
"Apa? Dia Reyhan Almirza?" Memelotot kaget seolah tak percaya.
"Matilah kita karena sudah membuatnya marah."
"Kau harus tanggung jawab karena kaulah kami jadi ikut-ikutan mengeroyoknya." Salah satu teman Rio menunjuk marah ke arahnya.
"Aku tidak mau dipecat, aku butuh uang untuk melamar kekasihku." Berjongkok tak berdaya sambil menutup wajahnya.
Rio terdiam mematung, ia menggigit ujung bibirnya yang bergetar.
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
"Berhenti Rey!" teriak Lyra yang kesekian kalinya karena sedari tadi memberontak namun sama sekali tak digubris Reyhan.
Reyhan masih menarik tangannya pandangannya tetap fokus ke depan tampak tajam dan pastinya dengan amarah yang menggunung di dalam hatinya.
"Rey tanganku sakit, Rey!" teriak Lyra lagi dan kali ini berhasil membuat langkah Reyhan terhenti.
Ya, dengan wajah yang terlihat panik Reyhan memeriksa kulit pergelangan tangan Lyra yang mulai memerah.
"Ma-maafkan aku, aku tidak sengaja melakukannya." Mengelus pelan tangan Lyra dan menundukkan kepalanya pertanda menyesal.
"Rey, apa bagusnya mengancam orang seperti tadi?" Menatap ke arah Reyhan dengan serius.
Reyhan menegakkan pandangannya ke arah Lyra.
"Kamu-
"Aku tidak bermaksud membelanya Rey, aku hanya ingin berbicara tentang sifat kemanusiaan, apa kamu punya Rey? Mereka sangat mencintai pekerjaannya maka dari itu mereka mencoba sebisa mungkin menjaganya dengan baik. Mesin capit yang kamu rusak dengan gampangnya itu, menurutmu kalau mereka diam saja apa yang akan terjadi pada mereka sudah pasti dipecat dan dimintai ganti rugi karena dianggap tidak becus padahal itu ulah kamu sendiri."
Reyhan terdiam, dia beradu tatapan dengan Lyra. Reyhan menatap Lyra tajam, sementara Lyra sendu.
"Aku pernah merasakannya Rey, betapa lelahnya aku menyetrika pakaian orang lain namun dengan gampangnya orang itu mencampakkannya ke wajahku hanya karena ada noda getah di pakaiannya yang tak bisa aku hilangkan, itu sakit Rey sangat sakit aku-
Belum selesai Lyra berbicara, Reyhan menarik tubuh Lyra ke pelukannya. Matanya mulai berkaca-kaca mendengar perlakuan tidak adil yang dialami kekasihnya itu.
Lyra mendengar jelas degup jantung Reyhan yang setara dengan telinganya, terdengar seperti sedang kejar-kejaran, Lyra tahu Reyhan sedang berusaha meredam emosinya yang tadinya sudah meluap-luap dan hampir meledak namun Lyra berhasil membuatnya perlahan-lahan padam.
"Baiklah, ayo kita pulang," bisik Reyhan membuat senyuman Lyra mengembang.
"Tapi bagaimana dengan petugas penjaga time zone itu?" tanya Lyra sambil melepaskan pelukannya.
Tanpa menjawab pertanyaan Lyra, Reyhan langsung mengambil ponsel dari sakunya, kemudian menghubungi seseorang.
"Redro time zone milik grup setiawan, kirimkan mereka 5 mesin capit dan usahakan berisi boneka yang menarik dan juga...," Reyhan terdiam sejenak melihat senyuman haru Lyra ke arahnya.
"Dan berikan pada karyawan yang bernama Rio uang 5 juta tidak lebih tidak kurang sebagai permintaan maafku serta berikan obat perawatan medis secara gratis kepada penjaga time zone lainnya yang telah kuhajar tadi." Reyhan pun mengakhiri sambungan telepon tersebut.
Reyhan menggenggam tangan Lyra, ia berusaha menyembunyikan wajahnya yang mulai malu karena telah melakukan tugas mulia yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Lyra mengerti dengan situasi sikap Reyhan saat ini, dia hanya diam namun sesekali tersenyum melihat perubahan sikap Reyhan barusan.
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
"Apa kepalamu tidak sakit mendongak ke arahku terus?" tanya Reyhan yang sedang fokus menyetir.
