
Rania mengeringkan rambutnya dengan handuk mini. Palaiannya masih basah, kini ia berteduh di dalam perpustakaan yang terletak di pinggiran kota.
Tadinya Erick bersamanya, tapi lelaki itu pamit membeli kopi. Namun, sudah 20 menit lelaki itu tak kunjung muncul.
Rania melirik hujan semakin derasnya, pikirannya melayang kejadian beberapa menit lalu berputar di kepalanya. Berawal dari hujan yang tiba-tiba turun padahal hari cerah, Erick yang tiba-tiba muncul dengan payung serta rangkaian ocehan Erick yang kini terdengar spesial di hati Rania.
Rania kini bingung, antara bahagia atau takut. Senang Erick datang, takut jika perasaannya semakin dalam.
Tak! Ketukan di meja membuat Rania terlonjak kaget.
"Menghayal terus...." Suara Erick ikut menimpali suara tadi yang ternyata lelaki itu membawa beberapa bingkisan.
Rania menyentuh salah satu paper bag di depannya, "Apa ini Kak?"
"Gua nggak tahu ukuran Lu, jadi bawa semuanya Lh coba satu persatu." Duduk, lalu menyeruput kopi yang ia bawa.
Rania mengulum senyum, ia pun beranjak pergi. Erick memainkan ponselnya. Tiba-tiba, pikirannya mengarah pada kejadian tadi. Rania menangis, ada apa? Kenapa?
Pikiran Erick benar-benar tengah kacau, bertanya bukan saat yang tepat. Namun, laki-laki itu sungguh dibuat penasaran.
Tring!
Pesan dari Reyhan mendarat di ponselnya.
"What's? Apa dia memata-mataiku?" Memandangi satu persatu orang yang berada di ruang yang sama dengannya.
Sejenak, lelaki itu tersenyum licik, mengetikkan beberapa kalimat kemudian mengirimnya sebagai balasan pesan dari Reyhan.
Tak berselang lama, balasan dari Reyhan muncul. Isinya membuat Erick seketika bergidik.
"Dasar psikopat Lu!"
Dan lagi-lagi pesan dari Reyhan pun masuk.
Berani mengataiku, kukuliti kau sampai mati.
Erick frustasi, segera ia mematikan ponselnya.
"Kak, maaf menunggu lama." Rania sudah memakai salah satu pakaian yang Erick dibelikan. Sebuah kemeja dengan oversize yang bawahannya sebagian dimasukkan ke dalam celana.
Penampilan Rania membuat Erick terpukau.
Kukuliti kau sampai mati!
"Sial," umpat Erick ketika isi pesan Reyhan mengutarakan di kepalanya. Segera, ia mengedarkan pandangannya ke tempat lain.
"Apa kamu lapar?" tanya Erick sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
Sebenarnya, Rania menyadari pergerakan Erick yang jelas salah tingkah. Tetapi, gadis itu lagi-lagi menepis jauh-jauh pikirannya itu.
"Hello? Hobby banget ya melamun begitu. Aku tanya kamu mau makan atau nggak?" Erick melambaikan tangannya.
"Ah, oh iya Kak." Rania tersadar lalu duduk kembali. "Terserah Kakak saja, yang penting makanannya hangat."
"Yakin nih, nggak ada gitu yang kamu suka?"
__ADS_1
Lagi-lagi dia menyebutkan kata kamu.
Sepertinya, Erick tidak sadar ada yang berbeda dari gelagat bicara serta panggilannya terhadap Rania.
"Udah deh terserah Kakak saja, aku lagi malas mikir." Membuka lembaran buku-bukunya yang basah, kemudian mengipasinya lembar demi lembar.
Erick sudah pergi, Rania menyenderkan punggungnya, melihat langit-langit perpustakaan. "Rasanya sangat melelahkan, bukan hanya ragaku, hatiku juga sudah lelah. Perasaan suka yang kian hari kian mengganjal."
Tiba-tiba, Erick menutupi langit-langit itu dengan wajahnya. Pandangan mereka bertemu, tak sedetik pun berkedip, seperti sedang berinteraksi dalam diam.
Duar!
Suara petir menggelar, segera mereka tersadar menjauhkan pandangan mereka dari satu sama lain.
"Ini, makanlah dan ini minyak angin. Kopinya hampir dingin mending habisin saja langsung," ujar Erick.
Dia ini kenapa jadi lembut sekali?
Rania mengambil roti yang masih hangat di depannya. "Ah!" Meringis sakit ketika lumeran cokelat pada roti menyentuh lidahnya.
Erick segera menyodorkan air mineral, "jelas-jelas tadi aku minta yang tanpa lumeran cokelat. Percuma tadi aku bayarin orang biar bisa potong antrean!" Berdiri memasang muka marah.
Rania menyentuh tangan Erick, "eh Kak sudah...Aku nggak apa-apa! Aku yang makannya terlalu terburu-buru! Ini, aku makan lagi ya! Enak!" seru Rania, mencubit satu persatu roti tersebut..
"Enak ya, aku mau juga dong!" Memajukan wajahnya minta disuapi.
Namun, lagi-lagi Rania takut salah mengartikan tindakan itu. "Kan ini masih banyak Kak." Menunjukkan bingkisan yang berisikan roti-roti lainnya.
Erick mendesah, "aku mau yang kamu makan itu!" Menunjuk roti yang tengah dimakan Rania.
Rania mengerutkan dahi, roti yang ia makan sekarang membuatnya jatuh hati. Rasanya enak dan lmcokelatnya lumer di mulut. Rasanya melayang.
Erick menyerah, "hujan sudah reda, bersiap-siaplah untuk pulang." Bangkit lalu beranjak ke luar.
