MY BERONDONG

MY BERONDONG
AKU MENCINTAIMU


__ADS_3

Lyra terbangun ketika wajahnya tersengat mentari pagi yang menelusup. Berulang kali, wanita itu membuka mata lalu menutupnya kembali.


"Pagi."


"Pagi," jawab Lyra lalu membalikkan tubuhnya.


"Eh, siapa-" Lyra kembali berbalik, memastikan siapa yang baru berucap barusan.


Di hadapannya tampak Reyhan berbaring menyematkan senyuman di sisi bibirnya. Bukan itu masalahnya, tapi penampilan Reyhan membuat Lyra lupa bernapas. Pasalnya, suaminya itu hanya mengenakan handuk dengan tubuhnya yang dialiri air yang berasal dari rintikan rambutnya yang masih basah.


Gluk


Dengan susah payah, Lyra menelan salivanya. Lyra memelototi otot-otot Reyhan yang berbentuk kotak-kotak.


"Mau sampai kapan menyentuhnya?" tanya Reyhan.


Lyra terkejut, "i-ini nggak mimpi. Maaf!" Segera bangkit namun dengan cepat Reyhan mengunci tubuh Lyra.


Kini, Lyra sudah berada tepat di bawah Reyhan. Keduanya saling berpandangan. Rintikkan air dari tubuh Reyhan berjatuhan terkena tubuh Lyra.


Lagi-lagi, Lyra menelan saliva dengan susah payah. Reyhan menurunkan tubuhnya menjadi semakin dekat dengan wajah Lyra. Bahkan sesekali, Reyhan sengaja menyentuh hidung Lyra dengan hidungnya.


"Maaf," ucap Reyhan.


"Untuk apa?" tanya Lyra berusaha setenang mungkin.


"Sudah membangunkanmu," jawab Reyhan, sambil membelai rambut yang menutupi wajah Lyra.


Kau sadar juga ternyata.


Lyra menatap lamat-lamat wajah Reyhan yang selalu membuatnya kagum. Hingga tak sadar, tangan Reyhan sudah membuka kancing pakaian yang dikenakan Lyra satu persatu.


"Akh, kamu! Apa yang kamu lakukan?" Kedua mata Lyra memelotot tangannya segera menutupi tubuhnya.


"Yang kulakukan adalah yang seharusnya kulakukan." Reyhan menjatuhkan tubuhnya pada Lyra.


Pada pahamlah ya, mereka ngapain 🤣🤣🤣


***


Siska mengerutkan dahinya, berulang kali ia menghubungi nomor Lyra namun tak kunjung aktif. "Atau kudatangi saja ya?" tanyanya pada Redro yang menyuapi Siska.


Perlu diketahui, mereka semua sudah menginap di hotel sejak tadi malam. Penyebab utamanya karena penyerangan para rentenir busuk. Jadi, rencana menginap di hotel yang seharusnya besok tiba-tiba dimajukan ya jadi tadi malam.


"Mungkin bisa saja Den Reyhan dan Nona Lyra kelelahan." Jawaban Redro membuat Siska berpikir sejenak.


"Bisa juga, ya sudahlah nanti habis sarapan kita datangi kamarnya." Siska meletakkan ponselnya di atas meja.


"Eh, ini enak banget," ujar Siska ketika ia mengunyah sebuah roti yang baru disuap Redro ke mulutnya.


Redro tersenyum, ia menghapus krim yang tertinggal di sudut bibir Siska. "Apa mau aku tambahkan lagi?" tanya Redro.


"Boleh."


Redro pun bangkit lalu berjalan mengambil roti. Siska melipat tangannya, senyum bahagia terlukis di wajahnya.


Apakah ini akhir dari perjalanan kami semua?


Kedua mata Siska menatap kedua orang tuanya yang tertawa bahagia. Entah apa yang mereka bicarakan. Dan tampak juga kedua adik Siska yang sedang perang air di atas kolam renang.


Tiba-tiba...

__ADS_1


Hai Siswa ini aku...seseorang yang pernah di hatimu!


Kedua mata Siska memelotot pada pesan misterius yang baru saja mendarat di ponselnya.


"Baru juga, bernapas lega sudah ada yang mengganggu!" kesal Siska.


Reyhan menatap wajah Lyra yang berada di pelukannya. Bulir-bulir keringat membasahi keduany. Berulang kali, lelaki itu mencium puncak kepala Lyra yang sudah kelelahan.


"Aku mencintaimu," bisik Reyhan.


"Aku juga sangat mencintaimu, rasanya jantungku hampir meledak," jawab Lyra.


Mereka pun saling berpandangan, kali ini Reyhan yang tampak salah tingkah ia segera memutus kontak mata dengan Lyra. Namun, Lyra segera menarik wajah Reyhan hingga bibir mereka bertemu.


Ciuman panas pun terjadi begitu juga kikuk-kikuk yang entah sudah berapa ronde. Intinya, mereka ke luar kamar setelah jam 12 lamanya. Kasihan Siska dan Redro yang dengan setia menunggu pasangan yang sedang bertempur itu šŸ¤‘


Kini, Lyra dan Siska tengah berbincang di taman, sementara Reyhan dan Redro sedang merencanakan sesuatu. Sedangkan kedua orangtua dan adik-adik Siska sedang beristirahat setelah bermain di kolam.


"Ehm...." Siska berdehem sambil melirik Lyra yang sedang bermain ponsel.


Lyra tahu maksud Siska berdehem itu mau menggodanya.


