MY BERONDONG

MY BERONDONG
JADIAN.....


__ADS_3

Hari senin pun tiba, hari yang paling menegangkan bagi para siswa SMA. Bagaimana tidak, UAN yang digadang-gadang menakutkan itu tiba.


Tiba-tiba pandangan para siswa-siswi beralih ke arah mobil silver yang baru memasuki gang sekolah. Ya, mobil itu milik Reyhan yang sudah mereka nantikan kedatangannya akhirnya menampakkan diri.


Mereka berbondong-bondong mendekati mobil tersebut. Yang berada di parkiran berharap tidak melewatkan sedikitpun wajah Reyhan yang sangat mereka rindukan itu.


Mengingat tidak ada ancaman lagi untuk mereka mendekati Reyhan karena biasanya selalu ada Feronica yang setiap hari selalu meneror siapapun yang berusaha merebut Reyhan darinya.


Bukan main ternyata Reyhan membawa 3 pengawal miliknya. Baru juga kaki Reyhan yang menapak ke tanah mereka sudah sangat histeris, jeritan seolah mendapat uang turun dari langit itu pun pecah.


Reyhan turun dan wajahnya seolah membuat orang yang melihatnya seakan merasa berhalusinasi tinggi. Erick yang sedari tadi menunggunya pun menghampirinya, mereka berjalan membelah kerumunan yang padat itu. Tak sedikit dari mereka yang mengambil potonya dan langsung membagikannya di berbagai media sosial yang mereka punya.


"Lu selalu menjadi racun Rey, gua bangga punya sahabat kayak lu," ujar Erick.


Reyhan tidak menjawab pandangannya terfokus pada jalan dan pikirannya pun dihantui Lyra kemana ia menoleh bayangan Lyra seolah ada di sana.


3 hari tidak bertemu, apa yang dia lakukan begitu aku menyelesaikan ujian yang menyebalkan ini, aku akan menemuimu Lyra, aku sangat merindukanmu. Batin Reyhan dilanda rindu berat.


"Gua balik ke kelas dulu ya, gua yakin lu akan menjadi pemenangnya," ujar Erick lalu beranjak pergi.


"Kalian tunggulah disini apapun yang terjadi di dalam jangan masuk kecuali aku memanggil," ujar Reyhan.


Mereka mengangguk lalu menunduk patuh dengan perkataan Reyhan.


Reyhan berjalan memasuki kelasnya, lalu para siswa-siswi yang bukan sekelas dengannya dilarang masuk karena UAN akan segera dimulai. Reyhan pun menyandarkan tubuhnya ke sudut kursi yang sudah 2 minggu tidak ia duduki itu, pandangan teman sekelasnya beralih ke arahnya terpancar kesenangan di wajah mereka karena Reyhan yang mereka kagumi itu sudah berada di kelas bersama mereka kembali.


"Permisi semua saya ibu Nara guru dari sekolah SMAN 007 akan menjadi pengawas hari ini jadi tolong kerjasamanya. Jika ada ketahuan mencontek punya temannya dan punya kunci jawaban tidak akan ada ampun." Seorang guru perawakan paruh baya itu pun berjalan membagikan kertas ujian. Sebagian dari mereka berusaha setenang mungkin dan sebagian lagi mengerutkan dahinya menganggap soal ujian tersebut lumayan sulit.


"Kamu Reyhan Almirza, aku akan mengawasimu," ujar Nara sinis.


Reyhan tidak mempedulikan perkataan yang dianggap tidak penting itu.


"Kamu dengar enggak!" bentak guru yang bernama Nara itu membuat para siswa-siswi terkejut hebat.


Reyhan tetap tidak menjawab diraihnya kertas yang masih ditangan Nara. Nara menatap tidak suka direbutnya kembali kertas tersebut dengan kasar.


Reyhan melihat ke arah kursi tempat Lyra biasa mengajar. Ia melihat bayangan Lyra di sana sedang duduk, tersenyum dan melambaikan tangan padanya.


Aku benar-benar merindukannya. Batin Reyhan.


Tiba-tiba Nara menggubrak meja Reyhan ternyata dia terus mengoceh yang 1 katapun tak didengar oleh Reyhan.


"Kenapa sekolah mewah ini punya siswa seperti kamu!" teriaknya semakin menjadi-jadi.


Para siswa-siswi yang melihat Reyhan diperlakukan seperti itu sontak mulai gemuruh mereka pun mulai bangkit dari duduknya hendak menyerang Nara akan tetapi gerakan Reyhan lebih cepat.