"Rey, pernakah ada yang bilang wajahmu itu sangat tampan?" tanya Lyra balik.
"Setiap aku bertemu manusia, aku selalu mendengar kata-kata itu bahkan Erick si gila itu membuatku merasa kalau dia tidak normal karena setiap bertemu dia selalu mengungkapkan kata-kata itu, tapi kamu-
"Aku belum pernah mendengar kamu mengatakannya". Reyhan menatap serius pada Lyra.
Aku selalu mengatakannya di dalam lubuk hatiku paling dalam, hanya saja mulutku terasa kaku untuk mengatakannya. Batin Lyra.
__ADS_1
"Tapi pernahkah ada yang mengatakan kamu cantik?" tanya Reyhan.
Lyra terkejut bukan main mendengar pertanyaan yang ditodongkan Reyhan padanya.
"Haha Siska sering mengatakannya, aku rasa kita sama-sama punya teman yang tidak normal hanya saja aku tidak pernah mendengar orang lain mengatakannya, pernah pun sekali waktu kita camping itu juga siswi sekelasmu." Tertawa malu.
Aku juga mengatakannya dari kejauhan aku hanya bisa menatapmu dengan Fardan, kamu tampak sangat bahagia di dekatnya. Tapi kini kamu sudah berada di dekatku dan aku sangat bahagia. Batin Reyhan.
"Fardan pasti pernah mengatakannya." Pernyataan dari Reyhan membuat tawa Lyra yang menggelegar terhenti.
Lyra terdiam, ia berusaha tenang menghadapi Reyhan yang sedikit labil.
"Tapi aku juga sering mengatakannya karena bagiku biar bagaimanapun kamu terlihat sangat cantik," ujar Reyhan.
Ya Tuhan si Reyhan yang dingin ini kenapa harus mengatakan hal itu membuatku semakin malu saja. Batin Lyra.
"Sudah sampai," ujar Reyhan menghentikan mobilnya tepat di halaman rumah Lyra.
Lyra melihat ke arah Reyhan seperti ada sesuatu yang menahannya untuk tidak pergi dari mobil. Lyra pun turun dari mobil Reyhan, saat dia berjalan tiba-tiba bayangan perlakuan manis menghujam di tiap langkahnya. Pelukan, mencium kening, menjaga, melindunginya serta senyum tulus Reyhan padanya. Langkah Lyra terhenti, ia berbalik ke arah mobil Reyhan yang masih terparkir di tepi jalan depan rumahnya.
Lyra berjalan balik mendekati mobil tersebut, Reyhan yang melihat Lyra berjalan ke arahnya pun keluar dari mobil. Mereka saling bertatapan begitu dalam, Lyra memperhatikan tiap sudut wajah Reyhan dan mulai bergerak berjalan pelan ke arah Reyhan yang masih berdiri tegak.
Lyra mencium pipi Reyhan lalu berlari masuk ke dalam rumah seolah tersadar perlakuannya yang malu untuk dia akui. Reyhan masih mematung ia mengelus pelan pipinya, wajahnya tampak memerah meskipun ditutupi gelapnya malam.
Malam itu pun berakhir dengan sangat manis, dua insan yang dimabuk cinta seolah terperanjat dalam mimpi indah yang tidak akan rela mereka lepaskan.
_________________________________
Pagi pun tiba seperti biasa sinar matahari menerobos masuk ke jendela kamar Lyra namun kali ini sangat terasa menusuk ke kulit wajahnya.
"Ah, kenapa panas sekali?" Lyra membuka matanya perlahan samar-samar ia lihat jendela yang berukuran besar itu terbuka lebar, tidak heran sinar matahari terasa begitu menusuk.
"Apaan sih, aku ini masih ngantuk Sis, bisa tidak jangan menggangguku." Menarik selimut dan kembali tidur.
"Bangun gih, ada Reyhan tuh." Menarik selimut yang Lyra pakai.
"Apa? Dari kapan dia disini? Kenapa kamu baru bilang?" Panik tak menentu.
"Hahaha..., kenapa kamu terlihat ketakutan? Mana mungkin sepagi ini Reyhan bertamu, cepat mandi gih kamu terlihat berantakan sekali." Melempar bantal ke wajah Lyra.
"Siska kamu mengerjaiku, awas akan ku balas!" teriak Lyra.
