MY BERONDONG

MY BERONDONG
ERICK DAN RANIA...


__ADS_3

Rania memandangi jalanan, melangkah pelan sembari membawa tumpukan beberapa buku. Gadis itu, sesekali menghentikan langkahnya, kemudian berjalan kembali.


"Hampir setahun di sini, entah kenapa rasanya rindu Indonesia terutama kak-"


"Ayo... Melamun lagi."


Rania mengerucutkan bibirnya, "Kak Erick bisa nggak sih, jangan muncul tiba-tiba. Lama-lama bisa jantungan aku!" teriaknya.


Bukannya minta maaf, Erick malah terkekeh mengejek. Entah sudah berapa kali laki-laki itu menjaili adik angkat sahabatnya itu. Mungkin sudah menjadi hobby Erick mengganggu perempuan berparas manis tersebut.


Drrrrrrrttt Drrrrrrrrrrrrttt Drrrrrrrrrrttt


Dengan sigap, Rania mengambil ponselnya yang bergetar.


"Iya, Ma! Ini lagi di jalan. Nggak sendiri kok, ada kak Erick juga. Iya, oke Ma. Dadah, Mama...." Memasukkan kembali ponselnya.


"Sini, gua bawain," ujar Erick sembari menyentuh buku-buku yang dibawa Rania.


Rania menggeleng, "aku masih bisa kok Kak," jawabnya, kemudian melangkah melewati Erick.


"Sudah, sini.... " Merebut buku-buku dari tangan Rania.


Rania menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu, mereka berdua pun berjalan.


"Setahun di Amerika, bosan nggak Lu?" tanya Erick.


Rania terlihat tengah berpikir, "bosan sih nggak ya, cuma kangen aja sama Kak Lyra," ujarnya.


"Oh, cuma Kak Lyra. Kakak Lu si Reyhan itu."


Rania terlihat berpikir lagi, kemudian ia pun menggeleng. "Aku kan nggak dekat sama kak Reyhan, juga nggak tahu sih sifatnya."


Erick tertawa, memenuhi jalanan persetan dengan mata memandang ke arah mereka.


"Ada yang lucu?" tanya Rania disertai kerutan di wajahnya, merasa kesal dengan sikap Erick.


Perlahan tapi pasti, suara tawa menggelegar Erick itu pun menghilang. Ia menepuk-nepuk dadanya yang sesak.


Ia menatap Rania yang memasang wajah super kesal. Erick mendesah, lalu ia pun menarik Rania untuk segera melanjutkan kembali perjalanan mereka yang terhenti.


"Kau tahu, Reyhan Kakakmu sangat populer di sekolah. Selain punya wajah yang rupawan dia juga pintar." Erick mulai bercerita.


"Ya terus?" Rania memutar matanya, malas mendengar cerita tentang Reyhan.


Lagi-lagi, Erick terkekeh segera ia dorong jidat Rania, membuat gadis itu kesal untuk kesekian kalinya.


"Ih, Kakak!"


"Sini." Erick menggenggam tangan Rania, mereka kembali berjalan.


Rania melirik Erick yang tak lagi mengeluarkan sepatah kalimat. "Hmmm...Semua orang tahu kali Kak Reyhan itu populer, nggak perlu diceritakan lagi. coba ceritakan tentang pertemuan antara Kak Reyhan dan Kak Lyra."


Mendengar perkataan Rania, Erick tersenyum nakal. "Kamu suka cerita yang romantis ternyata ya!" Mencubit hidung Rania.


Kali ini, Rania tidak kesal ia justru membalas tawa Erick.


"Mulai dari mana ya? Mereka itu bertemu pas terjadi tawuran!" Erick mulai bercerita.

__ADS_1


Rania memelotot, "maksudnya pasti Kak Reyhan menyelamatkan Kak Lyra yang kebetulan lewat dari kerumunan tawuran itu kan?" Rania mulai menebak-nebak.


