Nadira (yang terlupakan)

Nadira (yang terlupakan)
* DIRA


__ADS_3

Siang hari kafe akan sangat ramai pengunjung. Semua akan sibuk dengan tugasnya masing-masing. Apalagi jika weekend, sudah di pastikan kafe tidak akan pernah sepi pengunjung. Karena saking ramainya kafe di bagi jadi Dua shift. Shift pertama dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore,shift ke dua dari jam 3 sampai jam 10 malam. Tapi khusus bagi Nadira Putri, dia hanya mengambil shift pagi, karena ayahnya melarang dia jika harus mengambil shift malam,dan anehnya sang bos mengijinkan saja tanpa banyak bertanya. Itu salah satu hal yang harus di syukuri Putri, walaupun dia belum pernah bertemu langsung dengan big boss'y,tapi dari situ dia yakin bahwa big boosnya adalah orang baik hingga mengijinkannya bekerja tanpa shift.


"Dir,aku bisa minta tolong" Tanya Yuni,dia manager kafe sekaligus teman Dira yang paling akrab di kafe ini. Ya,Putri memutuskan untuk menggunakan nama Dira jika di luar lingkungan rumah,dia merasa lebih suka nama itu. Bukan, bukan tak suka dengan nama pemberian orang tuanya, hanya saja dia lebih suka dengan panggilan Dira,lebih dia banget gitu.


"apah?" tanyaku balik menatap Yuni yang jingjat-jingjit gak jelas seperti cacing kepanasan.


Ku mengernyitkan dahi heran,


"Kamu kenapa?" tanyaku lagi


"Em.. ini Dhira,duh gimana ya ngomongnya,gak enak gue" Terlihat dia seperti orang kebingungan.


"Ya elah ngomong aja kali,gak usah sok ngomong gak enak ma gue" kelamaan kalau nungguin ni anak ngomong


"Emm..gini Dir, Seharusnya hari ini gue ada janji ketemu sama bos jam 2 nanti,cuma kebetulan banget calon mertua gue hari ini mau datang juga,gak enak kan kalau gue gak nemenin beliau,masa jauh-jauh datang kesini,gue malah sibuk sama kerjaan gue" jelasnya kemudian,


"Iya terus?" mataku menyelidik, sepertinya sudah paham dengan maksud temannya itu. Tapi biarlah dia berpura-pura tidak tahu saja.

__ADS_1


"Iya kan gak mungkin gue bisa membelah diri jadi dua kan.." Yuni menjeda kalimatnya,membuatku semakin geregetan saja.


"Gak usah berbelit-belit deh Yun,To the poin aja" sungutku kemudian,kesel juga kalau lama-lama di gantung Hehe.


"Iya iya,gak sabaran banget sih lo jadi orang..


"Bukan gak sabar mba, gue tuh greget liat lo dari tadi gak tenang banget kayak gitu,udah ngomong aja" cepat ku potong Yuni yang kelamaan bicaranya.


"Ihh apaan sih lo Dir, gak usah panggil gue mba. Berasa tua banget gue" Wajah kesalnya muncul seketika, membuat ku tak tahan untuk tidak tertawa.


"Hahaha..oke.oke sorry ya Yuni yang cantik" ku rangkul dia biar gak ngambek lagi,dan itu sukses membuat dia tersenyum lagi.


"Iiiih lo suka banget sih usilin gue Dir, si***n lo" Dia melepas tangan ku yang tadi melingkar di pundaknya.


"Jadi sebenarnya lo mau minta tolong apa Yun?" Tanyaku kemudian tidak sabaran.


"Gue mau minta tolong sama lo buat ketemu sama bos nanti sore,tinggal serahin berkas ini aja. gampang kan?" jawabnya

__ADS_1


"Enggak mau ah,gue gak ngerti. Entar salah lagi" tolaku dengan cepat. Meski sebenarnya penasaran sama big bos tapi dia takut juga kalau harus berhadapan langsung dengannya.


"Please..." Menangkupkan kedua tangan di depan dadanya dan mata yang di kedip-kedipkan,iiih kaya apaan aja.


"Lo gak kasihan sama masa depan gue Dir" ucapnya dengan wajah manyunnya.


"Masa depan lo ya urusan lo lah, kenapa jadi gue?"


"Ya kalau gue gak nemenin calon mertua gue bisa terancam di pecat jadi calon mantu ini mah" ucapnya dengan bibirnya semakin maju saja.


"Ya elah, baru mau jadi calon mantu udah di pecat aja" celetuk ku menanggapi ucapan Yuni tadi.


"Nah itu lo tahu"


"Please bantuin aku dong sahabatku" dengan gayanya memasang wajah imutnya, padahal menurutku gak ada imut-imutnya acan haha ..ku tertawa dalam hati.


"Emmm gimana ya Yun,," ucapku dengan gaya sedang berfikir

__ADS_1


Kira-kira Dira mau enggak yah??


Hayo tebak, siapa yang tahu jawabannya.


__ADS_2