Nadira (yang terlupakan)

Nadira (yang terlupakan)
*Akting Dira


__ADS_3

Brugh....


"Dasar keponakan gak ada akhlak" di lepasnya topeng yang tadi di kenakan dan di lempar begitu saja pada Dira, Wajah masamnya terpampang jelas nyata di depan mata. Sedangkan Dira hanya nyengir kuda menampilkan deretan gigi putihnya sambil memegangi kakinya yang sakit akibat tendangan tadi, kalau bukan omnya sendiri pasti sudah habis mereka di hajar Dira karena sudah berani membuat kakinya cidera.


"Gigimu gak mempan dengan kekesalan di dalam dada ini, mengerti" om Satya berucap sambil menoyor kepala Dira yang langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


"Hehehe.. sorry om, kemarin Dira sibuk banget. Jadi belum bisa main kerumah om-om ku yang ganteng -ganteng sekali ini" ucap Dira sambil merangkul kedua omnya dan mengindahkan rasa sakit di kakinya.


"Kemarin Dira ada pertemuan hingga malam dan malamnya Dira kecapekan, jadi belum sempet main ke rumah om"


"Kamu kan bisa ngabari kami, jadi kami bisa segera datang kesini. Bukannya malah Ema dan Yuni yang memberi tahu kami tadi"


"hehe sorry" memasang wajah bersalah dan kemudian menampilkan puppy eyesnya agar omnya segera melunak dan tidak kesal lagi.


Tapi yang terjadi, kedua om-om itu menghempaskan tangan yang bertengger di pundak mereka dan menatap Dira dengan tatapan tajam plus pake dingin, brrrr... Dira langsung merinding dan menelan salivanya melihat wajah garang omnya.


Ahhh... sebuah ide muncul dj kepala Dira


"Aduuuh...aduh..om, aduh.. kaki Dira sakit Om..aduh" ucap Dira sambil mengelus kakinya yang kena tendang tadi, menampilkan luka lebam membiru di bagian atas mata kakinya, sontak kedua omnya langsung panik, Bagus langsung memeriksa luka di kaki keponakannya sedangkan Satya segera berlari menuju lemari pendingin untuk mengambil es yang di gunakan untuk mengompres lebam di kaki Dira.

__ADS_1


"Yes" ucap Dira kegirangan dalam hati, karena aktingnya bisa membuat kedua om koplaknya itu melupakan kekesalan mereka dan langsung memberikan perhatian penuh untuk Dira.


Dira menatap kedua omnya yang sibuk mengompres luka lebamnya,rasa haru tak luput dari hatinya. Sebenarnya hanya sedikit sakit,Luka seperti itu sudah biasa Dira dapatkan ketika latihan atau ketika gulat dengan orang iseng yang mengganggunya.


"Auuu..." refleks Dira ketika kakinya tidak sengaja kejepit kaki omnya.


"Satya.. Pelan-pelan dong ngompresnya, lihat tuh Dira kan jadi kesakitan" ucap Bagas mengomeli Satya mendengar teriakkan Dira


"Apaan sih, ini juga udah pelan -pelan gue. Gak liat noh gue sampe ati-ati banget ngompresnya" sungut Satya tak terima di katain Bagas


"Tapi itu Dira tadi kesakitan, berarti lo terlalu neken itu esnya" Bagas tak kalah nyolot mendengar elakan dari Satya


"Udah-udah......" teriak Dira lantang, sontak mengehentikan perdebatan kedua omnya itu,dan menatap Dira ketakutan dengan menundukkan kepalanya.


"Udah tau ponakanya kakinya sakit, malah berdebat ajah" Dira seperti emak-emak yang mengomeli anak-anaknya yang bertengkar berebut mainan.


"Tadi aku teriak bukan karena kompresannya, tapi karena kaki aku kejepit kaki om Bagas" Dira menatap Bagas lalu bergantian melirik Satya. Satya menyenggol bahu Bagas karena ternyata tadi Dira teriak akibat ulahnya. Bagas yang jadi tersangka malah nyengir saja menampilkan deretan gigi yang kurang putih akibat kopi dan rokok.


"Maafin om ya Dira sayang keponakan om yang paling cantik sedunia, om gak sengaja hehe" ucapnya mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya

__ADS_1


"Iya maafin om Satya juga ya Dira karena udah buat kaki kamu sakit, tadi ok gak sengaja nendangnya eh malah kebablasan" kini giliran om Satya mengikuti om Bagas menekuk kedua lututnya dan mengatupkan kedua tangannya seperti om Bagas.


Ku lirik mereka berdua bergantian dengan tatapan yang sulit di artikan, daaan...


"Ya sudahlah lah, karena Dira udah gak punya keluarga lain lagi jadi Dira maafin kalian berdua" ucap Dira berdiri lalu beranjak menuju dapur dengan langkah santainya, ia lupa jika ia sedang berpura-pura sakit kakinya.


Kedua omnya yang melihat Dira berjalan santai seperti tidak sakit sama sekali saling menatap bingung, dan sepersekian detik akhirnya mereka sadar jika mereka tengah di kerjain keponakannya itu..


"Dira....." ucap Bagas dan Satya bersamaan


Mendengar namanya di panggil langsung oleh kedua omnya membuat Dira heran, ia melihat fokus kedua omnya itu dan mengikuti arah matanya tertuju pada kakinya.


"Astaghfirullah..." Dira menepuk jidatnya dan menatap kedua omnya sambil nyengir


"Ampuuuun om" ucap Dira kemudian langsung berlari karena kedua omnya itu mengejar Dira.


Aksi kejar-kejaran itu terjadi hingga mengelilingi rumah Dira yang besar. Dan akhirnya Dira menyerah dan meminta maaf pada kedua omnya itu.


"Ampun om..maaf... maaf.. okke" ucap Dira ketika Bagas dan Satya menggelitikinya.

__ADS_1


"Hahahaha... ampun om.. Dira gak kuat" ucap Dira memelas karena sudah tidak tahan.


__ADS_2