
Jika tidak bisa mencintai
Setidaknya janganlah menyakiti
Lepaskan....
Lepaskanlah dia
Biarkan dia terbang mengepakkan sayapnya
Mencari kebahagiaannya sendiri
Tanpa lagi terbebani.
"Itu semua karena papah memang harus melakukannya" jawaban darinya membuatku jengah, semua orang tua tentu ingin yang terbaik untuk anak mereka. Tapi ini apa, bahkan menjelaskan sesuatu yang seharusnya di jelaskan pun tak mampu.
__ADS_1
Aku hanya diam, menunggu apa lagi yang akan di sampaikannya. Aku tak mau banyak bicara, apalagi berharap lebih, takut sudah terbang terlalu tinggi nanti di jatuhkan sejatuh-jatuhnya, Sakit..
Ku tatap wajah sayunya, tapi tak membuat hatiku sepenuhnya kasihan.
"Papah tidak bisa menjelaskan detailnya bagaimana, tapi yang pasti papah menyayangimu" jelasnya lagi. Sudah ku duga pasti akan begini akhirnya. Ku memutar bola mataku malas, namun tetap diam.
"Papah selalu menyayangimu. Dari kamu masih dalam kandungan ibumu, hingga saat ini papah selalu menyayangimu, tak berkurang sedikitpun. Hanya ada satu hal yang membuat papah harus melakukan itu"
"Melakukan apa? Dan atas dasar apa anda melakukannya?" tanyaku cepat, terpaksa katanya, selalu begitu. Ku tatap datar wajahnya yang terus menunduk.
"Maaf untuk hal yang mana?" Tanyaku lagi
"Untuk semuanya, untuk hal yang tidak bisa papah sebutkan satu persatu padamu. Tentu kamu lebih tahu karena perasaan mu yang selalu tersakiti oleh semua yang papah lakukan padamu. Baik itu sengaja atau kadang tidak papah sengaja menyakitimu"
Papah mengangkat kepalanya, memandangku yang memang sedari tadi mentapnya. Papah mendekat dan meraih tanganku, menggenggamnya perlahan. Aku tak melawan ataupun meresponnya, hanya ada perasaan haru di dalam sana. Sungguh hal yang dari dulu ku inginkan, perhatiannya. Sekarang aku bisa sedekat ini denganya, dengan papahku sendiri. Sesak di dalam dada ku tahan sekuat mungkin agar buliran bening tidak terjatuh.
__ADS_1
"Papah sungguh menyayangi mu, jangan ragukan itu" ucapanya kali ini sukses membuat air mataku tak terbendung lagi, jatuh sudah rintikan di pipi membasahinya.
" Mari kita mulai dari nol, papah akan selalu membahagiakanmu nak"
Tak tahan lagi ku peluk papah erat, erat sekali. Hal yang sudah lama tidak pernah aku lakukan, hal yang sudah lama aku inginkan. Kehangatan kasih sayang darinya, tak lebih. Tidak menginginkan hal yang lebih, hanya hal yang sesederhana itu.
Lama kami saling berpelukan, menangisi semua hal Yang telah terjadi, hal yang tidak seharusnya terjadi, tapi sudah terjadi. Terdiam dengan posisi seperti ini. Saling mencurahkan rasa rindu, rinduku untuk papah dan mungkin rindunya untukku, mungkin.
"Sudah pah, jangan menangis lagi. Kita bukan anak kecil lagi, malu tuh di lihatin anak kecil beneran" candaku pada papah setelak ku lepaskan peluknya.
Papah hanya terseyum sambil mengusap air matanya. Tak ku sangka hari ini akan tiba juga waktunya. Aku dan papah bisa saling mencurahkan rasa rindu kami, sebagai anak dan ayah yang sudah lama tak jumpa. Bukan raga... bukan raga yang tak jumpa, hanya saja hati kami lama tak sampai.
Hari ini aku tidak jadi mengajar. Aku menitipkan rumah singgah pada Amak dan teman-teman.
Aku akan menghabiskan waktu berdua saja dengan Papah karena tadi papah memintaku untuk menemaninya berlibur. Katanya dia sengaja mengambil cuti khusus untukku, sweet banget kan hehe. Tak lupa sudah ku ijin pada om Bagas dan juga im Satya, mereka tak banyak berkomentar hanya bilang hati-hati saja. Tak lupa juga ku kabari mba Yuni, takutnya nanti nyariin seperti biasanya ia akan kepo ketika aku tak masuk kerja, dia akan memeberondongku dengan banyak pertanyaan, dan aku gak mau itu terjadi lagi, ribet.
__ADS_1
Dalam mobil kami saling bercerita banyak hal, dari keseharian ku dan keseharian papah. Kami memilih tak membahas masa lalu, itu akan menyakiti hati katanya, dan aku setuju. Akan ku nikmati hari ini bersama papah, berdua saja.