
Pagi pun tiba, Lyra duduk di depan rumahnya dengan memakai setelan kemeja berwarna putih serta rok panjang polkadot. Berulang kali wajahnya melukiskan senyuman ke hamparan jalan yang dilewati bermacam-macam jenis kendaraan tersebut.
Aduh kenapa hatiku berdebar tak menentu begini. Lagi-lagi aku seperti remaja yang dilanda cinta, Reyhan setelah kejadian tadi malam aku jadi sadar kalau aku sudah terlalu menyiksamu dan mulai sekarang aku tidak boleh lemah lagi. Aku akan buktikan perasaanku yang sesungguhnya. Batin Lyra sambil terus tersenyum.
"Ah si Neng Lyra, nungguin den Reyhan ya. Semangat banget dari tadi senyam-senyum," goda Siska lalu duduk di sebelah Lyra.
"Hmmm, Siska entahlah dari tadi aku merindukannya. Kali ini dia sangat membuat aku tergila-gila, Sis." Tersenyum malu.
"Reyhan yang tergila-gila tu sama kamu, dia yang mati-matian berjuang kalau kamu mah terlalu lemah dengan keadaa. Harusnya kamu beruntung Ra, kisah cinta kamu itu sudah kayak novel romantis Ra, hanya fiktif belaka tapi kamu malah seperti menyia-menyiakan Reyhan. Berhentilah jual mahal Ra." Mencubit pelan Lyra.
"Cerita novel ya, jadi ingat seseorang, Sis." Memegang kepalanya berusaha memutar otak.
"Siapa? Jangan bilang dia seorang cowok. Awas jangan nakal-nakal lho." Menatap tajam.
"Hush! Dia cewek Sis namanya..., Rania, iya namanya Rania dia yang menolongku waktu disekap sama kak Fardan waktu itu."
"Oh yang cewek remaja itu, sebenarnya gimana sih ceritanya kok bisa dia pakai riasan pengantin bukannya kamu. Mana riasannya menor lagi, parah-parah." Tertawa merasa geli.
"Aku yang rias, Sis." Menatap kesal pada Siska.
"Oh benarkah? Sorry." Menutup mulutnya berusaha menghentikan tawanya.
"Hmmm, dia bercerita tentang kedua orang tuanya yang merantau ke Jakarta dan dia dirawat di kampung bersama neneknya. Aku lupa dimana kampungnya. Karena neneknya sakit-sakitan menahan rindu mereka pun menyusul ke Jakarta tapi mereka tak kunjung berjumpa dengan kedua orang tua Rania." Berusaha mengingat cerita Rania.
"Terus bagaimana, Ra?" Menatap serius, merasa penasaran.
"Hah, penyakit nenek Rania bertambah parah, Sis uang serta ponsel Rania hilang mereka dirampok." Menghela napas merasa sedih mengingat ekspresi Rania sewaktu menceritakan kisahnya.
"Hah, beneran seperti itu. Ya ampun enggak nyangka banget kisahnya sangat menyedihkan sekali, Ra lalu apa kamu tahu dimana tempat tinggal Rania?" Semakin penasaran.
"Engak Sis, tapi sepertinya Erick tahu, karena seingatku dia yang mengantar Rania pulang."
"Apa kamu enggak ada rencana gitu mau bantuin dia, kasihan banget tahu?" tanya Siska.
"Rencana sebenarnya sih ada cuma masih ragu bakalan berhasil atau enggak karena ini lagi-lagi harus melibatkan Reyhan." Menyandarkan tubuhnya.
"Apa itu?" Menatap penasaran.
"Ada deh nanti kamu juga bakalan tahu." Tersenyum senang.
"Oh begitu sudah main rahasia-rahasiaan lagi dariku, baiklah." Mengalihkan pandangannya merasa kesal pada Lyra.
"Hahaha aku hanya bercanda." Tertawa lalu membisikkan sesuatu di telinga Siska. ( Rahasia dulu soal bisikannya karena sebenarnya saya selaku author pun sedang bingung š ).
"Benarkah? Wah jadi penasaran sama ekspresi Reyhan aku yakin dia pasti menerima usulanmu, itu keren tahu." Tertawa senang.
"Kalian berdua sedang mentertawakan apa di pagi hari ini. Apakah ada hal yang lucu?" Tampaklah Reyhan dan Redro yang sedang berjalan menuju ke arah rumah Lyra dan Siska.
Lyra dan Siska melongo memperhatikan visual Reyhan dan Redro yang berjalan tegap ke arah mereka.
