
Hijaunya rumput di taman mampu menyegarkan mata,
suara gemericik air menambah syahdunya,
angin sepoi-sepoi menerpa tubuh laksana pijatan alam yang membuai.
Satya menuju tamab belakang di mana Bagus kakak iparnya berada,
"ekhemmm...
Bagus melirik dan tersenyum sekilas
lalu memalingkan wajahnya kedepan kembali,
Satya duduk di kursi sebelah Bagus,
"mikirin apa bang?" Satya membuka percakapan
Bagus mengalihkan pandangannya kepada adik iparnya,
"gk mikirin apa -apa Sat,
kamu gak usah kasihan kaya gitu ke Abang,
abang gak apa-apa kok" lalu memalingkan lagi ke taman depan dimana istrinya senang sekali menatapnya,
katanya bikin mata adem.
ck... Satya berdecih
"Satya gak kasihan sama abang,
abang udah gede udah bisa ngurus diri sendiri,
tapi kasihan Nadira bang, dia seharusnya mendapatkan perhatian ekstra dari abang setelah mba Anjani pergi tapi ini apa?
jangankan perhatian bahkan abang sama sekali gak pernah mau menimangnya,
__ADS_1
mungkin jika mba Jani tau dia akan bersedih melihat abang menelantarkan anaknya"
Satya mencoba menekan emosinya takut salah bicara di keadaan kakak iparnya yang masih labil seperti ini.
"lihatlah bang..
Satya menunjuk ibunya yang sedang menjemur Nadira,
"dia sangat cantik dan manis,apa abang tega membuat dia kehilangan sosok ayah juga setelah ia kehilangan ibunya,
mba Jani juga berpesan pada abang kan untuk menjaga anaknya Nadira Putri,
mba Jani percaya kepada abang,
jadi jangan kecewakan almarhumah mba Jani bang"
"tapi wajah Putri sangat mirip dengan Anjani Sat,itu membuat abang susah melupakan Anjani" ucap Bagus frustasi menyugar rambutnya
"mba Jani gak harus di lupakan bang,
cukup abang ikhlaskan kepergiannya agar ia tenang di alamnya dan abang melanjutkan hidup bersama putri kalian"
bangunlah kembali hidupmu bersama Putrimu bang,ibu dan Satya akan selalu ada untuk abang dan Putri"
Bagus memeluk Satya dan menumpahkan segala tangisnya,
Satya benar,
Satya menyadarkannya untuk meneruskan hidup bersama putrinya bersama Anjani,
"makasih Sat, kamu sudah membuat abang tersadar selama ini abang sudah melupakan putri kami,
Nadira Putri nama itu sangat indah bukan Sat?
kakakmu sangat suka nama itu"
"ya bang, Nadira Putri nama yang sangat bagus dan mba Anjani sangat menyukainya" Satya ikut menangis ketika mengingat almarhum kakaknya,
__ADS_1
tapi sebisa mungkin ia mencoba tegar selama ini.
Hari ini Bagus merasa lebih hidup,
ia semalaman tidur dengan putrinya Putri,
ya Bagus memutuskan memanggil nama putrinya Nadira Putri dengan Putri saja secantik parasnya seperti Putri ayu dari jawa,
dia melihat mertuanya mandikan anaknya dengan telaten ia memperhatikan semuanya,
siapa tau nanti dia bisa mencob memandikannya sendiri,
Bagus memikirkannya sambil tersenyum -senyum sendiri,
memperhatikan caranya memakaikan baby oil, minyak telon dan lainnya agar nanti dia tidak ada kesalahan jika mencobanya sendiri,
dia juga tak mungkin terus bergantung pada mertuanya,
Di saat Putri sudah siap Bagus mengajak Putri berjemur sebentar sebelum ia berangkat kerja,
ibu Anjani senang melihat manantunya sudah bisa menerima kenyataan hidup,
dan mulai memperhatikan cucunya,
menghampiri Bagus karena waktu sudah hampir siang,
"sarapan dulu nak,
biar Putri sama ibu dulu"
"iya bu"
Bagus menyerahkan anaknya pada mertuanya dan ia segera menyantap sarapan yang sudah di siapkan oleh Art'y.
Bagus meminta ibu mertuanya untuk mencarikan art agar ada yang membantunya membersihkan rumah yang kebetulan adalah teman di kampungnya.
Bagus bertekad ia akan mulai kehidupan baru bersama putrinya,
__ADS_1
tujuan hidupnya sekarang adalah Nadira Putri,
putrinya bersama istri tercintanya Anjani.