Nadira (yang terlupakan)

Nadira (yang terlupakan)
*Kepemilikan saham perusahaan


__ADS_3

Terkadang aku ingin mengintip takdirku


Agar hidupku lebih terencana


Tetapi aku baru sadar


Tuhan menyimpan takdir sebagai kejutan


Biarkan hidupmu di penuhi kejutan itu


Biarkan kejutan -kejutan itu mewarnai hidupmu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Semua mata tertuju pada sumber suara yang merdu itu, mata takjub tak bisa di hindari dari setiap insan yang menatap ciptaan tuhan itu. Tapi tidak dengan Pak Hamzah sekeluarga, mereka tampak terkejut dengan kehadiran Dira di sana. Ya Dira masuk tepat sepuluh menit dan tepat saat kegaduhan itu terjadi. Wajah ayu Dira tak bisa di lupakan dari bayangan wajah Anjani yang sangat mereka kenal apalagi untuk Bagus, tubuhnya seperti tersengat aliran listrik, kaku,diam membeku di tempatnya.


"Wajah itu...wajah Anjaniku" ucap Bagus lirih dengan tubuh sedikit bergetar tapi masih bisa di dengar oleh Devi istrinya yang menatap Bagus dengan tajamnya


sedangkan pak Hamzah,bu Rina dan Mita membulatkan matanya sempurna


"Terimakasih sudah hadir dalam rapat ini bu, silahkan menempati tempat duduk yang sudah kami sediakan" ujar pimpinan direksi sopan sambil menuntun Dira dan kawan-kawan.


Belum sempat bokong itu menempel sempurna di kursinya, sebuah suara menggema di ruangan rapat itu

__ADS_1


"Heeii...Apa hakmu berada di sini bocah ingusan?" hardik pak Hamzah geram dengan wajah merah padamnya


Sementara Dira hanya tersenyum menjawab hardikan si tua Hamzah. Dia tidak sadar atau mungkin belum sadar jika yang di sebutnya bocah ingusan inilah yang akan menumbangkan kesombongannya yang selama ini selalu ia banggakan.


"Tentu untuk mengikuti rapat direksi mengenai keberlangsungan perusahaan ini pak Hamzah yang terhormat" Jawab Dira santai tak mau meladeni amarah pak Hamzah yang membuat pak Hamzah semakin murka


"Rapat ini hanya untuk orang-orang yang berkepentingan dan berhak saja di perusahaan, sedangkan kau siapa hah? jangan harap saya Angga dirimu itu adalah keluarga. Mengerti!" ujar Pak Hamzah lagi dengan emosi


" Iya tuh betul pak, untuk apa anak itu ikut rapat dan duduk dalam jajaran direksi sih?" ujar bu Rina ikut menimpali ucapan pak Hamzah tak kalah sengitnya


sedangkan Mita hanya diam tak mengomentari tentang apa pun, dari dulu juga begitu hanya berbuat semau dia.


"Sudah-sudah...harap tenang semuanya. Rapat akan segera di mulai " ujar pimpinan rapat mencoba menginstruksikan agar semuanya tenang.


"Tapi untuk apa dia ikut dalam rapat ini? apa kontribusinya untuk perusahaan. Lagi pun ini perusahaan ku dan dia bukan siapa-siapa di sini" ujar pak Hamzah masih tak mau mengalah.


Sedangkan Dira yang mengetahui kenapa pak Hamzah bisa sekalut itu hanya tersenyum sinis. Apalagi jika bukan karena gadis incaran Hamzah yang selama tiga bulan ini menemaninya tidak bisa di hubungi dan sudah membawa dokumen penting penting dan juga dia sudah memberikan lima persen sahamnya pada gadis belia yang bahkan lebih muda dari cucunya sendiri, sungguh Miris dan lucu sekali kehidupan fana ini yang selalu mengutamakan hawa nafsu semata.


