MY BERONDONG

MY BERONDONG
S2- Cemburunya seorang Redro?


__ADS_3

Reyhan memandang wajah Mr.Rudolf yang tangannya sudah dipakaikan borgol. Sorot mata tajam Reyhan membuat Mr.Rudolf tak sanggup untuk menatapnya dan memilih untuk terus menunduk.


Reyhan menyenderkan tubuhnya. "Kau tahu ada hal yang tak bisa dihindari dalam dunia bisnis." Perkataan Reyhan membuat Mr.Rudolf menoleh padanya.


Reyhan tersenyum sinis. "Seseorang yang polos akan berubah menjadi buas ketika ia memasuki dunia bisnis. Itu memang tidak salah karena berbisnis memang harus memiliki strategi, tetapi terkadang dalam hal ini banyak orang yang salah kaprah. Kau tahu kenapa?" Reyhan mendekatkan wajahnya.


Mr.Rudolf menunduk, senyuman sinis Reyhan muncul lagi. "Buasnya mereka berubah menjadi keserakahan. Aku hanya mengambil kesimpulan tidak selamanya pebisnis senior memiliki jiwa dan hati yang bersih. Aku benci pengkhianatan, aku sangat tidak suka dengan kebohongan. Melihatmu, seperti ini jika ayahku masih hidup mungkin dia hampir mendekati usiamu. Sebenarnya aku tidak tega. Akan tetapi, dibandingkan dengan kau, aku lebih memikirkan rakyat kecil yang terus menjerit karena nasib tidak berpihak pada mereka." Reyhan kembali duduk, tatapannya kini berubah sendu. Mr.Rudolf terlihat mengeluarkan air mata, ia tampak begitu menyesali perbuatannya.


"Hari ini cukup sampai di sini saja. Tolong untuk Pak polisi untuk tidak membiarkan berita ini jatuh ke awak media. Dan kasus untuk Mr.Rudolf saya harap tidak perlu membuatnya terlalu serius." Perkataan Reyhan membuat sepasang mata orang-orang di sana memandang ke arahnya termasuk Redro. Mereka tidak mengerti jalan pikiran Reyhan.


"Maksud Tuan, kita akan membebaskannya?" tanya seorang polisi.


Reyhan tidak langsung menjawabnya, ia fokus melihat gestur tubuh Mr.Rudolf. "Tidak sepenuhnya benar. Tetapi kurangi masa penjara dan aku akan mengembalikan harta Mr.Rudolf hanya 20 persen." Mr.Rudolf mengangkat kepalanya begitu Reyhan selesai melontarkan beberapa kata dari mulutnya. Matanya berkaca-kaca seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.


Reyhan bangkit dari duduknya. "Redro, ayo kita pergi. Terima kasih sudah membantu dan tolong lakukan sesuai dengan yang saya minta. Kami permisi dulu." Melangkahkan kakinya begitu para polisi mengangguk mengiyakan.


"Anak itu, tidak disangka dia perlahan berubah ya," ujar seorang polisi kepada rekan polisi lainnya.


"Iya, wahai Mr.Rudolf bersyukurlah kali ini dia masih memiliki hati nurani kalau tidak, saat ini juga kami bisa saja memenggal kepalamu!" Perkataan polisi tersebut membuat tubuh Mr.Rudolf merinding seketika.


"A-apa dia sehebat itu? Bahkan kalian pun takut padanya," tanya Mr.Rudolf menyelidik.


"Dia memang sedikit misterius, sebenarnya kami bukannya takut tetapi merasa segan. Dan dibalik wajah yang tampan belum tentu tersimpan hati yang lembut. Dia tidak bisa ditebak dengan mudah, hidupnya memang penuh misteri," jawab sang polisi seraya menuntun Mr.Rudolf berjalan menuju bui.


***


Reyhan mengintip Lyra yang tengah asyik bertempur dengan masakannya. Namun, belum semenit dia di persembunyiannya ia segera berjalan mendekati istri tercintanya. Dipeluknya tubuh Lyra membuat wanita itu sontak terkejut lalu mematung.


Lyra memegang wajah Reyhan, dikala suaminya itu bermanja sambil memeluknya dari belakang. "Sudah pulang? Ini baru jam berapa? Apa begitu lelah? Padahal baru dua hari masuk kerja." Beberapa pertanyaan Lyra todongkan pada Reyhan.


