalas Lyra. Gadis itu segera bangkit lalu bergegas masuk kamar mandi. Tak lama kemudian, gadis itu keluar dengan wajah basah lalu keluar kamar.


Ia menuruni tangga, menghampiri sang mama. Di sana ternyata bukan hanya Marta ada nenek Rania juga.


"Lho, Nenek kok sudah bangun?" Tanya Rania sembari memijit pelan sang Nenek.


"Sudah bangun, Nduk? Jam berapa ke kampus?" tanya sang Nenek lembut.


Rania duduk, memijat kaki sang nenek. Sang nenek mengusap lembut puncak kepala cucunya, sebagai balasan perlakuan manis Rania.


"Ke kampus jam 10 Nek," jawab Rania.


Sang nenek tersenyum, "Rania sekarang sudah semakin tinggi ya... Dulu, segini." Memperlihatkan postur tubuh Rania dengan tangannya.


"Nenek, aku kan sudah berusia 20 tahun, wajar semakin tinggi. Dan lagipula... Banyak makan hehehe...." Menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Ekor mata Rania melirik Marta yang masih berceloteh dengan ponselnya.


Mama pasti capek, mengurusi perusahaan dan juga masih sempat menghabiskan waktu denganku dan nenek.

__ADS_1


"Nek, aku buatin mama teh dulu ya. Kasihan, pasti mama haus," ujar Rania yang diangguki sang nenek.


Rania bergegas ke dapur, ia pun membuatkan teh hangat serta roti bakar untuk Marta. Tak berseleng lama, ia pun menghampiri wanita paruh baya itu dengan nampan di tangannya.


"Sarapan dulu, Ma," ucap Rania pelan yang dibalas senyuman oleh Marta.


Setelah meletakkan nampan tersebut, gadis itu pun berlalu pergi, mempersiapkan diri ke kampus.


Erick menikmati sentuhan hangat mentari pagi. Ya, lelaki itu kali ini menjemput Rania yang bersiap pergi ke kampus.


"Kak," panggil Rania, membuat Erick menatap ke arahnya.


Senyuman gadis itu sangat mempesona. Tampak manis dengan matanya yang berbinar indah, satu hal yang Erick tangkap, gadis itu hari ini memakai riasan tipis.


"Kakak, nggak ngomong loh mau jemput," ujar Rania sembari mengerutkan dahinya, kesal.


"Aku rindu," ucap Erick sembari membukakan pintu mobil untuk kekasihnya itu.


Rania tak bisa berkata-kata, gadis itu sangat salah tingkah dan menurut masuk ke dalam mobil. Tak lama Erick menyusul masuk di bagian kemudi.


Erick mendekati Rania, "keselamatan itu perlu lho," ujar Erick seraya memasang Seat belt pada Rania.


Rania menahan napasnya ketika, hidung mancung Erick tak sengaja menyentuh hidungnya.


"Cantik," ucap Erick lembut, tersenyum lalu mulai mengemudikan mobil.


Rania menghela napas pelan.


Bisa gila aku.

__ADS_1


__ADS_2