"Lyra Nayra," panggil Siska, namun Lyra tak menyahut pura-pura tak mendengar.


"Ih, Lyra.... " Kali ini nada suara Siska terdengar manja.


"Ah, ya kenapa Sis?" Lyra berpura-pura terkejut.


Siska tersenyum nakal dan jelas Lyra tahu apa yang akan dibahas sang sahabatnya itu.


"Dari pagi ngapain aja?"


Lyra mendesah, tebakannya benar. "Nggak ngapa-ngapain tuh," jawab Lyra sembari membuang muka ke arah lain.


Lyra mendesah, "apaan sih, kayak nggak ada topik pembicaraan lain!" Menunjukkan garis wajah bentuk kekesalannya.


Siska tersenyum, "iya deh maaf!" Mencubit pelan pinggang Lyra yang langsung direspon dengan meringis pelan Lyra.


***


Reyhan dan Redro duduk berhadapan. Di tengah mereka terdapat sebuah catur. Ya, ini kali pertama mereka memainkan catur.


"Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Reyhan sembari menjalankan pion catur hitamnya.


"Saya ingin merenovasi rumah pak Subono." Redro ikut menjalankan pion warna putihnya.


Reyhan tersenyum sinis, "aku sudah mengenalmu lebih dari 10 tahun. Tapi, aku terkejut dengan sisiku saat ini. Bagaimana bisa, usia dewasamu menutupi kepintaranmu?"


Resep terdiam pandangannya yang semula terfokus pada permainan catur kini beralih pada Reyhan. Seolah mencari tahu kesalahannya.


"Merenovasi rumah pak Subono di tempat yang sama dan lahan yang sama. Padahal kau tahu jelas, kejadian apa yang terjadi. Bukankah sama dengan menabur garam pada luka yang belum sepenuhnya mengering?"


Redro terdiam, ia memandang wajah teduh sang majikan. Berpikir, bagaimana bisa seorang Reyhan yang masih terbilang remaja jauh lebih dewasa dibandingkan dirinya?


"Skak! Kau kalah 1-0!" seru Reyhan.


Bagaimana pun dirimu, aku bangga padamu! Den Reyhan.


***


Reyhan dan Lyra menyusuri pusat perbelanjaan. Dikarenakan bosan, keduanya memutuskan untuk berjalan-jalan.

__ADS_1


"Tumben, Siska dan Redro tidak ikut?" tanya Reyhan.


"Oh, itu-"


Lyra tiba-tiba mengingat perkataan terakhir Siska tadi.


"Pergilah kalian ke luar aku ada urusan dengan Redro." Kalimat Siska yang sempat membuat Lyra bingung. Namun, melihat kedipan nakal Siska, Lyra mengerti.


Lyra membuka masker yang sedari tadi ia pakai. "Pengap, juga pakai masker lama-lama," keluhnya.


Reyhan juga membuka manajernya dan tiba-tiba Lyra menahannya.


"Ada apa?" tanya Reyhan keheranan.


"I-itu-"


Reyhan melihat ke sekeliling orang-orang yang tengah memandanginya secara terang-terangan. Ia pun kembali memakai masker tersebut.


Kemudian, menggandeng tangan Lyra. Mereka lalu berjalan di tengah-tengah kerumunan orang-orang.


Dua jam kemudian...


Redro membawa barang-barang hasil belanjaan Lyra dan Reyhan. Ya, disaat Lyra tengah memilih pakaian yang akan ia beli. Reyhan yang menunggu, menghubungi Redro dan menyuruh sang bodyguard untuk membawa belanjaan mereka.


"Kamu kenapa?" tanya Reyhan sambil mengusap rambut Lyra.


Lyra mengerutkan dahinya. "Kenapa Redro bisa datang? Seharusnya kan barang segitu kamu juga bisa bawa."


"Tapi, saat ini aku nggak ingin bawa barang apapun," jawab Reyhan.


Langkah Lyra terhenti.


"Aku ingin memegang tanganmu seperti ini." Mengambil sling bag yang dipakai Lyra lalu menggandeng istrinya tersebut.


Wajah Lyra memerah, ia lalu tersenyum sambil mencubit pelan pinggang Reyhan.


Maaf Siska


Lyra membatin.


Sementara itu...


Di balik selimut, Siska terus merungut kesal ketika dirinya yang tengah menikmati berduaan dengan Redro mendapat gangguan dari Reyhan yang menyuruhnya untuk membantu membawakan barang-barang Lyra.


Lyra........ apa kau masih layak disebut teman!!!


Batin Siska berteriak.


Tuhan menyodorkan kartu kamar hotelnya pada Redro. "Pergilah, aku ingin membawa istriku jalan-jalan."


Redro mengangguk, "baik, Den. Saya permisi." Masuk ke dalam mobil lalu bergerak laju hingga menghilang di ambang lokasi parkir.


"Jalan? Kemana?" tanya Lyra.


"Silakan masuk," jawab Reyhan sambil membuka pintu mobil.


Lyra keheranan, ia pun masuk.


"Mau ke mana Rey?" tanya Lyra lagi.


Akan tetapi, Reyhan tidak menjawab ia justru memakaikan sabuk pengaman pada Lyra. Pandangan keduanya bertemu.

__ADS_1


Reyhan mengecup bibir Lyra, "aku mencintaimu," ucapnya lalu mengusap pelan bukit kepala Lyra.


Wanita itu mengeryit kebingungan, napasnya terdengar sesak. Reyhan lalu mengemudikan mobil ke luar dari area parkir pu


__ADS_2