
Redro tampak serius memperhatikan monitor laptopnya. Berkali-kali pria itu mengerutkan dahinya. Sementara itu, Siska sibuk dengan masakannya yang sebentar lagi akan selesai.
"Akhirnya selesai juga, pasti si bebeb suka." Menyajikan masakannya di atas meja makan.
"Beb, makan yuk!" teriaknya heboh sambil berjalan menuju kamar.
Siska memeluk Redro dari belakang, "wah! Desainnya bagus banget jadi pengin lihat hasil nyata nya," ujar Siska.
"Sebentar lagi kami akan mengadakan fashion week minggu ini. Den Reyhan sengaja membuat acara dadakan yang bertujuan melihat pekerjaan para staf."
"Enggak heran sih, anak itu memang sangat jenius. Sudah kerjanya, kita makan yuk! Aku masak enak lho hari ini," jawab Siska sambil menarik tangan Redro untuk segera bangkit.
Redro menurut, mereka pun beranjak ke dapur. "Kamu masak ini semua?" tanya Redro dengan kedua mata membulat.
"Yup! Tentu saja, ayo makan lapar nih," sahut Siska sambil mengelus perutnya.
Mereka pun makan, keadaan hening Siska disibukkan dengan mengunyah makanan bahkan menyuapi Redro dengan beberapa kali.
***
Acara fashion week yang sangat dinanti-nanti, tiba. Tak sedikit tamu dari kalangan selebriti ternama menghadiri acara yang dipimpin Reyhan tersebut. Tak lupa juga para wartawan mengabadikan acara tersebut. Kini, nama Reyhan bukanlah sekedar hembusan angin lewat namanya kini cukup tersebar luas hanya wajahnya yang masih samar untuk dikenal mengingat Reyhan berusaha menjaga privasinya.
"Kamu cantik, sangat cantik," puji Reyhan mendekatkan wajahnya dengan wajah Lyra yang sudah selesai dirias. Kali ini, Reyhan sengaja mengundang make up artis untuk merias istrinya.
Lyra tersenyum malu, wajahnya bersemu merah. "Acara ini sangat berarti untukku, sebelumnya aku sering menonton fashion week tapi lewat tv. Sekarang suamiku malah yang memimpin acara ini. Aku bangga padamu, sayang," jawab Lyra.
"Ini kulakukan untukmu, semuanya untukmu. Aku ingin selalu berbagi kebahagiaan yang aku punya hanya untukmu," jawab Reyhan lalu mengecup kening Lyra.
Lyra memeluk Reyhan, "kamu selalu saja membuatku terharu," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
"Permisi Den, acara akan dimulai. Kita bisa langsung menuju kursi VIP." Redro dengan wajah datarnya datang tidak sengaja mengganggu pasangan yang sedang beradegan mesra itu.
Reyhan bangkit lalu mengulurkan tangannya pada Lyra. Lyra menggandeng siku Reyhan. Mereka berjalan diekori Redro dari belakang.
Acara pun dimulai, para pengunjung dari kalangan sosial tinggi menunduk begitu Reyhan berjalan melewati mereka. Para karyawan Reyhan melihat Lyra, pasalnya mereka baru saja mengenal istri sang pemimpin perusahaan Almirza.
"Sepertinya mereka sedang memperhatikan aku," bisik Lyra merasa tidak nyaman.
"Apa perlu kucongkel mata mereka satu persatu?" tanya Reyhan membuat mata Lyra membulat kaget.
Lyra menggeleng, "aku rasa aku yang terlalu geer. Hehehe...," jawabnya lalu tertawa yang dibuat-buat.
Seorang pembawa acara pun mulai membuka suara pertanda acara akan segera dimulai. Lyra yang tidak terlalu mengerti dengan apa yang diucapkan sang pembawa acara mulai membuatnya bosan.
"Lyra," panggil Siska yang memakai gaun merah serta sepatu senada dengan warna gaun yang ia kenakan.
"Siska, cantik sekali," puji Lyra.
Siska berjalan menghampirinya, diikuti Redro. Mereka berdua duduk tepat di samping Lyra.
"Acara ini sebenarnya sangat tidak cocok sama orang yang buta bahasa Inggris. Mana para model, lama lagi," ujar Siska.
"Hush! Suamiku bekerja keras untuk melakukannya. Diam dan nikmati," jawab Lyra.