"Ya, aku sudah pulang. Terserahku mau pulang jam berapa aku pemimpinnya. Aku hanya merindukanmu." Jawaban cepat Reyhan membuat senyuman Lyra mengembang. Ia segera membalikkan tubuhnya agar bisa menangkap wajah Reyhan dengan sempurna.


"Aku punya tebak-tebakan untukmu. Mau tahu tidak?" tanya Lyra sambil tersenyum.


"Hemmm," jawab Reyhan singkat.


Dengan senyuman yang malu-malu Lyra menghembuskan napasnya, sebenarnya ia merasa sedikit gugup. "Napas aku kok sesak banget ya?" Menyentuh area dadanya.


"Bagian mana yang sesak?" tanya Reyhan dengan wajah panik.


Sambil tersenyum Lyra menjawab: "karena separuh napasku ada di kamu." Tertawa terpingkal-pingkal membuat Reyhan terlihat kebingungan.

__ADS_1


"Sebenarnya kamu ini kenapa?" tanya Reyhan dengan wajah polosnya. Lyra langsung menghentikan tawa menggelegarnya. Rona malu tiba-tiba muncul di area wajahnya. Ia segera mengaduk kembali masakannya. Sementara itu, Reyhan hanya mematung memperhatikan Lyra yang sedang memunggunginya.


Gila, apa yang baru kulakukan? Aku lupa telah menikah dengan manusia yang tidak tahu betapa serunya melempar gombalan pada pasangan. Wahai suamiku kenapa kau begitu tidak peka? Batin Lyra sambil mematikan kompor.


Kini Reyhan sudah berada di kursi meja makan menanti makanan yang akan disajikan Lyra. Pandangannya begitu serius kepada Lyra yang sedari tadi masih terlihat malu.


"Apa aku benaran separuh napasmu?" tanya Reyhan.


Kenapa dia tiba-tiba membahas yang itu sih. Lyra membenak, rona di wajahnya jangan ditanya lagi.


"Kenapa tidak jawab?" tanya Reyhan lagi.


"Tentu saja sayang," jawab Lyra sambil tersenyum yang dibuat-buat.


Reyhan tersenyum licik. "Ehm berarti masalah 5 ronde itu..., bisakah kita membahasnya?" Pertanyaan Reyhan membuat mata Lyra membulat.


"Maksud kamu?"


"Ehm, aku rasa tak perlu dijelaskan lagi. Sayang." Tersenyum sambil membelai wajah Lyra yang masih mendongak karena kaget.


Reyhan menyendokkan makanannya lalu mengarahkannya ke mulut Lyra yang masih terbuka. Wanita itu masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari Reyhan. Lima ronde?


***


"Seharusnya aku yang memijat kakimu, kamu yang kerja kok pasti sangat lelah." Mulai bangkit namun ditahan oleh Redro.


"Kaki yang aku miliki berbeda dengan kaki orang biasa mau berapa lama aku berdiri ataupun melangkah tidak akan membuatnya kelelahan. Aku hanya mengkhawatirkanmu yang mungkin rindu suasana Indonesia," jawab Redro membuat mata Siska membulat kaget. Bagaimana suaminya itu bisa tahu apa yang tengah ia pikirkan sekarang?


Siska berdehem ia kembali menurunkan kepalanya kembali ke sisi sofa. "Kamu benar, aku merindukan Indonesia. Seindah apapun negara yang kita pijak tetapi tetap saja memikirkan asal negara sendiri. Terlebih lagi keluarga. Aku rindu mereka Beb, sangat rindu." Siska menyeka air mata yang berusaha ia tahan.


"Maafkan aku yang masih terus mengundur waktu. Aku tidak bermaksud membuatmu berada di situasi ini. Aku terpaksa melakukannya." Redro menundukkan kepalanya, segera Siska bangkit lalu memeluknya.


"Kata siapa ini salahmu. Tak ada yang salah di sini, aku justru selalu bangga padamu yang begitu setia mendampingi Reyhan tanpa rasa jenuh. Di sini aku ada Lyra kok, dia sahabatku dan aku senang sekarang. Sudah jangan sedih lagi ya," ujar Siska sambil menepuk-nepuk punggung Redro.


Ting! Tong!