Erick menggelengkan kepalanya, "Lu kira ini Drakor apa! Makanya kebanyakan nonton yang aneh-aneh sih."


Rania terkekeh, "nggak ya, iya deh maaf salah."


"Dengerin makanya...." Erick menyentil telinga Rania membuat gadis itu meringis.


"Waktu itu, Kakak Lu si Reyhan memimpin tawuran melawan sekolah tetangga yang selalu cari masalah."


"Kak Reyhan? Tawuran?" Menggeleng tidak percaya.


"Iya, tapi itu yang pertama dan terakhir. Itu juga karena Kakak Lu diteror mulu sama si Vero, bocah sialan yang tolol! Sudahlah, intinya tawuran terjadi, dan saat itu Kak Lyra kebetulan lewat dengan sekeranjang barang laundry yang harus ia antar. Tapi, sama sekali nggak ada jalan karena para penduduk pada lari ketakutan. Singkat cerita, Kak Lyra turun dan menolong salah satu murid yang hampir babak belur dan dia Reyhan kakak Lu!"


Rania menghentikan langkahnya, tangan Erick ikut tertarik karena tangan Rania masih ia genggam. "Wah, Kak Lyra... Sekeren itu kan." Rania melompat kegirangan.


Erick tersenyum, "ternyata Lu sesuka itu sama Kak Lyra ya?"


"Ya, memang Kak Lyra kan selain cantik dia juga sangat baik hati. Beruntungnya aku bertemu dengan sosok Kak Lyra."Menatap hamparan danau yang mereka lewati.


"Kak Lyra memang baik sih, kalau nggak mana mau si Reyhan." Erick menimpali.


"Oh ya, terus bagaimana kelanjutannya?" tanya Rania yang mulai tertarik.


Sepanjang jalan, Erick menceritakan kisah Reyhan dan Lyra sejauh yang ia ketahui. Dan, selama itu reaksi Rania yang heboh selalu membuat Erick jengkel dan tetap sabar melanjutkan ceritanya.


Rania berhenti di depan sebuah rumah berbentuk minimalis berlantaikan dua serta memiliki desain ala Eropa.


"Nggak mampir dulu Kak?* tanya Rania.


Erick menggeleng, "enggak deh, gue masih ada urusan. Masuk gih jangan lupa mandi terus makan dan tidur ya. Ini buku Lu. Gue pergi ya, bye!"


Rania mendesah, "Kak Erick orang ter-aneh sih! Punya mobil pilih jalan kaki.


"Kamu juga sama," bisik seseorang yang tak lain, Marta.


"Mama.... " Rania terlonjak kaget.


"Bikin kaget saja." Rania mengusap dadanya yang sesak.


Marta tertawa, "Kamu tuh, masuk rumah diam-diam kayak pencuri saja. Mandi sana, asam tahu," jawabnya, sambil mengacak-acak rambut Rania.


Rania tak bergeming, seolah pasrah dengan perlakuan mama angkatnya itu.


"Nenek mana Ma?" Menerawang ke sekeliling mencari sang nenek.


Marta menggeleng, "aduh kamu ini, bisa-bisanya lupa. Jam segini kan waktunya si nenek tidur."


"Eh iya, aku mandi dulu ya Ma!" Berlari pelan, naik ke lantai dua.


Hmm... Erick Dan Rania? Boleh juga.


***


Rania lari tergesa-gesa, masker topeng masih menempel di wajahnya.


"Kakak ini kenapa sih tiba-tiba datang? Udah kayak jelangkung saja!" Menepuk pundak Erick.

__ADS_1


"Ini, aku bawakan burger, bukannya dari kemarin kamu merengek minta dibelikan," ujar Erick sembari menyodorkan satu kotak berisi burger.


Rania menggelengkan kepalanya, "nggak ah, aku diet!"