Reyhan berdiri menatap guru yang tingginya setara dengan dadanya itu.


"Kapan ujiannya akan dimulai? Saya tidak banyak waktu," ujar Reyhan berusaha lembut.


"Kau anak kurang ajar keluar dari kelas ini, aku tak sudi menjadi pengawasmu!" teriak Nara.


Teman sekelas Reyhan bertanya-tanya ada masalah apa yang terjadi diantara mereka berdua.


"Aku tanya sekali lagi jam berapa ujian akan dimulai?" tanya Reyhan berusaha santai.


"Keluar dari kelasku sekarang!" teriak Nara.


Reyhan mengambil ponselnya dari saku, dengan cepat Nara merebutnya dan menghentakkannya ke sudut kelas. Reyhan langsung berlari ke ponsel yang di lempar Nara. Ia berusaha mengaktifkan namun tak kunjung aktif dia tak membutuhkan apa-apa kecuali melihat foto Lyra sebagai penyemangatnya. Namun terlambat ponsel di tangannya itu sudah tidak berfungsi.


Reyhan menatap tajam, amarah yang sedari tadi ditahannya itu pun meledak dan sudah tidak tertahan lagi.

__ADS_1


"Masuk!" teriaknya.


3 pengawal yang sedari tadi di luar kelas pun masuk dan berdiri menunggu perintah.


"Aku tidak mengenalmu dan aku tidak tertarik sama sekali apa yang kau masalahkan denganku. Tapi kau memancing amarahku sekarang sudah terlambat, aku tidak suka menghajar seorang wanita apalagi yang sudah tua sepertimu tapi aku tidak sebaik itu pada orang yang membuat amarahku meledak, kalian buat dia kehilangan pekerjaaannya dan buat dia tidak diterima dimanapun dan keluarganya...."


Nara bergetar ketakutan keringatnya mengucur di pelipisnya ia menjatuhkan tubuhnya seolah tidak berdaya, dia bersimpuh.


"Tolong saya tidak sengaja saya hanya disuruh saya dibayar seseorang tolong saya." Memohon ampun dengan bulir bening mengalir di pipinya.


Reyhan mendekatinya.


"Katakan siapa yang mengirimmu?" tanya Reyhan pelan.


Belum sempat Nara menjawabnya tiba-tiba Fardan memasuki kelas tersebut.


"Maaf ada apa ini? Kenapa ujiannya belum dimulai?" tanya Fardan.


Reyhan kembali berdiri, tatapannya berubah menjadi seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa.


"Bu Nara kenapa Anda berada di atas lantai? Bangunlah. Oh ya adik-adik UAN akan dimulai tapi kakak panggil guru lain ya tunggu sebentar," ujar Fardan sambil membantu Nara bangkit dan memapahnya keluar.


Reyhan memegang dagunya, senyum tipis muncul di sela wajahnya seolah mengerti akar dari masalah yang sedari tadi terjadi.


"Bagaimana ini Den? Apa perlu kita lanjutkan untuk menghancurkan keluarganya?" tanya salah satu pengawal Reyhan.


"Tidak perlu aku tahu siapa yang akan kita hancurkan terlebih dahulu," ujar Reyhan.


Mereka mendongak tak mengerti jalan pikiran Reyhan yang tiba-tiba merubah sasaran utamanya. Akan tetapi mereka tahu jelas Reyhan tidak pernah meleset dan itulah alasan mereka sangat mengagumi sosok Reyhan bocah berusia 18 tahun sebagai majikan mereka.


"Pergi perbaiki ini dan harus kembali seperti semula begitu aku selesai ujian. Dan kalian tunggulah di luar," ujar Reyhan sambil memberikan ponsel miliknya kepada salah satu pengawalnya dan mereka pun beranjak keluar mengikuti perintah Reyhan.


Para siswa-siswi pun menepuk tangan mereka melihat sikap Reyhan yang terlihat seperti bos mafia yang ada di layar lebar.


"Ra, lihat ni poto Reyhan, Berlian baru saja mengirimnya di grup bukan cuma dia, anak yang lain pun punya potonya dari sisi yang berbeda, dia kembali menarik perhatian semua orang," ujar Siska sambil menyodorkan ponselnya ke hadapan Lyra.


"Coba lihat." Lyra tampak bersemangat ingin melihat poto Reyhan.


