Nadira (yang terlupakan)

Nadira (yang terlupakan)
*Kenapa dengan nama Dira?


__ADS_3

"Ya pak, ada yang bisa di bantu?" Amak segera menghampirinya dengan senyum di wajahnya.


"Bapak mencari Dira?" Tanya Amak lagi ketika melihat orang itu terus menatapku


"Siapa Dira?" Tanyanya, bukanya menjawab pertanyaan Amak dia malah balik bertanya.


Amak menatapku, mungkin bingung dengan ini semua.


Tak ingin lama membuat Amak bingung, aku segera bangkit dari kursiku dan menghampirinya.


"Kenapa ikut kesini, bukanya tempat ini kumuh?" tanyaku dengan sedikit sinis.


Papah langsung salah tingkah, mungkin tidak enak karena ada Amak dan anak - anak lainnya yang mendengar ucapanku.


"Ah...enggak gitu nak" jawab papah menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Ya, dia adalah papah. Rupanya papah mengikutiku k


masuk ke rumah singgah ini. Entahlah apa tujuanya.


"Jadi kenapa papah ikut kesini, bukanya papah sibuk",Amak mentapku dengan tatapan heran, aku yang lemah lembut bisa sedingin ini berbicara, apa lagi dengan orang yang di panggil papah, biarlah nanti ku jelaskan.


"Ah iya, Siapa Dira? " Kembali mengulang pertanyaan tanpa menghiraukan ucapanku tadi.


"Aku" jawabku cepat

__ADS_1


"Kamu?" tanyanya menaikkan salah satu alisnya seperti orang heran, apaka sebegitu tidak sadar dengan nama pemberiannya sendiri.


"Ya, aku Nadira Putri. Kenapa pah?" Jawabku dengan tajam.


Papah seperti tertohok dengan jawabanku, mungkin dia sudah lupa nama anaknya sendiri, begitulah dia yang selalu sibuk dengan dunianya sendiri.


Tiba-tiba tubuhku di rengkuhnya, di peluknya erat hingga hampir sesak untukku bernafas.


"Uhuk..uhuk.. Pah,lepas" ucapku sedikit terbata, entah ini aku harus bahagia atau sedih, lagi-lagi aku bingung dengan Papah hari ini. Sebisa mungkin aku meruntuhkan dinding si antara kita tapi tak pernah berhasil selama ini, tapi hari ini sikapnya aneh sekali.


Papah segera melepaskan pelukannya


"Maaf" ucapnya lirih sedikit terisak, namun aku tetap bergeming, diam di tempatku, hanya menatapnya dengan heran.


Lama dengan posisi ini, aku menuntunnya untuk duduk di kursi, Amak lalu segera membuatkan teh hangat untuk papah.


"Nak" Papah membuka suara


Ku tatap wajah tampannya meski sudah lumayan berumur, hampir sama seperti om Bagas, bedanya om Bagas lebih segar dan juga badanya yang besar, mungkin om Bagas rajin berolah raga, sedangkan papah hanya sesekali saja setahuku, tapi meskipun tak berotot tapi tidak berlemak sana sini juga. Biasa saja, tak gemuk tak kurus juga.


"Kenapa menggunakan nama Dira bukan Putri seperti papah memanggil mu Putri?" tanyanya, ku telisik wajahnya dengan teliti. Dia memang papahku, tapi kenapa dia tak pernah mengerti ku sedikit pun.


"Kenapa memangnya? kenapa dengan nama Dira?" jawabku, menjawab pertanyaan dengan pertanyaan sebenarnya tidak baik tapi entahlah itu keluar dari mulutku begitu saja.

__ADS_1


"Menurut papah nama putri lebih bagus untukmu ketimbang Dira dan la


Belum selesai papah berucap sudah ku tatap tajam dirinya, entah kenapa aku tidak suka dengan kalimatnya kali ini,


"Kenapa? Nama Nadira Putri itu darimu dan ibu Anjani. Mau Putri ataupun Dira tak masalah bukan?, itu hanya panggilan" Jawabku ketus,


"Lagipun, panggilan Putri sepertinya tak pantas untuk ku, aku hanya orang yang menumpang hidup denganmu, mungkin juga aku ini hanya beban untukmu,. makanya selama ini anda berat menganggapku ada di rumah" jawabku semakin sengit mengingat semua perlakuannya padaku. Memang tak berbuat kasar, tapi sepertinya tak pernah menganggapku juga.


Sedangkan papah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya,mungkin tak terima atau tak menyangka jika aku yang selama ini diam bisa berbicara seperti itu.


"Kenapa hanya diam tuan Bagus Sahputra? benar semua yang ku ucapkan?" tanyaku lantang. Amak mengelus bahuku pelan, mungkin takut aku kelepasan nantinya.


"enggak nak..enggak" elak papah semakin terdengar isakannya.


"Lalu?"


"Papah menyayangimu" jawabnya,


"Kamu benar. Nama Nadira Putri adalah nama dariku dan ibumu. Anjani sangat menyukai nama itu, begitupun dengan papah dan kami memutuskan untuk memanggilmu Dira. Tapi setelah kepergian ibumu entah kenapa papah jadi tidak suka dengan nama Dira, makanya papah memutuskan untuk memanggilmu Putri, karena kau putriku, pelita hidupku" jelasnya sambil pandangannya menerawang jauh, mungkin membayangkan waktu masih bersama ibu dulu.


"Ckk" Aku berdecih menatapnya sinis. Pelita hidupnya konon?? Pelita hidup yang bahkan sudah kau tiup sebelum kau nyalakan.


"Lalu kenapa papah setega itu padaku" ucapku tal terima dengan semua penjelasannya.

__ADS_1


"Itu semua karena....


jeng... jeng...jeng...


__ADS_2