"Iya iya. I'm sorry Madam," ujar Siska membuat Lyra terkekeh.
Lyra melirik Reyhan yang tampak serius dan hikmad mendengar sang pembawa acara berbicara.
Dia ini, dalam situasi apapun tetap tampan. Kapan jelek nya sih? Apa harus tunggu tua dulu ya. Batin Lyra tanpa berkedip sedikit pun.
Sadar Lyra sedang memperhatikannya, "kamu boleh kok menciumku nanti," ujar Reyhan nakal.
"Apa lagi ini, kamu kira aku segampang itu memberikan ciuman di depan orang banyak. Enggak kali," ujar Lyra.
Reyhan tersenyum simpul, "aku pastikan kamu akan menciumku nanti," jawab Reyhan.
Lyra diam seribu bahasa, di acara itu pun Reyhan masih bisa dengan santainya membahas hal intim.
__ADS_1
Cinta sih cinta tapi nggak segila itu. Banyak orang lain yang mengenalnya. Jika kemesraan terumbar pasti mereka akan meremehkannya. Tidak akan, aku tidak akan melakukannya walau aku ingin sekalipun. Batin Lyra.
Acara kedua dimulai para model mulai berjalan melenggak lenggokkan tubuhnya, bergaya memamerkan lekuk tubuh serta gaun rancangan yang mereka pakai.
Lyra tak berkedip memperhatikan para model, "Lihat, Sis perempuan yang itu cantik banget. Postur tubuhnya sangat idealis sekali, terdampar kita yang pendek," ujar Lyra.
"Kamu benar, Ra. Hahaha..., jadi malu sendiri," jawab Siska.
Reyhan berdehem, "Itu tidak penting, layananmu padaku lebih membuat mereka terdampar. Aku bahkan tidak merasakan apa-apa saat melihat mereka. Berbeda denganmu, mendengar suaramu saja jantungku hampir meledak," bisik Reyhan membuat Lyra tersenyum canggung.
Gila, ini laki pikirannya kemana sih? Cewek secantik itu bahkan membuatnya tidak bernafsu. Kalau aku yang jadi kau mungkin akan kutiduri semuanya. Batin Lyra.
Tiba-tiba ada rancangan yang menarik perhatian Reyhan. Otaknya berputar mengingat masa lalu ia dan Vica lalui. Ya, Reyhan lah yang tidak sadar bahwa ia sendiri, orang yang pertama kali mengajari Vica belajar desain.
"Baju yang ini cantik banget, Rey!" seru Lyra. Namun, Reyhan masih dalam diam nya. Ada rasa kesal di wajahnya, kesal pada Vica yang sengaja mengingatkannya ke masa lalu yang telah ia kubur dalam-dalam.
Lyra terus memperhatikan model gaun yang memiliki warna putih itu. Rasa ingin memiliki mulai menyerang batinnya. Tetapi begitu sang pembawa acara menyebut nama perancangnya, ia langsung mengurungkannya.
"Baiklah, karena para perancang sudah berada di atas panggung. Ada baiknya, kita panggil pemimpin acara sekaligus pemimpin perusahaan Almirza. Mari kita sambut ini lah dia, Reyhan Almirza!" seru si pembawa acara, Reyhan berjalan menuju panggung diiringi pujian serta tepuk tangan meriah.
Pembawa acara mengulurkan tangannya dan langsung dibalas Reyhan. "Wah, saya sudah mendengar kabar tentang Tuan Reyhan tetapi, baru kali ini bertemu dan bahkan berjabat tangan langsung. Anda, benar-benar sangat tampan. Sepertinya aku bagaikan kayu yang sedang terdampar," ujar si pembawa acara membuat orang-orang tertawa mendengar lawakannya.
"Hahaha..., James Corner, anda terlalu memujiku. Kita ini sama, tolong jangan memujiku aku takut terbang dan jatuh tiba-tiba. Itu, pasti sangat menyakitkan," jawab Reyhan dan orang-orang pun tertawa mendengar jawabannya yang lucu.
Kenapa dia lucu sekali sih? Jadi pengen mencubitnya. Batin Lyra merasa gemas.
"Sepertinya orang-orang tidak sabar mendengr rangkaian kalimat dari anda. Saya tinggl dulu, semuanya tepuk tangan lagi!" teriak James Corner dengan heboh.