Erick memperhatikan Rania dari ujung kepala hingga kaki. "Sudah seperti tengkorak begini bagian mana yang mau dikurangi. Sudah ambillah, pegal nih."


"Makan aja sendiri aku nggak mau gemuk!" Tetap pada pendiriannya. Akhir-akhir ini, Rania memang memperhatikan tubuhnya yang mulai berisi. Pipinya yang dulunya tirus kini terlihat chubby.


Akan tetapi, bukankah chubby itu tidak mengurangi kecantikan seseorang? Itulah yang tengah dipikirkan Erick.


"Apa Lu suka sama seseorang?" tanya Erick.


Sontak Rania terkejut, lalu tertawa.


"Apaan sih Kak nggak nyambung banget deh! Hanya karena aku diet, nggak mungkin kan suka seseorang." Rania mendelik.


Erick menarik pelan tangan Rania, "ini ambil, gue mau pergi dulu." Membelakangi Rania.


Rania menatap punggung Erick yang mulai melangkah menjauh.


Drrrrrttt Drrrrrrrrttt Drrrrrrrttt


Erick menatap nama kontak yang tengah menghubunginya, Hello Auntie, Karina is at home. Alright I'll be there now."


"Mau malam mingguan ya! Cie-cie.... "


"Ssst... Masuk gih belajar yang benar sana! Bye!" Melambaikan tangannya serta tersenyum lebar.


Rania tersenyum, akan tetapi senyumannya segera memudar ketika mobil Erick sudah jalan.


Mungkin aku yang salah mengartikan perhatianmu Kak!


Menatap bungkusan burger, kemudian kembali masuk.


Di dalam kamar, konsentrasi Rania tak lagi seimbang. Gadis itu uring-uringan, malas menyentuh tumpukan buku yang harus ia hapal.


Ia pun membaringkan tubuhnya, tak sengaja tangannya menyentuh ponselnya. Ia membuka galeri yang tersimpan di memori ponselnya. Terlihatlah, kumpulan poto-poto Rania bersama Erick.


"Dilihat dari segi mana pun kita jelas berbeda. Bisa-bisanya, aku punya rasa sama Kakak." Mengusap salah satu poto itu.


"Aku tetap terlihat seperti upik abu yang merindukan rembulan. Ingin rasanya, aku keluar dari lingkaran ini, lingkaran yang mengikatku untuk selalu mengingatmu. Tapi, bagaimana caranya?" Menatap langit-langit kamarnya.


***


Rania memandangi ke sekelilingnya berbeda dari biasanya, sosok Erick yang sering menjailinya tak menunjukkan barang hidungnya pagi ini.


Rania keheranan, tapi mengingat nama "Karina" ia pun melangkah dengan kesal.


"Apa dia menghabiskan malam dengannya? Sabar, Rania harusnya kamu bersyukur dengan begini cepat atau lambat keinginanmu untuk melupakannya akan segera tercapai." Berlari pelan, mencoba menghibur dirinya yang tengah galau.


Tiba-tiba, tak disangka-sangka hujan turun padahal hari itu cuaca sangat cerah.


Sontak langkah Rania terhenti, "bagaimana pun caranya aku menghibur diri tetap saja hatiku kelabu rasanya sakit sekali." Gadis itu berjongkok kemudian menangis sejadi-jadinya.


Tiba-tiba, seseorang memayungi Rania. Gadis itu menatap siapa sosok itu. Kedua matanya menangkap sepasang bola mata yang indah yang telah ia dambakan sejak lama.


Sosok itu menghapus air matanya, "apa dengan mandi air hujan, kamu bisa meluapkan kesedihanmu?" Suara yang selalu Rania dengar, ocehan yang kian berganti, pemilik yang membuat hatinya perlahan berbunga. Berbeda dari biasanya, hari ini sosok itu tak memanggil dengan sebutan *Lu*.

__ADS_1


BERSAMBUNG


TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA, DITUNGGU HUJATANNYA.


__ADS_2