MY BERONDONG

MY BERONDONG
ERICK DAN RANIA


__ADS_3

Erick terus tersenyum menatap laut, di hadapannya Rania terlihat malu. Mereka berdua tak berani menatap satu sama lain.


"Sejak kapan?" Suara Rania membuat Erick menoleh ke arahnya.


"Eh?"


"Sejak kapan Kakak berpikir untuk melamarku begini?" Tanya Rania sedikit malu.


Erick meneguk minumannya hingga tandas, "aku juga awalnya nggak tahu akan ada hari ini. Mungkin karena sering bertemu atau menjailimu seiring berjalannya waktu, kupikir harus mengikatmu terlebih dulu."


"Mengikatku?" Rania tidak mengerti.


Erick mengangguk, "kejadian kemarin, membuatku sadar. Kita enggak ada status selain rasa persaudaraan yang tidak langsung, bukankah karena itu, makanya kamu keluar dengan lelaki lain?"


Rania berdehem, ia tak bisa berkutik yang dikatakan Erick memang benar. Tiba-tiba ia dikejutkan ketika tangannya disentuh lalu digenggam Erick.


"Jadi, saat ini dan detik ini Nona Rania, jaga hatimu ya. Dan jangan kemana-mana lagi. Kalau sampai itu terjadi aku nggak akan segan-segan melakukan sesuatu yang membuatmu menyesal." Memasang wajah serius.


Rania berdecih, "Kakak sendiri bagaimana? Bukankah pacar Kakak bertebaran dimana-mana? Dan juga Kareena, dia kan pernah.... " Rania mengganrungkan perkataannya yang langsunf disela Erick dengan tawanya.


"Aku dan Kareena... Bagaimana mungkin?"


Belum selesai Erick berbicara tiba-tiba rintikan hujan datang. Dan tanpa menunggu lama, hujan semakin deras, kedua insan itu pun langsung berlari cepat menuju mobil.

__ADS_1


Basah sudah, Erick dan Rania.


"Di belakang, ada kemejaku. Pakailah dulu," ujar Erick sambil menunjuk ke kursi penumpang.


Rania pun menuruti, ia lalu membuka gaun yang ia pakai lalu menggantinya dengan kemeja milik Erick.


Mendengar pergerakan Rania, jantung Erick berdebar kencang, bahkan ia sampai menelan ludah.


"Sudah, " ujar Rania membuat Erick menoleh padanya.


"Sekarang giliranku," jawab Erick langsung bergegas ke kursi penumpang.


Ah, nggak nyaman...


Rania menatap paha kakinya yang terekspos, ia sungguh sangat tidak nyaman. Boxer yang ia kenakan sangat pendek.


"Pakailah pasti sangat dingin!" Erick memberikan jas nya.


Senyuman Rania mengembang, ia lalu menutupi paha kakinya.


Godaan yang sungguh tidak terduga.


"Kak, telinga Kakak memerah, apa karena kedinginan suhu AC?" tanya Rania.

__ADS_1


"Ini, karena... Ah sudahlah waktunya kita pulang."


Kamu benar karena dingin, tapi penampilanmu membuat dadaku sesak. Tahan... tahan....


Sesampainya di depan rumah Rania ternyata hujan telah reda. Erick segera membukakan pintu mobil untuk pujaan hatinya itu.


"Terima kasih," ucap Rania, sembari menutupi kedua pahanya dengan jas Erick.


Erick mendekat, matanya melihat ke sekeliling, "jam segini, kenapa lampu di rumah sudah mati? Apa Tante Marta sudah tidur?" tanya Erick.


Kak Erick kenapa tiba-tiba mendekat sih? Ini, jaraknya sangat dekat!


Cup! Erick mencium puncak kepala Rania.


Kemudian ia mengusap lembut kepala gadis yang baru ia lamar tersebut. "Masuklah, mimpi yang indah sayang," bisik Erick membuat Rania tak bisa berkata-kata. Gadis itu berlari masuk secepat mungkin.


"Ah sial! Dia manis sekali, aku hampir hilang kendali." Berlari pergi masuk ke dalam mobil.


Mobil Erick meninggalkan rumah Rania. Sementara itu, di kamar Rania langsung merebahkan tubuhnya. Hatinya berbunga-bunga tak terkira bahagianya sekarang gadis itu.


Ia lalu mengganti pakaiannya menjadi piyama lalu tidur sembari memeluk kemeja Erick.


"Rasanya seperti mimpi, tapi ini sangat nyata. Akhirnya, aku mengalaminya juga. Aku enggak menyangka hari ini terjadi juga padaku." Rania bergumam lalu menutup matanya tenggelam dengan mimpi indahnya.

__ADS_1


,


...****************...


__ADS_2