Siska berjalan keluar dari kamar, ia pun menyajikan sarapan di atas meja. Sambil menunggu Lyra selesai mandi, ia meraih ponselnya dan mulai mengetikkan beberapa kata untuk Redro yang sekarang jadi pacarnya.
Siska: Pagi beb udah bangun belum?
Redro: Sudah.
Siska: Udah sarapan belum?
Redro: Sudah.
Siska: Udah mandi belum?
Redro: Sudah.
Siska pun berhenti mengirim pesan pada Redro, merasa Redro terlalu cuek karena hanya membalas pesan singkat dan tanpa basa-basi.
"Kenapa mukamu jadi cemberut gitu?" tanya Lyra yang sudah selesai mandi dan balutan handuk di kepalanya.
"Tidak apa-apa, aku laper nih makan yuk," jawab Siska.
__ADS_1
Selama mereka makan Lyra diam-diam melirik Siska yang masih tampak cemberut wajah kesalnya tak bisa ia sembunyikan.
"Wah masakanmu hari ini enak lho, Sis," puji Lyra.
"Sebenarnya aku sudah punya pacar baru, Ra." Siska mengerti dengan pujian yang diungkapkan Lyra terhadapnya, hanya memancing agar Siska mencurahkan kegundahannya yang saat ini ia rasakan.
"Ah, benarkah?" Tersedak dan memelotot kaget.
"Iya, kamu sudah sangat mengenalnya."
"Wah selamat Sis, akhirnya kalian jadian juga dan kamu nggak jomblo lagi." Memeluk Siska dengan semangat.
"Memangnya kamu tahu siapa?" Siska melepaskan pelukan Lyra dan memasukkan sesendok makanan ke mulutnya.
"Kak Fardan, kan." Penuh semangat.
"Prrrt, minum, minum!" teriak Siska yang tersedak mendengar pernyataan Lyra.
"Kenapa Sis? Bukan kak Fardan ya?" Bingung dan penasaran pun terlihat jelas di wajah Lyra.
"Bukan Ra, tapi Redro." Melanjutkan minum air karena merasa perih di tenggorokannya akibat tersedak tadi.
Mendengar pernyataan Siska, Lyra sempat shock rentetan batuk kecil keluar dari mulutnya.
"Kok bisa sih, Sis? Kapan jadiannya?"
"Kamu ingat nggak kemarin siang dia datang dan bilang mau bicara empat mata ternyata dia mau menyatakan cinta," jelas Siska dengan mimik wajah yang heboh seolah-olah menggosip kisah orang lain.
"Wah serius aku nggak nyangka lho Sis, kamu jadian sama dia gimana perasaan kamu?" tanya Lyra.
"Jangankan kamu, aku aja sampai bingung ini mimpi atau nggak, tapi sebenarnya aku juga bingung menghadapi sifatnya yang dingin, aku heran Ra nasib kita kok bisa sama-sama dapetin kutub es seperti mereka berdua." Menyandarkan tubuhnya dan mengangkat wajahnya melihat langit-langit rumah.
"Sabar, kalau dia sayang sama kamu pasti sifatnya akan mencair seiring berjalannya waktu." Mengelus pundak Siska.
Siska mengangguk lalu tersenyum.
"Kita makan yuk, ngapain bahas mereka buang-buang tenaga saja." Menarik tangan Siska lalu memberikan sepiring nasi serta lauk milik Siska tadi.
::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Reyhan keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga menuju ke lantai satu. Tampak senyuman salah tingkah terlukis di wajahnya.
"Pagi Bik Sum, Bik Na, Bik ja, Bik Ri dan Bik Diana," sapa Reyhan yang kedengarannya seperti sedang mengabsen para ART yang sedari tadi menantinya di ruang makan.
"Pagi, Den," jawab mereka serempak tampak senyum singkat mereka yang dengan cepat berubah.
"Ada apa Bik? Kenapa tampak sedih? Apa telah terjadi sesuatu?" Reyhan menatap bingung dengan ekspresi mereka yang tidak menentu di pagi hari.
"Reyhan." Seseorang memanggil namanya.
Reyhan menoleh dan ia sangat dikejutkan dengan sosok itu.
Tebak-tebakan yuk !!!
Siapakah sosok yang memanggil Reyhan ?
BERSAMBUNG.....
Terima kasih sudah mampir jangan lupa like, komen dan vote ya klo ada poinnya hahaha luv u readers
__ADS_1