Siska memberikan ponselnya, Lyra tersenyum karena dari sisi manapun dia terlihat tampan dan membuatnya semakin merindukan Reyhan. Namun tiba-tiba Lyra mengerutkan dahinya ketika sebuah poto Reyhan yang terakhir membuatnya terfokus pada sosok yang terlihat familiar.


"Sis, kamu bilang semua guru PPL disuruh libur, kan?"


tanya Lyra.


"Iya tanpa terkecuali untuk apa kami masuk orang enggak dipakai juga," jawab Siska.


"Jadi ini siapa dong?" tanya Lyra sambil menunjuk ke layar ponsel Siska.


Siska memperhatikan dengan serius sosok yang jauh dari Reyhan tampak buram namun jelas memakai pakaian PPL.


"Tunggu sebentar akan aku tanyakan pada Berlian," ujar Siska.


"Dia sedang ujian jangan diganggu." Lyra mencegah Siska yang mulai mengetik beberapa kalimat.


"Aku lupa, padahal aku penasaran banget tapi ini bukan seragam PPL kita tapi dilihat dari potongan rambutnya kayak kak Fardan tapi enggak mungkinlah seragamnya saja beda," ujar Siska.


"Permisi Nona, boleh keluar sebentar ada yang ingin saya bicarakan dengan Nona?" tanya Redro yang tiba-tiba datang.


"Hah? Kamu mau bicara dengan siapa?" tanya Siska.


"Dengan Anda, Nona Siska," jawab Redro sopan.

__ADS_1


"Enggak bisa ya bicaranya di sini saja?" tanya Siska.


"Pergilah."


"Malas gerak nih," jawab Siska.


"Hush! Kamu ini pergi enggak!" Lyra memelotot ke arah Siska yang seolah tidak menghargai Redro yang jauh-jauh mendatanginya.


"Iya-iya aku pergi dulu," jawab Siska sambil beranjak keluar dari rumah.


Siska melangkah dan diikuti oleh Redro dari belakang.


"Mau bilang apa?" tanya Siska.


"Masuklah, kita bicara di dalam saja," jawab Redro sambil membuka pintu mobilnya.


Dengan sedikit terpaksa Siska pun masuk, begitu juga


Redro yang berlari kecil ke arah pintu mobil yang 1 lagi. Redro pun masuk dengan debaran yang tak menentu dihatinya.


"Sebenarnya kamu mau bilang apa?" tanya Siska semakin penasaran.


"Saya-


"Eh banyak banget coklatnya wah aku paling suka sama coklat. Minta 1 ya." Siska memotong perkataan Redro ketika sebuah keranjang berukuran sedang yang berisi coklat menarik perhatiannya.


"Itu memang untuk Nona," jawab Redro.


"Apa? Benarkah tapi untuk apa? Kamu ulang tahun ya?" Siska menodong pertanyaan yang semakin membuat Redro bingung memulai dari mana.


"Maukah Nona menjadi pacar saya?" tanya Redro.


Siska yang sedang memakan coklat sontak tersedak ketika Redro memintanya menjadi pacarnya.


"Kamu bilang apa?" Siska belum yakin dengan yang ia dengar barusan.


"Apa Nona mau menjadi pacar saya?" tanya Redro lagi.


Siska langsung salah tingkah karena yang ia tahu cintanya hanya sepihak.


"A-aku mau, aku mau jadi pacarmu," jawab Siska.


"Boleh saya tahu kenapa Nona terima saya?" tanya Redro polos.


"Karena aku juga sudah lama suka sama kamu," ujar Siska blak-blakan.


Ternyata dia menyukaiku seandainya saja tadi aku bilang pura-pura menjadi pacarku, seperti yang den Reyhan katakan pasti dia akan menolaknya, tapi aku terpaksa berbohong dan juga ini untuk keamanannya sendiri, semoga berjalan lancar, maafkan aku. Batin Redro.


Siska tersenyum malu, seolah tidak percaya kalau dia dan Redro akhirnya pacaran. Redro mendekati Siska lalu menghapus coklat yang berada di ujung bibir Siska.


"Maaf sudah lancang menyentuh bibir Nona." ujar Redro.


"Jangan sungkan seperti itu, kita 'kan sudah pacaran dan 1 lagi berhenti memanggilku dengan sebutan Nona lagi," ujar Siska.


Redro mengangguk mengerti.


"Panggil aku beby," ujar Siska.


"Apa?"


BERSAMBUNG....

__ADS_1



__ADS_2