
"Rey, makanlah dulu." Lyra terus menyodorkan sesendok makanan ke depan mulut Reyhan yang sedari tadi menatap kosong dengan kantung mata yang membengkak.
"Rey, aku tahu kalau kamu terus kepikiran pada mama. Tetapi, kesehatan kamu juga harus tetap dijaga nanti mama merasa bersalah jika kamu mogok makan begini," lanjut Lyra lagi tetapi tetap saja Reyhan tidak menggubrisnya.
Lyra meletakkan makanan tersebut di atas meja. Ia menatap sendu ke arah Reyhan yang sedang menatap langi-langit rumah.
"Apa kamu tahu Rey. Pertama kali aku mendengar mama tidak bisa diselamatkan, aku kira hidupku tidak berarti lagi. Jujur sebagai manusia biasa, aku memiliki masalalu yang bodoh. Aku sering berusaha untuk bunuh diri. Aku pikir hidupku takkan berguna tanpa orang tua. Aku mogok makan, aku bahkan mulai menyentuh pisau lalu mengiris tanganku. Dan itu rasanya sangat sakit. Sejenak aku berpikir itukah yang orang tuaku rasakan? Mereka pasti kesakitan di sana melihatku bertindak bodoh seperti itu." Menatap Reyhan yang tetap dengan pandangan kosong.
Lyra pun berlutut lalu menyentuh Reyhan. Tetapi, lagi-lagi Reyhan hanya diam.
"Aku sangat menyayangimu. Bisakah jangan menyiksaku seperti ini. Aku tahu kamu terluka, karena aku juga begitu. Sama sepertimu, mama Marta sangat berharga bagiku. Tetapi jika kalian berdua seperti ini apa yang harus aku lakukan?" Isak tangis Lyra membuat Reyhan tersadar bahwa yang ia lakukan itu salah.
"Bangunlah. Maaf maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu menangis. Iya aku makan sekarang. Maafkan aku!" Memeluk Lyra yang terus menangis.
***
"Yakin mau ke kantor?" tanya Lyra sambil membantu Reyhan memasangkan dasinya.
"Iya, aku tidak bisa diam saja kali ini." Mengusap kepala Lyra lembut.
"Tenanglah, jangan pikirkan apapun. Aku akan terus menjaga mama. Semangat sayang." Mencium pipi Reyhan.
"Apakah hanya pipi?" tanya Reyhan.
"Jangan mencari kesempatan deh," jawab Lyra sambil berjalan mengambil bekal untuk Reyhan.
"Ini bawalah! Ingat untuk tetap memakannya." Memberikan bekal tersebut ke tangan Reyhan.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Reyhan sambil tersenyum tipis.
Cup! Cup! Cup!
Lyra menghujani Reyhan dengan 3 kecupan membuat mata remaja tersebut membulat karena terkejut.
"Kamu imut banget sih jadi gemas," ujar Lyra sambil melingkarkan tangannya ke leher suaminya tersebut.
"Ayo kita pergi," jawab Reyhan sambil menggendong Lyra.
"Turunkan aku Rey! Kalau ada yang lihat bagaimana?"
"Tidak! Apa peduliku tentang orang lain," jawab Reyhan sambil terus melangkahkan kakinya, keluar dari apartemen. Bagaimana dengan Lyra? Ya, wanita itu terus memberontak sambil menyembunyikan wajahnya dari pandangan orang yang memperhatikan mereka.
***
"Redro bagaimana dengan kabar si pria tua Alex Noe?" tanya Reyhan dengan lantang.
"Dia sudah diamankan Den," jawab Redro.
"Bagaimana penjelasan Anda MR.Rudolf?" tanya Reyhan sambil menekankan suaranya.
"Saya akan mencicilnya Tuan. Saya tidak bermaksud untuk menerima dana tersebut. Tetapi-"
"Anda menikmatinya bukan?" Reyhan tersenyum tipis memperhatikan pria yang sudah mulai senja itu mulai gugup.
"Aku tidak menikmatinya Tuan. Saya tidak menyentuhnya," jawab Mr.Rudolf.
__ADS_1
"Saya tidak bodoh. Anda bilang akan mencicilnya. Apa artinya itu? Saya memang masih muda tetapi IQ saya jauh di atas Anda karena keluarga saya menjsuhkan saya dari uang haram. Oleh karena itu, bisakah Anda memberikannya sekarang? Saya tidak suka mengulur waktu. Yang Anda ambil itu memang bukan milik saya tetapi itu, milik orang-orang yang berjasa pada perusahaan ini. Jadi kembalikan sekarang atau semua yang kau punya aku sita," ujar Reyhan dengan mata yang memelotot marah.
"Saya mohon maafkan papa saya," ujar Cecil dengan suara memelas. Apakah Reyhan luluh? Tidak, matanya semakin memelotot dikala Cecil menyentuh pundaknya. Segera ditepisnya dengan kasar tangan putri bungsu Mr.Rudolf tersebut lalu menendang kakinya hingga membuat Cecil terjatuh hebat.
"Maafkan putri saya. Dia tidak sengaja melakukannya. Dia masih sangat kecil!" teriak Mr.Rudolf sambil membantu Cecil untuk bangkit.
Reyhan memasang senyuman sinis. Ia pun menunduk tepat di depan wajah Mr.Rudolf. Ya, kini wajah mereka saling berhadapan.
"Anda sangat tua. Tetapi jalan pikiran anda seperti Balita hanya saja BALITA masih memiliki sifat jujur. Cepat kembalikan uang itu. Sebelum kesabaranku habis!" teriak Reyhan membuat tubuh Mr.Rudolf bergetar.
Lelaki yang menarik. Hahaha! Aku suka tipe seperti ini. Batin Miranda, putri sulung Mr.Rudolf yang sedari tadi hanya diam memperhatikan gelagat ayah dan adiknya yang dramatis.
"Besok! Aku berikan waktu untuk Anda. Kalau Anda tetap tidak memberikannya. Akan aku sita semua milik Anda, saya tidak pernah sebaik ini. Pergilah dan pikirkan baik-baik!" Kembali duduk, sambil terus menatap sinis ke arah Mr.Rudolf.
Mr.Rudolf beserta kedua putrinya pun pergi. Mr.Rudolf mulai menggerutu kasar bahkan menyumpahi Reyhan karena mempermalukannya.
"Ayah, kau pergilah duluan. Ada yang ingin aku lakukan," ujar Miranda sambil menghentikan langkahnya.
"Apa lagi? Ayo pulang sebelum bocah itu berubah pikiran," jawab Mr.Rudolf sambil menarik tangan Miranda. Akan tetapi, wanita itu menepisnya.
"Percayalah! Serahkan padaku," jawab Miranda sambil beranjak pergi.
"Miranda, kembalilah. Miranda!" teriak Mr.Rudolf berharap putrinya itu menurut.
"Ayah biarkan saja dia. Ayo kita pulang! Hari ini aku sedang ada janji shooping dengan teman-temanku," ujar Cecil sambil menarik paksa tangan Mr.Rudolf. Sementara itu, pandangan Mr.Rudolf tidak berpaling dari Miranda yang sudah memunggunginya.
__ADS_1