"Baik, saya akan mulai saja rapatnya" ucap pimpinan rapat dan semua peserta rapat menjadi lebih tenang


"Seperti yang kita ketahui tentang kondisi perusahaan yang sedang tidak stabil, saya di sini mengumpulkan petinggi perusahaan, investor dan juga jajaran direksi yang mana itu akan mempengaruhi citra perusahaan di kanca nasional maupun internasional " ujar pimpinan rapat menyuarakan pendapatnya tentang perusahaan sekarang ini


"Untuk itu kita akan membahas itu. Di tambah banyak investor yang menjual saham perusahaan dengan serentak di karenakan kondisi perusahaan yang di ambang kebangkrutan ini"

__ADS_1


"Hei...Perusahaan saya tidak bangkrut" ujar pak Hamzah emosi, tidak terima jika perusahaan yang di didirikannya di katakan bangkrut.


"Tapi kenyataannya seperti itu pak Hamzah, silahkan jika and bisa menutupi semua kerugian perusahaan dan menutupi biaya operasional perusahaan yang terbengkalai. Bahkan, saham Anda beserta keluarga saja tidak sampai tiga puluh persen sekarang ini. Jadi anda tidak berhak untuk membantah semua ini" ujar pimpinan rapat membuat pak Hamzah skak mat. Rupanya dirinya baru sadar jika akhir-akhir ini dirinya terlalu mudah menerima investor tanpa mencari tahu dulu latar belakangnya. Kecerobohan dan ketidak telitiannya tak lain adalah ulah gadis pujaannya itu, semua dunianya tak jauh dari asmara dan asmara yang membuat dirinya menjadi buta akan akal sehatnya, seperti abg labil yang mengejar cinta akan memberikan apapun yang gadis pujaannya minta.


"Jadi kita di sini akan memilih siapa pimpinan baru perusahaan menggunakan jumlah saham terbesar yang di miliki oleh masing-masing, pemilik saham terbesar adalah yang berhak memimpin perusahaan selanjutnya dan menentukan nasib dan keberlangsungan perusahaan ke depannya " ujar pimpinan rapat, lalu semua peserta rapat mengumpulkan surat kepemilikan saham termasuk Hamzah sekeluarga, saat Ema ikut mengumpulkannya membuat Hamzah sekeluarga keheranan tapi memilih diam, karena mereka yakin mereka lah pemilik saham terbesar dan akan memenangkan kembali kepemimpinan perusahaan.


Hamzah sekeluarga tersenyum sinis,


"Seharusnya tidak perlu repot-repot seperti ini pak, tentu sudah tahu pasti siapa yang akan jadi pemenangnya" ujar pak Hamzah jumawa, karena yang dia tahu kepemilikan saham setiap investor paling banyak hanya memiliki sepuluh sampai lima belas persen saja.


"Kita tentang dulu pak, saya beserta tim akan menghitung akumulasi saham setiap peserta rapat di sini"


Tim mulai memulai menghitung saham masing-masing peserta rapat. Dira dan kawan-kawan hanya duduk tenang saja.


Setelah menunggu sekitar tiga puluh menit penghitungan saham telah selesai, semua sudah di hitung dengan baik dan secermat mungkin oleh tim terbaik perusahaan.


"Baik semuanya, Tim sudah melakukan penghitungan dengan cermat berdasarkan data yang di terima dan hasilnya sudah saya terima" ujar pimpinan rapat, semua wajah menjadi tegang tapi tidaj dengan Pak Hamzah sekeluarga masih dengan wajah sombongnya dan juga Dira dan kawan-kawan yang terus tenang.


Semua jumlah saham masing-masing di bacakan oleh pimpinan rapat


"Kita mulai dari Pak Robi 5 persen, Pak Daud 7 persen, Pak David 8 persen, pak Yanuar 12 persen, Pak Prapto 15,5 persen Untuk bu Nadira 29,5 persen dan untuk Pak Hamzah sekeluarga 30 persen"


Senyum mengembang di wajah pak Hamzah sekeluarga mendengar Dira tetap kalah dari sahamnya yang masih lebih 0,5 persen itu sudah cukup untuk memenangkannya di perusahaan. Tapi juga ada raut wajah keheranan dari oak Hamzah, dari mana Dira bisa mempunyai Saham perusahaan sebesar itu, atau jangan-jangan....

__ADS_1


jangan-jangan apa ya guys???


Coba tebak apa hayoooo


__ADS_2