Raut wajah Rania mendadak sedih, "aku belum mau pulang. Maksudku, bilakah kita menghabiskan hari ini hanya berdua?" Menatap Erick dari jendela. Rania pun bangkit, ketika Erick melambaikan tangannya.
Di dalam mobil, Rania sama sekali tak berkutik. Ia hanya menatap kosong jalanan yang mereka lewati.
"Kenapa diikat?" tanya Erick saat Rania ingin mengikat rambutnya.
"Rambut basah tunggu kering dulu dan lagipula kamu lebih cantik. "
Wajah Rania memerah, ia malu sekarang dan kembali memandangi jalanan.
"Sudah sampai." Erick membuka seatbelt, lalu ke luar.
Rania baru menyadari bahwa Erick tidak membawanya pulang melainkan ke sebuah pantai yang belum pernah ia kunjungi.
Rania yang introvert sangat tidak suka membuka diri. Oleh sebab itu, Erick berusaha selalu ada untuk menghiburnya. Terlebih lagi karena itu permintaan kecil dari Reyhan.
Rania membentangkan tangan menikmati angin laut serta deburan ombak yang lumayan kuat.
Suasana pantai yang sepi membuat jiwa Rania tenang dan bebas.
"Kamu suka?" tanya Erick yang langsung diangguki Rania.
__ADS_1
Gadis itu tertawa lepas, "tumben, hari ini Kakak baik sekali."
"Apa biasanya aku jahat ya?" tanya Erick lagi, Rania menggeleng.
"Enggak kok Kak, biasanya sih baik cuma kan agak jail. Ups! Keceplosan." Menutup mulutnya tapi tetap menyengir mengejek.
"Oh, gitu...." Memasang wajah tak peduli.
Tiba-tiba...
Pak! Erick menepuk pelan kepala Rania. Kemudian, ia pun berlari.
"Ih Kakak, jahat banget deh!" Memasang wajah kesal, mengejar Erick.
Erick pun mengejek sambil berlari mundur, Rania berusaha menangkapnya tapi tak kunjung dapat.
Tiba-tiba. Erick tersandung dan tak sengaja tangannya menarik Rania. "Ah!" teriak mereka bersamaan.
Keduanya sama-sama terjatuh bahkan tubuh Erick tertindih oleh Rania. Bukan itu masalahnya, bibir mereka menempel. Mereka saling berpandangan, jelas sangat panik, tetapi bukannya saling melepaskan keduanya malah terhanyut pada pandangan masing-masing.
Duar! Petir di siang bolong datang dengan tiba-tiba. Mereka tersadar, segera Rania bangun. "Maaf Kak," ucapnya.
Erick bangkit, "harusnya, aku yang minta maaf seandainya aku tidak menjailimu."
Mereka berlagak seperti tidak terjadi apa-apa. Tetapi, hati mereka siapa yang tahu.
...****************...
Malam panjang itu, Erick terjaga pandangannya mengarah pada hujan yang tak kunjung berhenti. Di pangkuannya ada Kareena yang sedari tadi tidak ia pedulikan.
Tiba-tiba, senyumannya mengembang tetapi sesaat kemudian ia terlihat salah tingkah, malu.
"Kareena, aku menyukai adik temanku. Bagaimana pendapatmu?" Menatap Kareena, tetapi Kareena tak merespon, ia segera pergi dan tak menoleh.
"Hei! Reaksi apa itu? Boleh atau tidak?"
"Ah! Sadarlah Erick, tujuanmu ke sini bukan untuk itu! Suka? Bukan, harusnya bukan itu yang terjadi." Bergumam-gumam.
Cukup lama lelaki itu mengoceh, menyangkal perasaannya terhadap Rania. Tanpa sadar lewat tengah malam lelaki itu tak kunjung juga tidur.
Sudah lewat 3 minggu, Rania menjalani hidup sendiri. Rasanya jelas berbeda, tak ada Erick tak ada kejailan dan penghiburan yang ia rasakan. Rasanya sepi, seharusnya ia bahagia tapi perasaannya tak dapat dibohongi ia jelas sangat kesepian.
"Haaa... Akhirnya aku ke sini. Apa yang kupikirkan?" Menatap gedung apartemen yang menjulang tinggi. Ia pun berbalik hendak pergi namun terhenti "sudah sampai ke sini rasanya tanggung untuk pergi. Anggap saja sebagai menjenguk saudara." Berjalan menuju apartemen tempat Erick tinggal.
Ia pun menaiki lift menuju lantai 21. Kini, pintu tempat Erick sudah di depan mata, tak disangka pintu itu dibiarkan terbuka. Pikiran Rania melayang, takut terjadi sesuatu gadis itu berjalan masuk.
"Tahan Kareena, ini nggak akan sakit." Terdengar suara samar Erick berasal dari kamar.
Kareena? Dia di kamar dengan Kareena
"Akhirnya, awalnya deg-degan sekali. Ini pertama kalinya aku melakukannya." Kali ini terdengar suara perempuan dengan aksen Amerika.
Rania menutup mulutnya.
Erick terkekeh, "baiklah lain kali kalau aku butuh, aku akan menggunakan jasamu."
__ADS_1
Tak tahan mendengar percakapan mereka, Rania segera beranjak. Tepat di pintu depan ia berhenti, menatap heels yang pastinya milik wanita itu. "Harusnya dari awal aku melihatnya, sudah pasti aku tidak akan mendengar percakapan kotor itu. Ah, tidak harusnya aku tidak perlu khawatir padanya. Karena, baginya aku hanya seorang adik teman tidak lebih." Beranjak pergi, dengan air mata yang menganak.
......................