
Siska memperhatikan Redro yang sibuk menata rambutnya. Ia pun mendekati pria yang beberapa hari yang lalu telah sah menjadi suaminya itu.
Siska menggeleng heran, "rambut tak seberapa saja, begitu susah untuk kamu rapi kan. Duduk lah biar aku saja yang menyisirnya. Rambutmu tebal juga ternyata," ujar Siska sambil menyisir rambut Redro.
"Nanti biasanya pulang jam berapa?" tanya Siska.
"Tidak menentu, tergantung jenis klien yang dihadapi," jawab Redro.
Siska berhenti menyisir rambut Redro, "jenis klien yang dihadapi. Memangnya ada berapa macam jenisnya, apa ada yang berbentuk seperti alien atau-"
"Maksudku, sifatnya. Satu klien sifatnya berbeda dengan yang lain, ada yang rewel atau lain lah sifatnya," jawab Redro.
Siska mengangguk mengerti, "wah! Ternyata enggak semudah yang aku pikirkan ya. Reyhan menempatkanmu di tempat yang cukup sulit ternyata. Kasihannya suamiku," ujarnya lalu memeluk tubuh Redro.
"Tidak! Den Reyhan tidak bersalah, kalau aku mau posisi yang lain dia tidak akan keberatan. Hanya saja, aku suka sebuah tantangan. Menghadapi jenis klien membuatku semakin mengerti sifat manusia dan aku akan gampang menebaknya," jawab Redro.
Siska segera melepaskan pelukannya, "jadi kalau aku bagaimana? Apa aku gampang kamu tebak?" tanyanya dengan penuh percaya diri.
"Ya, tentu saja. Dari awal bertemu, caramu memandangku dengan sepasang mata yang tak berkedip serta mulut mendongak. Kamu sudah menyukaiku dari saat itu, bukan." Perkataan Redro membuat Siska memelotot kaget, ia sangat malu.
"Kamu benar, saat itu aku berpikir ada ya seorang pengawal setampan itu? Ya, walaupun Reyhan lebih tampan sih tapi kamu terlihat manly. Aku jadi penasaran kapan kamu mulai menyukaiku?"
"Oh itu, aku juga tidak ingat." Jawaban singkat Redro membuat Siska kesal.
"Ayolah, aku penasaran banget nih," rengek Siska sambil menggerak-gerakkan tubuhnya bak anak kecil yang sedang meminta permen.
Redro berdehem, "sebenarnya setelah menyatakan cinta padamu. Aku berpikir keras malam itu, terlebih lagi saat kamu mengecup pipiku di dalam mobil waktu itu. Aku merasa tidak tega membohongimu, makanya aku berusaha mengabaikan semua pesan-pesanmu. Itu kulakukan agar kamu membenciku tidak disangka sehari tidak melihat pesanmu aku sangat merasa ada yang hilang. Lalu, beberapa hari kemudian aku memutuskan untuk berkata jujur tentang kebohonganku dan menyatakan cinta secara resmi. Tetapi, malah berakhir dengan tamparan dan makian, aku salah jadi, aku pantas mendapatkannya," jelas Redro.
"Ah sayang, maaf ya. Aku terlalu emosi saat itu, sedih banget rasanya. Jadi, aku lampiaskan dengan tamparan agar aku bisa membencimu dan segera melupakanmu," jawab Siska sambil tersenyum canggung.
Redro memperhatikan jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sudah waktunya berangkat, rambutku juga sudah rapi." Berjalan mendekati Siska.
Cup! Cup!
Betapa terkejutnya Siska ketika Redro mengecup kening dan bibirnya.
"Aku berangkat dulu, ya," ujar Redro sambil mengecup kembali kening Siska.
"I-iya hati-hati," jawab Siska dengan suara terbata-bata.
Redro tersenyum, ia pun beranjak keluar dari kamar. Tinggallah Siska yang masih bengong tidak percaya dengan perlakuan Redro barusan.
***
Para pemegang saham memperhatikan Reyhan yang sibuk dengan ponselnya. Mereka begitu setia menunggu sang pimpinan membuka suara.
