Nadira (yang terlupakan)

Nadira (yang terlupakan)
*Casanova kadal 2


__ADS_3

Saat ku masuk ke ruangannya yang kulihat adalah ruangan yang penuh dengan dominasi warna hitam dan abu-abu, warna maskulin seorang pria, apalagi pria Casanova kadal seperti dia.


Ku lihat kursi direktur membelakangi kami yang tengah duduk di depan mejanya, sia**n nih orang, pengen cepet-cepet menyelesaikan semuanya dan segera hempas pergi dari tempat ini, sayangnya tak semudah itu, semua karyawanku bergantung padaku kali ini.


"Ekhem.." Aku berdekhem untuk memberitahu bahwasanya di ruangan ini sedang ada orang lain alias tamu, tapi kursinya masih belum mau berputar.


"Selamat siang pak, saya Dira pimpinan dari PT. NP Corp" ucapku dengan sopan memperkenalkan diri.


Kursi itu akhirnya berputar dan terlihatlah seorang Biantara putra Rahaja yang di gadang-gadang sang Casanova itu. Ya dia lumayan tampan, bahkan mungkin memang tampan tapi itu hal yang biasa menurutku. Tampan saja tak cukup tanpa di bekali attitude dan prestasi yang mumpuni.


Dia membuka kacamatanya dan menatapku dari ujung kaki hingga ujung kepala, si*l nih orang natap gue sampe gini amat batinku berbisik.


"Selamat siang pak, saya Dira dan ini Ema. Kami kesni ingin...."


Dia mengangkat tangannya, sontak ku hentikan kalimatku yang masih menggntung.


"Nona Dira, akhirnya saya bisa bertemu langsung denganmu. Apa harus semahal ini saya membayar untuk bisa bertemu langsung denganmu hm?" ucapnya dengan santai.


Apa-apaan ini, kenapa jadi begini. Jadi ini alasan dia menerima kerjasama dengan perusahaanku. Oke, baiklah tuan casanova saya akan melayani anda dengan baik. Seringaiku di sudut bibir.


"Iya, perkenalkan saya

__ADS_1


"Nadira Putri, hmm nama yang sangat indah, seindah parasmu yang ayu" lagi-lagi dia memotong ucapanku .


"Maaf?" ku berpura-pura bodoh dan tak mengerti saja, mungkin itu lebih baik.


"Ya, tentu kamu bukan wanita bo*oh yang tidak mengerti ucapanku kan?" dia menaik turunkan alisnya sebelah, hmm harus ekstra sabar ngadepin nih orang,lebih baik dengan pak Rahaja langsung saja,dia lebih profesional dan tentu semua bisa di wakilkan seperti biasanya.


Aku hanya menimpali ucapanya dengan senyuman saja, tak mau meladeni lebih jauh karena pasti akan lebih panjang lagi.


Ku lihat Ema hendak mendekati pak Bian namun ku tahan, aku tahu pasti Ema tak akan terima aku di perlakukan seperti ini, seperti dulu saat ada yang menggangguku dia akan menjadi yang pertama membelaku dan langsung menghajarnya hingga tak berdaya.


Ku menggelengkan kepala pada Ema untuk tidak gegabah, akhirnya dia duduk kembali di sampingku.


"Terimakasih atas pujiannya pak. Bisa kita membahas tentang kerjasama yang akan kita lakukan ke depannya pak?" tanyaku memangkas kalimat -kalimatnya yang tak berfaedah menurutku.


" Ini salinan berkas kerjasamanya sudah saya siapkan pak, bapak tinggal menyimpannya dan kami sebagai perusahaan pelaksanaan akan melakukan yang terbaik semampu kami" Ema memberikan map berisi berkas salinan itu kepada asistennya yang sedari tadi berdiri di sampingnya.


"Baik, berkas ini saya terima, dan perusahaan kita sudah resmi menjalin kerjasama. Semoga kedepannya tidak ada halangan apa pun dan menghasilkan hasil yang optimal" Pak Bian mengulurkan tangannya


Ku sambut uluran tanganya dengan hangat " Sudah pasti pak" Jawabku dengan pasti.


"Oke masalah kerjasama kita sudah selesai, kebetulan ini sudah waktu makan siang. Jadi bisa kita sekalian makan siang bersama bu Dira?"

__ADS_1


Ku lihat jam di tangan sudah menunjukkan hampir jam 12, benar juga. Pembicaraan bisnis ini sungguh mengabiskan banyak waktu. Harusnya tinggal meminta tanda tangan saja, selesai. Tapi pembicaraan ini harus panjang di karenakan Casanova kadal itu sering kali menyelipkan kata-kata pujian ataupun rayuan tak penting dan tak profesional menurutku. Pasti sudah sering sekali dia mengeluarkan kata-kata mautnya untuk klien-klien perempuanya, idih amit-amit ku ketuk-ketuk jidatku.


Senggolan dari Ema membuyarkan lamunanku,


"Ah iya pak boleh, kebetulan juga saya sudah lapar" Jawabku mengiyakan ajakan makanya.


Senyum terbit dari bibir pak Bian.


"Silahkan Nona" dia mempersilahkan aku untuk berjalan duluan.


"Tapi maaf pak, saya bersama Mbak Ema boleh?" tanyaku sopan.


"Oh saya pikir hanya kita berdua hehe" jawabnya mulai konyol


"Tentu saja boleh nona, kalau begitu saya juga akan membawa asisiten saya agar mbak Ema ada temannya nanti" jawabnya lalu kami berempat keluar menuju restoran terdekat kantor.


Saat memasuki restoran tak sengaja ekor mataku melihat pemandangan yag membuat hati ini panas..


Ya Allah ternyata hati ini masih saja sakit melihatnya...


Kira-kira lihat apa ya Dira guys??

__ADS_1


Yuuk ikuti terus ceritanya..


__ADS_2