Nadira (yang terlupakan)

Nadira (yang terlupakan)
*Aku Ridha mas


__ADS_3

Jangan pernah berbohong dalam hidupmu,


apalagi sampai terbiasa dengan kebohongan,


kebohongan itu akan menghancurkan dirimu.


Kini Bagus berada di depan pintu ICU di mana istrinya berada di dalamnya,


setelah mendapat ijin dari dokter Bagus membuka pintu ruang ICU perlahan,


di dalam terdapat seorang dokter dan suster,


seperti mengerti dokter dan suster itu langsung keluar,


kini Bagus berdiri di samping istrinya,


seperti merasakan kehadiran suaminya Anjani membuka mata sayunya perlahan,


tersenyum memandang suaminya,


Bagus merasa bersalah melihat kondisi istrinya,mencium tangan istrinya


dan lebih mendekat


"maafkan mas tadi meninggalkanmu sayang"


"dan maafkan mamahku juga yang sudah membuatmu seperti ini" ujar Bagus menyesal


Anjani menggelengkan kepalanya lemah,


"apa ada yang ingin kamu sampaikan mas?"


suara Anjani lirih,


pertanyaan Anjani seperti menusuk hatinya,


apakah ia kini harus jujur pada istrinya tentang Devi istri mudanya katanya dalam hati,


pikiran Bagus kacau, tapi lama kelamaan juga pasti akan terkuak semuanya,

__ADS_1


di tambah Satya adik iparnya bilang bahwa Anjani sudah mengetahuinya,


menatap sendu wajah pucat istrinya Bagus menangis sesenggukan


"maafkan aku sayang..maaf"


"aku sudah berbohong padamu tentang seminar kemarin"


"sebenarnya kemarin aku pergi dengan mamah dan...


"istri mudamu mas?" Anjani menyela ucapan suaminya


Bagus tercengang, walaupun Satya sudah bilang namun tetap saja Bagus terkejut ketika mendengar langsung dari mulut istrinya,


memandang wajah istrinya yang cantik meski wajahnya pucat,


"maaf sayang... maafkan aku"


"aku terpaksa melakukan itu sayang,


semua itu syarat dari mamah agar mau merestui pernikahan kita"


Bagus menundukkan wajahnya penuh penyesalan dan bersalahnya,


tak ada yang lain bahka pada istri mudanya pun ia tak memiliki perasaan,


apa lagi pada perempuan lain di luar sana,


sungguh kesetiaannya pada istrinya patut di acungi jempol,


Anjani memegang tangan suaminya,


"gak apa-apa mas, aku tau kamu sangat mencintaiku terlepas dari kamu menghadirkan madu untuku cintamy padaku tak pernah berkurang sama sekali"


"dan aku sudah memaafkan kamu mas,


aku sungguh... sungguh mencintaimu dan aku ridha memaafkan kesalahanmu"


"itu semua tak lepas dari aku mas,

__ADS_1


aku yang kekeh ingin mendapatkan restu dari orang tuamu"


"dan kamu mendapatkannya meski harus dengan syarat yang berat dari mamah"


Bagus memandang wajah istrinya,


mendengarkan seksama semua ucapan istrinya,


"mas...kamu sungguh imam yang baik untukku dan aku yakin kamu bisa menjadi ayah yang baik untuk anak kita Nadira mas"


"jaga dia selalu mas, lindungilah dia, jadilah cinta pertama untuk anak kita"


"aku titipkan anak kita padamu mas,aku yakin kamu bisa menjaganya dengan baik" ucap Anjani tersengal -sengal,


dalam keadaan yang tidak stabil Anjani begitu banyak bicara,


"kamu ngomong apa sayang,


kita akan membesarkan anak kita bersama-sama hingga menua nanti bersama"


Bagus tak suka mendengar ucapan istrinya itu,


ia ingin selalu bersama istrinya hingga ajal nanti,


"umur tidak ada yang tau mas,aku juga ingin selalu mendampingimu merawat anak kita bersama hingga kita punya cucu nanti mas..


"uhuk...uhuk...


"sudah sayang, kamu jangan terlalu banyak bicara dulu"


"aku panggil dokter dulu ya sayang " Bagus hendak berdiri namun di tahan oleh Anjani,


istrinya itu menggelengkan kepalanya


"panggilkan Satya dan ibu saja mas,


kami tolong bawa anak kita keisni ya" ujar Anjani tersenyum


"tapi sayang..

__ADS_1


"aku mohon mas" wajah Anjani memelas


"baiklah sayang, apa pun untuk mu" mencium kening istrinya lalu beranjak keluar untuk memanggil Satya dan ibu mertuanya dan meminta ijin kepada dokter untuk membawa anaknya ke ruang icu di mana istrinya berada kini.


__ADS_2