Sementara itu, jemari Reyhan tampak begitu antusias menari di atas ponselnya.
Reyhan-> Lagi apa?
Lyra-> Nonton, kalau kamu?
Reyhan-> Memikirkanmu?
Lyra-> Cie-cie sudah bisa menggombal nie...."
Reyhan-> Apa aku terlihat suka sama hal seperti itu?
Lyra-> Itu buktinya, lagi kerja malah
bilang memikirkan aku.
Reyhan-> Benaran kok, sekarang kami sedang rapat. Mereka sedang menunggu argumenku.
Lyra-> Ya ampun, kalau begitu sudah dulu.
Reyhan-> Aku tidak mau.
Beberapa detik kemudian...
Reyhan-> Lyra balas pesanku.
__ADS_1
Reyhan-> Lyra aku akan memakanmu.
Dia mengabaikanku. Batin Reyhan.
Salah satu pemegang saham berdehem, membuat pandangan Reyhan mengarah padanya.
"Ehm, untuk rapat hari ini saya akan membahas tentang fashion show yang akan diadakan minggu ini. Memang mendadak, aku sengaja melakukannya untuk melihat bisakah perusahaan ini menghasilkan orang-orang pekerja kompeten. Jadi, siapkan para model sertakan juga desainer nya. Saya harap tidak akan mengecewakan." Perkataan Reyhan membuat para pemegang saham memelotot kaget. Masing-masing dari mereka membatin. Bagaimana bisa Reyhan membahas hal ini dengan mereka bukannya dengan para staf?
"Apa ada pertanyaan?" tanya Reyhan.
Seorang pria paruh baya mengacungkan telunjuknya, "saya! Kenapa malah membahas ini dengan kami bukannya dengan para staf?" tanyanya lantang.
Reyhan menyunggingkan senyumannya, "bagian para staf ada Redro yang menyampaikan, bukankah sebagai pemimpin seharusnya membagi cerita ini kepada para pemegang saham? Kalian berhak tahu karena perusahaan ini milik kita bersama. Ingatlah sebuah rumah akan bertahan lama bila tiang kokoh sebagai penyanggahnya. Bekerjasama lah maka perusahaan ini akan panjang umurnya," jawab Reyhan dengan tenang membuat para pemegang saham terdiam.
"Baiklah, karena tidak ada lagi yang mau dibahas saya permisi dulu." Bangkit dari duduknya lalu beranjak keluar. Dan tinggallah para pemegang saham lainnya saling berpandangan dan menggerutu.
Setelah selesai berdandan, Lyra segera menyiapkan bekal makan siang untuk Reyhan. Ya, tadi pagi wanita itu mengatakan akan mengunjungi sang suami di perusahaan.
Ting! Tong!
"Ada yang datang. Siapa, ya?" gumam Lyra sambil melangkahkan kakinya menuju pintu. Diperhatikannya monitor LCD untuk melihat sosok yang bertandang.
Lyra mengerutkan dahinya, pasalnya ia tidak mengenal siapa tamu tersebut. Tetapi, mengingat apartemen suaminya memiliki sistem keamanan yang ketat, tak ada yang perlu ia takuti. Lyra pun membuka pintu tersebut.
"Cari siapa ya?" tanya Lyra, berpikir bahwa sang tamu salah alamat.
Tamu perempuan itu tersenyum, "bolekah, saya masuk?" tanyanya.
"Oh, iya tentu. Silahkan." Lyra meminggirkan tubuhnya, mempersilahkan perempuan itu masuk, Lyra menutup pintu kembali.
"Silahkan duduk, mau minum apa teh, jus atau-"
"Tidak perlu repot-repot, saya tidak akan lama," jawabnya.
"Baiklah."
"Sebelumnya kita sudah pernah bertemu. Apa kamu ingat?" tanya perempuan itu, segera Lyra memutar otak namun, nihil wanita itu tak kunjung mengingat sosok yang ada di depannya.
Perempuan itu tertawa, "saya yang bodoh, mungkin saat itu kamu juga sedang tidak sadar jadi, tidak terlalu memperhatikan aku."