Reyhan tersenyum, Mic diambil alih olehnya. "Baiklah, pertama-tama terima kasih kepada Tuhan yang selalu memberikan kehidupan serta keberuntungan hidup padaku. Terima kasih para karyawan yang memiliki jasa besar pada perusahaan ini, kalian nyawa utama dalam acara ini. Serta para staf perancang, koordinasi dan lain-lain. Para pemegang saham yang terus mendukung ide-ide yang saya sarankan. Pemimpin utama yang sebenarnya adalah Reygan Almirza papa saya, tetapi Tuhan lebih menyayanginya. Kemudian, Marta Arnelita, mama saya selama bertahun-tahun lamanya. Hanya saja, fisik mama saya tidak stabil yang akhirnya saya yang menjadi pemimpin perusahaan ini. Awalnya, saya ragu dan menolak tentunya. Tahu lah anak remaja yang seharusnya menikmati masa sekolah, bermain atau hal menyenangkan lainnya tiba-tiba diunjuk menjadi pemimpin perusahaan. Ayolah, ini lebih parah dari ujian nasional." Perkataan Reyhan sontak membuat orang-orang tertawa.
"Ya, saya terus menolak, menolak dan menolak. Hingga saya mendengar perkataan dari istri saya dia bilang, 'sayang perusahaan itu papa bangun dengan kerja keras. Coba kamu pikir kalau perusahaan itu hancur, papa pasti akan sangat kecewa' tiba-tiba seketika saya teringat kenangan masa kecil dengan papa yang terbilang sangatlah indah, dimana tutur kata yang lembut serta senyum hangat menenangkan saya yang cengeng karena jatuh mengejar kupu-kupu. Aku sadar yang dikatakan istriku benar adanya. Sayang terima kasih," lanjut Reyhan membuat orang-orang yang lainnnya terlihat bingung.
"Jadi itu istrinya, aku kira pacarnya."
"Apa orang Indonesia memiliki tradisi menikah muda?"
"Mereka tidak sabar melakukan ****."
"Padahal umur segitu belum tahu apa-apa tentang cinta."
Berbagai umpatan terdengar dari para penonton. Meskipun tidak terlalu memahami bahasa Inggris tetapi Lyra dan Siska tahu bahwa orang-orang sedang mengkritik Lyra dan Reyhan yang melakukan menikah diusia muda.
Lyra menundukkan kepalanya, mencoba menahan amarahnya. Sekilas ia melirik Reyhan yang masih di atas panggung sedang melempar senyuman padanya.
"Aku tahu, apa yang sedang kalian pikirkan. Aku memang menikah muda tetapi, apakah itu dilarang? Aku kaya, pintar dan tampan mau mencari apa lagi kalau bukan istri yang cantik. Ya, jujur saja aku lah yang memaksanya untuk menikah sebenarnya dia menolak tapi kupikir, aku mencintainya kenapa tidak menikahinya? Aku membutuhkannya karena aku mencintainya jadi, untuk apa menunda-nunda waktu. Aku bukanlah tipe yang bisa menyentuh dan menciuminya dengan bebas karena dia masih milik kedua orang tuanya belum milikku. Maka, dari itu aku menikahinya barulah aku bisa melakukan itu dengan bebas." Perkataan Reyhan disambut tepuk tangan oleh para penonton.
Seorang pria dewasa berdiri, "aku setuju itu. Tuan muda ini benar, aku sudah menjalin hubungan dengan pacarku cukup lama. Setiap sepulang berkencan aku selalu enggan berpisah darinya. Aku memang belum se-kaya tuan Reyhan. Tetapi, yang terpenting aku sudah punya usaha sendiri Nelcy Laura, maukah kau menjadi istriku?" Pria itu berlutut, membuat perempuan yang bernama Nelcy Laura menutup mulutnya serta memelotot kaget.
"Saat ini aku tidak punya cincin, aku hanya membawa jam hadiah ayah serta sepatu dari ibu. Mereka memberikan ini atas bukti cinta mereka padaku. Anggap mereka di sini sedang memberi restu," ujar pria itu.
Wanita itu belum menjawab, ia masih tidak percaya pacarnya melamarnya.
"Kalau kamu belum siap, aku tidak akan ma-"
"Bodoh, tentu saja aku mau," ujar wanita itu lalu mencium bibir si pria.
Sorakan orang-orang memenuhi gedung mewah tersebut. Lyra menoleh ke arah Reyhan yang melambaikan tangan memberi kode untuk ikut naik ke atas panggung. Lyra menuruti, ia pun naik dan langsung memeluk Reyhan.
