Nadira (yang terlupakan)

Nadira (yang terlupakan)
*Titik Lemah sang Lady


__ADS_3

Kepemimpinan bukan tentang jabatan


Tapi tentang menjawab persoalan


Seraya menebarkan harapan


Dan hasil nyata yang di berikan


Bukan hanya sekedar semata bualan.


MamaMay


... ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...PAPAH YANG SEPERTI APAH?...


"Papa hanya mau jabatan yang tinggi ya nak. Papah gak mau kerja capek-capek kan papah sudah gak muda lagi. Atau papah aja yang gantiin kamu jadi CEO, jadi nanti kamu tinggal ongkang-ongkang kaki aja di rumah dan menikmati hasilnya biar papah yang kerja. Gimana nak? boleh kan?" tanya Bagus tak tahu malu sekali, Sedangkan Dira hanya mengangguk-anggukan kepala seraya melangkah mendekati dua orang itu. Bagus merasa senang dan berada di atas awan karena melihat ekspresi anaknya yang seperti tak keberatan dengan permintaannya.

__ADS_1


"Bagus, jika aku bisa menguasai perusahaan ini sepenuhnya. Dengan begitu aku bisa dengan mudah mendepak orang tua itu" ucap Bagus namun hanya mampu berucap di dalam hatinya, dia ingin Putri alias Dira mempercayainya terlebih dahulu.


Sambil tersenyum -senyum ssndiri Angan Bagus sudah melayang tinggi, dia membayangkan dirinya bisa menjadi CEO menggantikan putrinya menguasai perusahaan itu dan mendepak siapa saja yang tidak menuruti kemauannya. Dia ingin membuktikan bahwa dia bisa lebih sukses dari kehidupannya yang dulu dan bisa melakukan apapun. Dia bisa menikmati kehidupan tanpa harus bersusah-susah apa ya bekerja.


Sedangkan Dira hanya menyunggingkan sudut bibirnya melihat ayahnya yang tersenyum senyum sendiri, Ck...decak Dira melihat dua orang di depannya asyik dengan lamunan mereka.


"Ekhemmm" deheman Dira Membuyarkan lamunan dua orang di depannya yang terlihat salah tingkah.


"Eh.. eh.. maaf nak, papah malah asyik melamun hehe" ujar Bagus meminta maaf di ikuti oleh bu Rina yang ikut juga meminta maaf pada Dira


"Heh Tidak apa-apa" jawab Dira dengan senyum smirknya


"Iya, nanti biar cucu oma yang cantik nemenin oma saja. Kita shopping bareng, ke salon bareng, biarin papahmu saja yang bekerja biar kita terima hasilnya saja" Ujar bu Rina ikut menimpali ucapan Bagus dan hendak menyentuh tangan Dira namun segera Dira menghindar membuat bu Rina dan juga Bagus mengerutkan keningnya, keheranan.


"Kenapa nak? Apa papah salah?" tanya Bagus masih tak sadar dengan kesalahannya, mungkin memang orang seperti itu tak akan pernah sadar kali ya sebelum kena apesnya.


"Tidak. Tidak salah sama sekali. Saran anda sangat bagus dan saya suka itu" jawab Dira dengan santainya membuat binar bahagia jelas tercetak di wajah Bagus dan bu Rina

__ADS_1


"Nah kan betul nak, biar papah kamu aja yang capek-capek kerja. Kita mah ngabisin duitnya aja ya sayang" ujar bu Rina semangat empat lima mendengar jawaban dari Dira tadi.


"Ck... sebenarnya itu bagus,memang bagus jika anda benar-benar tulus dan kita tak ada dalam situasi seperti ini. Tapi sayangnya ketulusan itu tidak saya lihat di mata anda, dan dari tadi anda menyebut diri anda sebagai papah. Papah yang seperti appa?" tanya Dira dengan gemerutuk giginya menahan emosi di dalam dada nya membuat Bagus mati kutu dan hanya diam tak mampu berkata.


"Seorang papah yang tega berbuat tidak adil pada anaknya? atau seorang papah yang tega mengusir, ah bukan mengusir tapi membiarkan anaknya pergi ke dunia luar tanpa bekal apapun dan bahkan tak mencegah atau ah...sulit sekali mengungkapkannya" hardik Dira pada Bagus sang papah, sontak itu membuat Bagus semakin menundukkan kepalanya.


"Anda tahu perasaan saya bagaimana? Ah saya lupa, Bagaimana anda bisa tahu sementara anda memang tak pernah perduli pada saya, bahkan mungkin semenjak saya lahir. Atau jangan-jangan mungkin memang saya tak pernah di harapkan kehadirannya di Dunia ini sehingga anda dengan begitu teganya memperlakukan saya sedemikian rupa" lanjut Dira mengungkapkan segala sesak di dadanya, Bagus semakin menundukkan kepalanya entah menyesal, merasa bersalah atau apa,hanya Bagus yang tahu.


"Jadi anda mau di sebut papah yang seperti appa tuan Bagus?" tanya Dira lantang setengah berteriak membuat mereka berdua terbeliak kaget.


"Bu...bukan begitu nak" ucap bagus segera menyanggah ucapan anaknya yang sebenarnya semua itu betul, eh tidak semuanya sih. Bagian dia tidak menginginkan kehadirannya iti salah, dia sangat menginginkan dan menunggu kehadirannya bersama istri tercintanya waktu itu. Tapi entah sejak kapan dia menjadi berubah.


"Iya nak, kami tidak bermaksud seperti itu" bu Rina ikut bicara membenarkan ucapan Bagus.


"Lalu seperti appah hah?" kini bukan hanya terkaget bahkan sampai sedikit gemetaran karena Suara Dira benar-benar menggema di seluruh ruangan membuat siapa saja yang mendengarnya ketakutan.


"Lalu seperti apppah hiks..hiks..hiks" kini tubuh Dira bergetar karena dia menangis, pertahanannya jatuh sudah karena luka itu kembali melintas dan menabur garam di luka lama terasa lebih perih dari sebelumnya.

__ADS_1


Ema segera mendekati Dira dan memeluk sang Lady yang sedang dalam mode lemahnya, Dira selalu membutuhkan bahu untuk bersandar jika luka itu kembali teringat dan kini luka itu berada di hadapannya, luka itu berasal dari mereka berdua Bagus dan bu Rina.


__ADS_2