
"Bisa bicara berdua di luar?" tanya Marta.
"Apa?"
"Kenapa tidak disini saja bicaranya?" Siska mencoba menghalangi Lyra pergi.
Marta tersenyum, pandangannya mengarah pada Lyra yang menatap sendu padanya.
"Sudahlah Sis, tidak apa-apa aku akan pergi dengannya." Tersenyum mencoba meredam kekesalan Siska.
"Tapi Ra, dia-
"Ssst tunggu saja di rumah aku akan pulang secepatnya." Memotong perkataan Siska.
Siska terdiam dia hanya pasrah melepas temannya yang baik hati itu pergi.
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Di sebuah cafe tak jauh dari rumah Lyra.
"Saya dengar Reyhan melamarmu, apa itu benar?" tanya Marta.
Tangan Lyra bergetar dengan perlahan ia menganggukkan kepalanya.
"Ah ternyata benar, aku kira dia sebatas hanya menggertakku. Ternyata dia jujur soal itu." Tersenyum lalu memberikan minuman pada Lyra.
Lyra hanya terdiam, berusaha santai menghadapi Marta yang lambat laun yang akan menjadi mertuanya itu.
"Kenapa kamu diam saja? Apa kamu lupa betapa lantangnya suaramu menolak meninggalkan Reyhan kemarin. Sekarang kamu terlihat seperti kelinci yang sedang berhadapan dengan singa."
"Sebenarnya apa tujuan Anda kemari?" tanya Lyra sedikit sinis.
"Hahaha kenapa ekspresimu dan Reyhan mirip begitu, aku jadi sedikit takut untuk bicara." Terkekeh melihat wajah Lyra.
"Mungkin ini yang dinamakan jodoh," jawab Lyra singkat.
"Hmmm mungkin saja, tapi kenapa kamu tidak meminum minumanmu? Apa kamu takut ada racun di dalamnya, tenang saja aku tidak sejahat itu."
"Aku tidak suka meminum alkohol."
"Hah, Reyhan juga begitu sifatnya sangat mirip dengan Papanya. Tidak suka basa-basi, tidak suka berantakan dan jauh dari alkohol serta rokok. Ya mereka sangat mirip, itu sebabnya dia lebih mencintai papanya dibandingkan saya mamanya yang melahirkannya."
"Penilaian Tante terhadap Reyhan salah besar. Dia tidak seperti itu, dia sangat menyayangi Tante. Bahkan dia selalu merindukan pelukan hangat dari Tante kalau saja saat itu Tante-
"Kalau saja saya tidak mengidap penyakit yang mematikan ini pasti sekarang saya sedang menemaninya apapun yang ingin dia lakukan." Mulai berbicara pelan tampak aura kesedihan di wajahnya.
__ADS_1
"Apa? Tante sakit?"
"Kanker paru-paru stadium akhir."
Lyra memelotot kaget kedua tangannya sontak menutup mulutnya.
"Aku tidak pernah pulang ke Indonesia, karena selain menjalankan perusahaan aku juga butuh pengobatan medis yang canggih. Karna hidupku yang diprediksi tidak akan lama lagi, aku pulang ke Indonesia hanya ingin memberikan hak waris untuk Reyhan. Aku tidak butuh apa-apa selain melihatnya menjadi orang hebat di perusahaan. Dengan begitu, aku bisa pergi dengan tenang jika kelak papanya bertanya dengan bangga aku akan menceritakan semua tentang betapa hebatnya anak kami yang tampan itu."
Perlahan bulir air mata jatuh membasahi pipi Lyra, tidak menyangka betapa menyedihkannya kehidupan yang dialami Marta.
"Tapi tidak disangka Reyhan malah jatuh cinta, sebenarnya aku tidak percaya melihat sikapnya yang dingin itu dia bisa juga merasakan cinta. Kamu tahu saat kamu bilang bahwa kamu adalah pacarnya aku merasa bagaikan tersambar petir. Itu membuat hatiku hancur berkeping-keping, rencana yang ku atur bertahun-tahun malah lenyap begitu saja."
Lyra menghapus air matanya yang bertambah deras.
"Bisakah kamu tinggalkan dia?" tanya Marta.
"Apa itu akan membuatmu bisa bahagia?" tanya Lyra balik.
Marta mengangguk.
"Apa Tante, bisa menjamin Reyhan akan bahagia?"
Marta terdiam ia kehabisan kata ketika mendengar nama anak semata wayangnya itu disebut.
"Bukannya mau menggurui jika seandainya saya meninggalkan Reyhan. Bisakah Tante membuatnya tetap bahagia seperti sekarang? Kalau Tante bisa, sekarang juga aku akan meninggalkannya."