"Kenapa kalian jadi diam seperti ini, sedari tadi mobilku terparkir dan kalian tidak sadar sama sekali. Mungkin karena cerita kalian yang sepertinya terdengar lucu dan seru." Menatap Lyra sambil tersenyum.
"Kamu terlalu tampan." Siska tidak sadar menunjukkan keceplosannya itu.
__ADS_1
"Apa?"
"Tidak, lupakan saja Siska memang begitu orangnya agak ngaco kalau sedang lapar. Oh ya kalian berdua ada keperluan apa datang kemari?" tanya Lyra.
"Hmmm jadi harus ada keperluan dulu, baru boleh datang." Menatap Lyra.
"Bu-bukannya begitu biasanya 'kan kalian jarang datang kemari. Tiba-tiba begini jadi aneh wajarkan aku bertanya." Berusaha membuat Reyhan tidak marah.
Siska melirik pada Redro yang ternyata sedari tadi sedang memandanginya juga.
"Hmmm kalian mengobrollah aku mau masuk ke dalam dulu," ujar Siska lalu berjalan masuk.
"Tunggu sebentar Kak Siska, ada yang mau dibicarakan Redro denganmu." Perkataan Reyhan pun berhasil membuat Siska berhenti lalu kembali keluar bergabung dengan mereka.
"Mau bicara apa?" Menatap tajam pada Redro.
"Aku rasa kita harus berikan waktu bicara berdua untuk mereka. Lyra kita jalan-jalan yuk," ajak Reyhan.
Awalnya Lyra ragu akan tetapi tangan Reyhan sudah terlanjur menggenggam tangannya, ia pun tak bisa menghindar. Akhirnya mereka pergi dengan mengendarai mobil.
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
"Sebenarnya apa yang mau dibicarakan Redro dengan Siska jadi penasaran?" Menyandarkan tubuhnya di kursi mobil.
"Itu tentang Redro yang terlalu jujur pada kak Siska. Membuat mereka putus." Meminum mineral.
"Putus? Kok aku enggak tahu ya, Siska kenapa merahasiakannya dariku." Mengerutkan dahinya dan terlihat bingung.
"Entahlah tanyakan saja padanya." Menyandarkan tubuhnya.
"Apa kamu begitu peduli pada Redro, sampai penasaran segala." Menatap tidak suka.
"Apa sih? Aku bukannya peduli sama Redro tapi sama Siska, ingat dia temanku jadi wajarkan penasaran." Menatap tajam.
"Ya siapa tahu kamu punya rasa yang terpendam padanya," ujar Reyhan sambil menyetir mobilnya.
"Reyhan ada pertanyaan yang lebih aneh enggak, memangnya aku perempuan apaan hingga menyukai dua pria sekaligus." Menatap marah.
"Bukannya begitu, disaat berdua seperti ini bisa tidak jangan membahas orang lain terutama yang berjenis pria, aku tidak suka itu." Menatap sendu pada Lyra.
"Reyhan dengerin nih ya, Redro itu pengawalmu, dan juga dia pacar Siska sahabatku enggak mungkinlah aku punya perasaan lain padanya berpikir yang waras dong." Mengerutkan dahinya.
"Mau dia sahabatku, saudaraku bahkan ayahku itu tidak akan menjamin kalau kamu tidak punya perasaan pada mereka, kesetiaan itu perlu dan ingatlah cinta itu buta tidak memandang usia atau bahkan status jadi-"
"Kamu bilang kesetiaan itu perlu tapi kamu lupa kepercayaan itu tak kalah perlunya, Rey untuk apa aku setia mati-matian tapi kamu tidak percaya padaku, untuk apa Rey?" Mulai marah pada Reyhan.
"Hmmm, sebenarnya itu berawal aku menyuruh Redro untuk siaga menjagamu dan kak Siska. Akan tetapi waktu itu kak Siska kurang nyaman dengan sikap pendiamnya Redro jadi kak Siska berusaha menghindarinya demi menghilangkan jejak hubungan antara aku dan Redro terpaksa aku menyuruhnya tinggal di apartemen yang kebetulan letaknya tidak jauh dari sini." Mencoba menjelaskan dari asal-mula kisah Siska dan Redro.
"Terus apa hubungannya dengan Siska." Wajah penasaran pun menggerogoti Lyra.
"Makanya jangan potong dulu kalimat orang lain," ujar Reyhan.
"Ye..., kamu sendiri yang tiba-tiba diam aku kira cuma sampai disitu saja ceritanya." Memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Aku sedang mengambil napas sejenak apa kamu kira aku tak butuh bernapas ya," protes Reyhan tidak mau kalah.
