
Dunia ini penuh dengan orang -orang baik.
Jika kamu tak bisa menemukannya,
Maka jadilah salah satunya 😊😊
Asyik mengobrol, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 08 malam. Mataku membulat sempurna saat melihat jam dinding di depan sana. Mampus aku, alamat dapat amukan dari papah ini mah.
"Kamu kenapa Dira? Wajahmu seperti cemberut begitu" Tanya Satya pada ponakanya itu.
"Aku udah telat banget ni om. Aku minta ijin buat kesini dan magrib udah sampai rumah. Lah ini udah jam berapa. Saking asyiknya ngobrol, Dira sampai lupa waktu om" aku menjelaskan pada om Satya dan om Bagas.
"Aduh gimana ini om?" ucapku pusing sambil menggaruk kepalaku yang tak gatal. Gegas aku bersiap untuk pulang
"Ayo om antar" om Bagas beranjak mengambil anak kunci di atas mejanya.
"Alkhamdulillah aku punya om yang baik banget, pengertian aja ponakannya minta di antar hehe" ucapku cengengesan sambil sekilas melirik om Satya, yang di lirik bukanya tersinggung malah senyam-senyum aja.
__ADS_1
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, padahal aku ingin cepat sampai rumah.
"Agak cepetan ya om" pintaku pada om Bagus, rasa takut menyelimutiku.
"Gak usah cepat -cepat Dira, yang penting kamu selamat sampai rumah" jawaban om Bagus membuatku tak bisa tenang.
"Gak bisa om, aku harus cepat sampai rumah. Ini aja aku udah telat banget om, papah pasti marah-marah ini mah, aku gak pernah pulang lebih dari jam 6 magrib om" pasti terlihat jelas wajah kekhawatiranku.
"Emm baiklah, kamu pegangan kalau gitu. Kencangin safety belt'y ok" titahnya. Segera ku tarik kencang dan berpegangan erat.
Sampai di depan komplek, mobil om Bagas berhenti. Dia beganti baju menggunakan dan menggunakan sragam ijo khas ojol, kemudian keluar dari mobil. Aku yang bingung hanya diam terpaku di dalam mobil hingga ada yang mengetuk pintu kaca mobil.
"Ayo turun Dira, katanya buru-buru. Kamu ini gimana sih" Lekas om Bagas membukakan pintu mobil dan menarik tanganku keluar. Aku yang masih bingung hanya menurut saja.
Ku dudukan pantatku di jok motor sementara om Bagas duduk di depan memegang setir kendali motor.
"Kenapa kita ganti motor om? pake jaket ojol segala" tanyaku mengeluarkan rasa penasaran ku setelah tersadar dari kelakuan om Bagas.
__ADS_1
"Gak apa-apa. Om belum ingin bertemu mereka saja Dir. Mungkin nanti di waktu yang tepat" Jawabnya dengan suara yang tertutup masker masih bisa ku dengar dengan jelas.
"Kamu jangan bilang pada siapapun kalau kamu bertemu dengan kami ya, biar nanti om jelaskan pada kamu. Oke!" lanjutnya lagi seraya motor berhenti. Ku lihat depan, ternyata sudah sampai rumahku saja.
Gegas aku membuka helm dan memberikannya pada om Bagas. dan mengucapkan terimakasih padanya dan mencium tangannya sebagai rasa hormat ku pada orang yang lebih tua.
"Ingat y Dir pesan om tadi. Dan kalau kamu ada apa-apa dan butuh apa pun tinggal telpon om saja" tuturnya lalu ku jawab dengan anggukan kepala.
Setelah om Bagas menghilang dari pandangan lekas ku langkahkan kakiku ke halaman belakang, biar aman aku lewat pintu belakang saja. Seperti maling yang takut ketauan ku berjalan dengan menundukkan badan dan perlahan melihat kanan kiri, waspada layaknya seorang maling. Hingga menabrak sesuatu
"Brugh...
"Aduh" seruku memegangi kepalaku.
Ku angkat kepalaku dan melihat apa yang kutabrak.
"Astaghfirullah.." membulatkan mata sempurna melihat sosok yang berdiri di depanku. Tubuhku kaku tak bergerak, rasa takut langsung menyelimuti tubuh ini
__ADS_1