"Aku tidak butuh hartanya, melihat caranya melindungiku sudah cukup membuatku jatuh cinta. Terima kasih untuk Tante karena telah melahirkan sosok Reyhan untukku."
"Sebenarnya aku sudah menduga kamu tidak akan meninggalkannya. Akan tetapi aku masih ragu makanya aku bertanya. Aku akan merestui hubunganmu dengan Reyhan tapi dengan 1 syarat."
"Katakan saja, apa syaratnya?"
"Buat Reyhan mau menerima hak waris untuknya yaitu menjalankan perusahaan di Amerika." Mengulurkan tangannya ke arah Lyra.
"Baiklah aku setuju." Dengan sedikit ragu Lyra membalas uluran tangan Marta.
"Jangan berpikir senang dulu, bukannya aku sudah berhasil kamu luluhkan." Menatap tajam pada Lyra.
Lyra membalas tatapan tajam Marta.
"Tapi aku akan mencobanya, doakan saja kelak kita berjodoh menjadi mertua dan menantu yang baik."
Lyra tersenyum mendengar ocehan datar dari calon mertuanya yang terbilang cukup dingin tidak berbeda jauh dengan anaknya.
"Tapi saya juga ada 1 syarat untuk Tante."
__ADS_1
"Apa itu?"
"Biarkan saya yang menemani Tante berobat rutin."
"Maksud kamu?"
"Anggap saja aku sedang berusaha mendapatkan image yang baik terhadap mertuaku."
Kenapa kedengarannya dia bersungguh-sungguh entahlah tapi yang pasti aku cukup senang dengan kalimat yang diucapkannya terdengar seperti sangat tulus, seandainya aku punya seorang putri mungkin rasanya sangat menarik. Batin Marta.
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
"Kenapa aku harus mengikutinya pulang sih?" Lyra melihat Marta yang tergeletak tak berdaya karena mabuk.
"Permisi Neng, tadi sewaktu saya memandikan nyonya dia bilang Neng menginap disini saja," ujar Bik Na.
"Ah jangan dong Bik, saya harus pulang kasihan teman saya di rumah pasti nungguin saya," jawab Lyra sopan.
"Tolong dong Neng, saya mohon jangan buat nyonya Marta marah." Bik Na menggenggam tangan Lyra pelan
Lyra menghela napasnya, ia pun menganggukkan kepalanya. Sambil tersenyum Bik Na pun melangkah keluar.
Hah nggak emaknya nggak anakanya sama saja menyuruh menginap, sungguh merepotkan. Batin Lyra.
Lyra melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 23.20 WIB.
"Mau pulang juga sudah terlalu malam," gumam Lyra.
Tiba-tiba Lyra merasa haus, ia pun keluar dari kamar menuju ke dapur. Ia melewati kamar Reyhan, cukup lama ia berdiri di depan pintu kamar kekasihnya itu.
"Hah, haus sekali, ada minuman dingin nggak sih," ujar Lyra sambil mengacak-acak kulkas.
"Wah ternyata ada, warna merah sepertinya sirup eh tapi kenapa bersoda ya atau jangan-jangan ini fanta lagi." Rasa penasaran Lyra mendorongnya untuk meminum habis minuman tersebut.
Tak lama kemudian, ia pun berjalan sempoyongan ia tidak tahu bahwa minuman yang tadi ia minum adalah wine. Ia tetap memaksa untuk tetap berjalan melewati anak tangga meskipun ia merasa sangat kesulitan memindahkan langkahnya dari anak tangga yang 1 ke anak tangga lainnya.
"Ah kenapa semuanya bergoyang. Apa aku mabuk ah rasanya pusing sekali," gumamnya sambil melintasi kamar Reyhan.
Namun saat ia akan menaiki tangga yang menghubungkan ke kamar Marta, Lyra berhenti dayanya melemah ia merasa benar-benar tidak sanggup. Lyra pun berbalik arah ke kamar Reyhan, ruangan paling dekat dengan tangga. Dengan cepat ia membuka kamar tersebut yang kebetulan tidak terkunci.
"Wah aku tidak ingat keluar berapa lama, kapan Siska mengganti kamar kami, dekorasinya sangat indah. Tapi kenapa kasurnya cuma 1, ah nggak papa deh yang penting kan besar hehehe," gumamnya sambil terus berjalan.
"Ah ada AC-nya tapi kenapa terasa sangat panas, aku harus bisa buka baju sendiri sudah malam begini jangan menyusahkannya." Lyra membuka pakaiannya hingga terlihatlah dia memakai tank top berwarna putih, tadinya ia ingin membuka bra miliknya hanya saja, ia sudah tidak sanggup lagi menahan pusing yang semakin berat.
Dan malam itu pun berjalan dengan sangat lancar. Entah apa yang akan terjadi esok.
__ADS_1
BERSAMBUNG