"Perkenalkan, saya Zavica kamu bisa memanggilku Vica. Saya temannya Reyhan. Mungkin Reyhan tidak pernah menceritakan apapun tentangku." Mengulurkan tangannya.
"Saya Lyra, senang berkenalan denganmu. Sebelumnya, saya sudah pernah mendengar nama mu hanya saja, baru sekarang bertemu dengan orangnya langsung." Membalas uluran tangan Vica.
"Wow! Sangat mengejutkan sekali jika Reyhan menceritakan tentangku. Aku tidak menyangka si batu es itu masih mengingatku," ujar Vica sambil tersenyum tipis.
Lyra terkekeh. "Bukan Reyhan yang menyinggungmu. Tapi, aku tahu tentangmu dari Fero," jawabnya.
"Fero? Kamu mengenalnya juga. Bukankah dia dan Reyhan bermusuhan? Tidak mungkin Reyhan mengungkit tentang Fero yang jelas-jelas dia benci."
"Ya, kamu benar karena bukan Reyhan yang menceritakannya. Akan tetapi, saat itu aku korban sekap oleh Feronica, adiknya. Dan dari situ juga lah aku sempat mendengar sepenggal nama mu," jawab Lyra.
"Apa? Anak bodoh itu masih se-brutal itu? Maaf kalau saya bicara tidak sopan, saya benci pada sifatnya yang sedari dulu yang tidak berubah. Bisa nya membuli orang-orang yang lemah. Dan, saya salah satu nya hanya saja, dia melepaskanku karena aku dan Fero sahabatan."
"Tetapi, itu sudah berakhir lama. Sekarang, kami cukup bahagia menjalani biduk rumah tangga tanpa orang-orang seperti mereka."
Vica tersenyum, "aku iri padamu, Reyhan begitu mencintaimu. Tidak sepertiku yang selalu hanyut dalam harapan semu tak berujung."
"Apa maksudnya? Bukankah kamu dan Fero saling menyukai? Tetapi, waktu itu kamu sedang sakit makanya memilih menjauhinya," tanya Lyra, tidak mengerti arah pembicaraan Vica.
"Itu hanya rencanaku saja untuk membuat Fero menjauhiku, karena aku tahu Reyhan sebenarnya juga memiliki rasa yang sama denganku hanya saja, dia memikirkan perasaan Fero," jawab Vica canggung.
Ya Tuhan, kenapa aku jadi cemburu, padahal itu hanya cerita masa lalu suamiku. Jadi, begini rasanya menjadi Reyhan yang selalu cemburu dengan apapun yang mencuri perhatianku. Batin Lyra.
"Maaf, aku bukannya mau membahas masalah itu. Tenang saja, aku tidak akan pernah mengganggu dia kok," ujar Vica sambil tertawa.
"Iya, aku tahu kok. Reyhan pasti setia karena dia sangat mencintaiku. Aku percaya padanya," jawab Lyra.
"Tetapi, jika dia menginginkanku. Aku juga tidak akan menolaknya."
"Apa?"
"Tidak apa-apa, lupakan saja. Mungkin aku terlalu lapar jadi, suka bicara sembarangan. Sudah siang, waktunya untuk pulang. Aku mengidap lambung makan terlambat pasti semakin parah. Lain kali, aku akan berkunjung kembali kalau Kak Lyra tidak keberatan," jawab Vica sambil bangkit dari duduknya, kemudian beranjak dan diekori oleh Lyra.
__ADS_1
Tiba-tiba tumit sepatu Vica miring sebelah hingga membuatnya jatuh. Saat Lyra mau membantunya...
Klak!
Pintu terbuka, tampak Reyhan dengan wajah datarnya menatap Vica. Ia pun masuk tanpa membantu perempuan itu untuk bangkit.
"Rey," panggil Vica.
"Dimana bekalku?" tanya Reyhan pada Lyra.
"Ada di dapur," jawab Lyra.
"Maaf, saya pamit dulu," ujar Vica sambil merapikan pakaiannya.
"Maaf, tidak sempat membantumu. Aku terkejut melihat Reyhan," jawab Lyra canggung.