"Jadi, masih belum menciumku," bisik Reyhan.
Lyra melepaskan pelukannya, "apa sih, ramai begini masih sempat bicara yang tidak-tidak," jawabnya malu.
Sang pembawa acara mendekati Lyra dan Reyhan. "Wah, tidak disangka acaranya menjadi seru begini. Tuan Reyhan sangat hebat sekali. Dan ini istrinya ya, tuan Reyhan benar dia sangat cantik tidak heran tuan Reyhan menikah muda," ujar sang pembawa acara.
"Apa Nona mau bicara memberikan selamat atau-"
"Maaf bahasa Inggris saya tidaklah bagus," jawab Lyra memotong perkataan sang pembawa acara.
Reyhan memegang MIC, "sayang, bicara bahasa Indonesia saja, karena ada yang akan mengartikannya ke bahasa Indonesia. Bukankah begitu?" Reyhan bermaksud mengerjai Lyra yang tak kunjung memberikannya ciuman. Lyra tersenyum canggung menatap senyuman licik Reyhan.
__ADS_1
"Ya, tentu saja. Mungkin Kalau tuan sendiri yang mengartikan malah kurang etis. Olivia Richie, silahkan untuk stand bye mengartikan kalimat yang diucapkan nona Lyra," ujar James Corner mengacungkan jempolnya lalu dibalas Olivia Richie yang bekerja sebagai transletter. Bukan hanya bahasa Indonesia, ia bahkan mengerti bahasa Korea, Jepang, India dan Prancis.
Lyra menarik nafas, ia mencoba membuang jauh rasa gugupnya. Dari kejauhan, tampak Siska yang sedikit cemas takut sahabatnya itu tiba-tiba pingsan.
Lyra berdehem, "cerita apa yang ingin kamu dengar, James Corner?" tanya nya sambil tersenyum.
"Karena nona Lyra bertanya, bagaimana kalau tentang pertama kali berjumpa hingga menjadi istri tuan Reyhan Almirza. Apa kalian setuju?" tanya James kepada penonton.
"Ya!" teriak mereka serempak.
"Oh, cerita itu ya."
Lyra mulai bercerita diiringi translet ke bahasa Inggris oleh Olivia Richie.
"Pertama kali saya bertemu dengannya. Hahaha..., mungkin kalian tidak percaya akan cerita ini. Tetapi, ini nyata adanya. Saya dari kalangan keluarga yang sederhana, kedua orang tua saya meninggal saya dibesarkan bibi dan paman saya. Sehari-hari saya selain kuliah, saya membantu paman yang sedang mendirikan usaha laundry biasa." Cerita Lyra membuat orang-orang terkejut, mengingat status keluarga Reyhan yang kaya raya memilih Lyra dari kalangan biasa menjadi istrinya.
"Hahaha...,saya tahu apa yang kalian pikirkan. Tapi inilah saya yang dari kalangan biasa hingga hari itu terjadi. Ya, hari dimana aku bertemu Reyhan Almirza bisa dibilang hari dimana bisa mengubah nasibku hingga menjadi seperti sekarang. Waktu itu, aku melihat tawuran terjadi sebenarnya aku ingin sekedar lewat saja. Tetapi, saat itu benar-benar tidak bisa lewat hingga seorang siswa menarik perhatianku. Dia hendak memukul siswa yang satu lagi maksud saya musuhnya. Ya, mereka sesama siswa dari sekolah yang berbeda. Saya pun menahan kayu yang hendak dipukul kepada musuhnya tetapi meski sekuat apapun saya dibandingkan mereka saya tetaplah perempuan lemah. Saya terjatuh, dan...."
"Tuan Reyhan datang membantu anda?" tanya James Corner.
Lyra tertawa, "tidak, yang kulihat saat itu para anggota ambulance lalu selebihnya gelap," jawab Lyra.
"Lalu, kapan Nona bertemu tuan Reyhan?"
"Sebenarnya, saat tawuran terjadi saya dan Reyhan sudah bertemu," jawab Lyra.
James Corner mengeryit, tidak mengerti. "Tetapi, kenapa tidak ada diceritakan?" tanya nya bingung.
"Karena anda, memotong perkataan saya, James," jawab Lyra yang langsung ditanggapi dengan tawa para penonton.