Bel berbunyi membuat Siska melepaskan pelukannya lalu bangkit berjalan menuju pintu.


"Erick!" Memelotot kaget.


"Bolekah aku bertamu?" tanya Erick dengan wajah lusuh.

__ADS_1


Segera Siska menariknya masuk lalu menutup pintu kembali. Erick langsung duduk di sofa panjang berdekatan dengan Redro.


"Apa kabar lu Bro. Habis menikah makin berisi ya lu." Tertawa kuda menunjukkan gigi rapi nya.


"Tuan Erick tumben bertamu, ada apa?" tanya Redro dengan wajah serius.


"Gua mau membakar apartemen ini. Haruskah gua jawab pertanyaan lu, gua bosan sendiri berkeliaran tanpa teman. Cewek-cewek bule buat gua bosan. Lu pernah enggak memikirkan gua. Si Reyhan sibuk dengan dunianya dan lu juga begitu, jadi gua sibuk apa? Jawab gua." Berbicara dengan kecepatan maksimal dan Redro masih memasang wajah datarnya karena ia sudah terbiasa dengan hal itu.


Siska datang dengan nampan yang berisi minuman dan cemilan. Segera, Erick mengambil cemilan lalu menyenderkan tubuhnya.


"Kak Siska mukanya Redro memang selalu begini ya?" tanya Erick membuat Siska terkekeh.


"Iya, memangnya kenapa?"


"Salut saja sama Kakak yang bisa tahan sama dia." Melirik Redro.


"Dia enggak selalu begitu kok, Rick. Harusnya kamu tuh yang berubah jangan lemes mulu, kelamaan menjomblo ya begitu. Hahaha...." Mentertawakan Erick yang memelotot kaget.


Erick berhenti mengunyah makanannya, wajahnya kembali terlihat lusuh. "Ya Tuhan, kenapa statusku selalu jadi bahan ejekan? Kirimkan aku jodoh juga dong." Perkataan Erick membuat Siska terkekeh.


"Makanya kalau nggak mau jadi jomblo tidak usah terlalu pemilih. Bukannya waktu SMA kamu itu terkenal playboy, ya?" tanya Siska penasaran.


"Ya, itu kan dulu sekarang sudah nggak. Aku benaran mau serius, cariin dong," rengek Erick sambil memegang tangan Siska. Redro segera bangkit dari duduknya dan langsung melepaskan sentuhan Erick dari tangan istrinya.


"Apaan sih lu, cemburu ya? Gua dan kak Siska itu sudah kayak saudara keles. Enggak ada yang mau dicemburuin tahu," ujar Erick memasang wajah gusar.


"Siska istri saya, terserah saya harus melakukan apa. Saya rasa Tuan Erick mengerti dengan perkataan saya." Duduk di tengah-tengah antara Erick dan Siska.


Erick menggelengkan kepalanya. Merasa heran dengan sifat Redro yang garang bisa se-posesif itu. Dimana hilangnya sifat cuek Redro?


"Kalau begitu, gua sama lu saja," ujar Erick lalu menggandeng tangan Redro. Dengan segera Redro menggenggam tangannya.


"Sa-sakit, Ampun! Lepasin tangan gua woi! Kak Siska tolong!" teriak Erick yang kesakitan.


"Beb, lepaskan tangannya bisa keseleo," ujar Siska, Redro melepaskannya. Erick yang kesakitan menghembus-hembus tangannya sambil menggerutu.


"Gua pulang dulu lah Kak. Suami lu galak," ujar Erick langsung beranjak pergi.


Siska menatap tajam Redro, ia terlihat gusar dengan perlakuan suaminya terhadap Erick. "Kamu ini apa-apaan sih, kayak bandit tahu enggak. Dia itu sudah seperti saudaraku sendiri, bagaimana bisa kamu memperlakukannya seperti itu? Bagaimana nanti kalau bertemu dengan adik-adikku? Kamu punya saudara enggak sih!" Siska yang amarahnya sudah di puncak ubun-ubun membuat Redro terdiam lalu menghela napasnya.


"Kamu benar, aku tidak punya saudara." Siska memelotot kaget. Sesaat ia menyesali perkataannya barusan. Ia pun beranjak ke kamar merasa bersalah dengan ucapannya. Tinggallah Redro yang tenggelam dengan pernyataan Siska.

__ADS_1



__ADS_2