"Sama-sama, Rey aku pulang ya," ujar Vica, namun suami Lyra itu tidak menanggapi dan berjalan masuk rumah.
Lyra tersenyum canggung. "Mungkin dia juga kehilangan fokus karena lapar. Hehehe...."
Vica tersenyum, ia pun beranjak pergi. Lyra segera menutup pintu itu kembali. Lalu, menemui Reyhan yang sudah berada di dapur.
"Kamu tidak datang ke perusahaan karena perempuan itu ya," ujar Reyhan.
Lyra menggeleng bingung, ia tahu jelas suaminya itu cemburu karena Reyhan paling benci pada sesuatu yang menarik perhatian Lyra selain dirinya.
Lyra menggeser kursi ke dekat Reyhan, ditatapnya lekat-lekat wajah suami kecilnya itu.
Cup!
Sebuah ciuman mendarat, Reyhan yang semula sedang mengunyah berhenti seketika kemudian, menoleh ke arah Lyra.
"Ada apa kali ini?" tanya Reyhan sedikit jutek.
"Enggak ada, lagi pengen cium saja. Memangnya tidak boleh ya," ujar Lyra sambil bergelagat manja.
Reyhan terdiam, ia kembali pada kegiatan makan siangnya membiarkan tangan Lyra membelai pelipisnya. Ia tahu jelas wanita itu sedang mencoba merayunya.
Bosan dengan tanggapan Reyhan yang biasa saja, Lyra segera berhenti. "Ternyata Vica itu cantik ya," ujarnya.
"Biasa saja," jawab Reyhan singkat.
"Kulitnya seperti bayi, halus dan lembut sedangkan aku kasar banget. Hanya orang gila yang suka padaku," ujar Lyra lagi.
"Jadi, apa aku terlihat seperti orang gila? Apa ada orang gila se-tampan aku?" tanya Reyhan, mengusap bibirnya dengan tisu lalu mengarahkan tubuhnya pada Lyra.
Lyra menatap lekat wajah Reyhan, "kamu benar, kamu sangat tampan hingga terkadang aku merasa bahwa kita tidaklah cocok."
Reyhan segera menggendong Lyra beranjak dari dapur menuju ruang tengah. Kini, wanita itu sudah berada di pangkuan suaminya, "jika cinta memandang fisik, bagaimana nasib-nasib orang yang wajahnya dikatakan di bawah rata-rata. Kita diciptakan sama, hanya sifat kita yang terlalu naif membeda-bedakan semua ciptaan Tuhan. Pernakah kamu berpikir kalau Tuhan akan marah pada orang yang tidak bersyukur?"
Lyra mendesah, "kamu benar, tidak sadar aku telah banyak mengeluhkan hal yang tidak perlu. Terima kasih sayang, telah mengingatkanku." Bangkit dari pangkuan Reyhan.
"Mau kemana?" tanya Reyhan.
"Ke kamar, tidur dulu. Entah kenapa aku sangat mengantuk."
"Acara merayu nya tadi sudah selesai ya. Hanya begitu saja?"
"Apa?"
"Jangan harap kamu bisa lolos," ujar Reyhan sambil berjalan mendekati Lyra.
"Kabur...!" Berlari lalu menutup kamar.
"Lyra, buka pintunya atau pintu ini aku hancurkan." Terus mengetuk pintu dengan kuat.
Lyra membuka pintu, wajahnya tampak kesal. "Gampang banget menghancurkan pintu, ini pintu mahal tahu," ujarnya.
"Siapa suruh kabur." Menarik lalu mendorong Lyra ke tempat tidur. Kemudian menguncinya di dalam pelukannya. "Kalau mau tidur, jangan pernah sendiri tanpa aku ya. Mimpimu akan indah bila berada di pelukanku," ujar Reyhan sambil mengelus rambut panjang sang istri.
Dan benar saja, tak perlu menunggu waktu lama setelah Lyra memejamkan kedua matanya mimpi indah pun muncul. Kedua insan itu pun menghabiskan tidur siang yang hangat.
__ADS_1