"Aku kira kamu sama seperti tukang gosip profesional di TV yang terus bicara tanpa jeda kecuali iklan." Melirik Reyhan.
"Apa aku terlihat seperti itu?" Menghentikan mobilnya.
"Hehehe lanjutkan atuh ceritanya Bos jangan marah-marah." Tersenyum manja.
"Karena si bocah Redro itu tidak punya ide untuk menjaga kalian. Sebagai teman yang baik dan punya kecerdasaan diatas rata-rata akhirnya aku yang memberikan saran untuk memacari kak Siska
Awalnya Redro ragu dan sempat menolak saranku alasannya sih dia nggak tega tapi dia nggak punya ide apapun. Dengan terpaksa akhirnya dia menerima ide briliant dariku." Tersenyum bangga.
"Jadi kenapa mereka putus?" Rasa penasaran Lyra semakin menjadi-jadi.
"Ya tadi 'kan sudah aku katakan kalau Redro itu terlalu jujur," jawab Reyhan sambil memelotot pada Lyra.
"Haah, iya jujur yang bagaimana?" Membalas memelotot pada Reyhan.
"Lyra, kamu ini susah sekali menangkap, IQ mu memang sungguh sangat disayangkan." Menggeleng pelan.
"Sebenarnya kamu mau bicara apa sih? Bertele-tele begitu bikin aku keburu bosan."
"Ini agar ceritanya panjang." Tersenyum senang. ( Ya elah si Reyhan pake buka kartu AS gua lagi biar ceritanya panjang, maaf ya Readers Reyhan memang gitu suka benar kalau ngomong, maklum orangnya ga pernah mau menjaga perasaan orang lain yang di otaknya cuma Lyra dan Lyra) š .
"Redro menceritakan asal mula alasan Redro menyatakan cinta. Dia tidak mau mengganggu pemikiran Siska tentang sifatnya yang pendiam dan sering mengabaikannya saat itu. Akan tetapi kak Siska yang sudah terlanjur emosi dengan gampangnya ia mengucapkan kata putus tanpa mau mendengar perkataan Redro selanjutnya, selesai deh." Tersenyum santai.
"Hah, wanita mana sih yang mau diperlakukan seperti itu. Ini semua salah kamu kalau seandainya saran gila itu tidak kamu gunakan pasti sekarang Siska sedang tertawa bahagia dengan hati yang berbunga-bunga." Menatap kesal pada Reyhan.
"Aku hanya belajar menjadi majikan yang baik, harusnya kamu bangga memilikiku. Dan kalau seandainya saja kak Siska mendengar perkataan Redro selanjutnya kemungkinan saat ini hati kak Siska tetap masih berbunga-bunga."
"Memangnya Redro mau mengatakan apa?" Mendekat pada Reyhan.
"Ah lihat dulu posisimu." Salah tingkah dengan perlakuan Lyra.
"Ada apa enggak ada yang aneh kok dengan posisiku, cepat jawab pertanyaanku," ujar Lyra.
Posisimu lagi-lagi membuatku was-was, kamu selalu bertindak diluar nalar. Batin Reyhan.
"Seiring berjalannya waktu ternyata Redro yang pendiam itu memiliki perasaan pada kak Siska. Dan alasannya berbicara jujur seperti itu berharap kak Siska mau mendengarkan ungkapan cinta yang sebenarnya tulus dari hati Redro tanpa saran dariku dan dia hanya berniat mengubah ungkapan palsu itu."
"Kasihan Redro yang diperlakukan seperti boneka olehmu," ujar Lyra sambil menggelengkan kepalanya pada Reyhan.
"Kamu kenapa membelanya? Dan memojokkan aku?" Menatap tidak suka.
Makanya bersikap yang normal hilangkan keangkuhanmu yang tidak penting itu dasar majikan kejam. Batin Lyra.
Ada yang bertanya Kak kok mereka ngga langsung nikah aja sih? Maaf ya shay sebagai author yang baik aku akan mengikuti saran dari kalian tapi saat ini aku harus belajar menyusun kata demi kata agar para readers tercintaku merasa nyaman dan tidak bosan karena tahulah habis menikah pasti akan ada adegan gado-gadonya ya kan? So, jangan lupa mampir guys salam sayang untuk kalian yang ku cinta, SARANGHAE. Jarang-jarang aku bilang ini woy. Yang mau tahu artinya silahkan cek google.šš
BERSAMBUNG
Terima Kasih sudah mampir jangan lupa hujatannya. Monggo guys luv u Readers.
__ADS_1