Lihat perempuan di atas sana, dia sahabatku. Ya, sahabat yang selalu membuatku bangga dengan tingkah lakunya. Batin Siska sambil tertawa senang.
"Setelah tersadar dan mendapati diriku sudah berada di kamar pasien. Aku didatangi seorang remaja yang kepalanya dibalut serta tangannya memencet bel kursi roda yang ia duduki. Dia lah Reyhan, siswa yang telah aku bantu untuk melawan musuh yang hendak memukulnya saat tawuran. Mungkin kalian semua sedang bingung, aku dan Reyhan selisih 7 tahun. Aku lebih tua darinya, aku bahkan guru di sekolahnya selama 1 bulan." Lagi-lagi cerita Lyra membuat para penonton tidak percaya dan saling bertanya-tanya.
"Kami berpacaran dan memutuskan menikah, aku pun jadi istrinya. Tamat!" Lyra tersenyum, tepuk tangan serta sorakan meriah mengiringi.
Reyhan tersenyum bangga, dikecupnya dahi Lyra. "James, ada lagi yang ingin kamu tahu tentang saya?" tanya nya membuat James tertawa canggung.
"Segala tentang anda sangat berharga Tuan. Saya yang sudah tidak berusia muda bahkan menghormati Anda. Semoga sukses di kehidupan selanjutnya dan pernikahan kalian abadi hingga keturunan kalian menghasilkan keturunan begitu selanjutnya. Semoga selalu bahagia," ucap James.
James Corner memperhatikan jam yang melingkar di pergelangan tangannya, pertanda saatnya hadiah untuk para desainer menurut voting terbaik. "Karena Tuan muda dan Nona masih di atas panggung. Sekalian melanjutkan acara yaitu pemberian hadiah untuk desainer yang desainnya paling banyak diminati. Apa Tuan dan Nona, bersedia?"
"Tentu saja, James," jawab Reyhan dan Lyra serempak.
"Baiklah, kita akan mulai dari posisi ketiga. Ehm, yang menduduki posisi ketiga adalah Arani Seina dengan gaun paradise berwarna hitam yang menyisipkan permata ungu di bagian pinggang. Untuk nona Arani silahkan maju." Orang yang dimaksud James maju.
Reyhan dan Lyra memberikan hadiah yang sudah disepakati. Setelah itu, James kembali memanggil peserta juara kedua. Tibalah juara pertama, ia lah Vica dengan gaun Cinta.
"Maaf, kenapa ini disebut dengan gaun cinta?" tanya James membuat Vica terkekeh.
"Ah itu, sebenarnya aku malu mengatakannya. Tapi, karena James Corner yang bertanya sangat tidak sopan jika aku tidak menjawab. Ini desain dari cinta pertamaku dan cinta terakhirku," jawab Vica.
James Corner bertepuk tangan begitu juga para penonton. "Apa kalian sudah menikah?" tanya nya lagi.
Vica menggeleng, "dia tidak tahu perasaanku sampai dia menikah dengan orang lain," jawab nya sambil melirik Reyhan.
James mengeryit, "dia sudah menikah dan kau masih mencintainya?"
Vica tersenyum. "Selama nafasku masih berhembus, aku akan berusaha untuk membuatnya mencintaiku. Sekarang dia tahu, aku semakin bersemangat mengejarnya."
"Oh wow! Bagaimana tanggapan anda Tuan. Gaun Cinta ini mempunyai kenangan yang menyedihkan," ujar James pada Reyhan.
"Maaf James, itu bukan urusan saya. Saya hanya ingin selalu membahagiakan istri saya." Jawaban Reyhan, membuat Vica tersenyum dengan bulir air mata di pipinya.
Lyra maju, dan berhenti tepat di depan Vica. "Ini hadiahmu, kuharap kamu memahami apa itu cinta. Dia tahu kamu mencintainya tapi tidak mempedulikannya. Bukankah sangat lucu jika kamu terus mengejarnya terlebih lagi dia sudah beristri. Kuharap kamu memahami isi hatimu bukan keegoisanmu," ujar nya sambil memberi sebuah buket bunga.
Acara berangsur selesai, para tamu yang berhamburan kini sudah sepi. Tinggallah Vica yang terus meratapi dirinya yang menjadi topik pembicaraan publik mengenai kisah asmaranya yang tidak masuk akal. Mencintai suami orang?
__ADS_1