
Bagus memberitahukan Satya dan ibu mertuanya jika Anjani ingin bertemu mereka lalu semua bergegas menuju ke ruangan Anjani,
saat ibu dan Satya sudah masuk tiba-tiba Anjani melarang Bagus suaminya untuk masuk,
Anjani meminta suaminya untuk menjaga Nadira saja di ruangannya,
dengan wajah memelas Anjani memohon hingga akhirnya Bagus pun pasrah dan keluar dari ruangan istrinya walau sebenarnya ia penasaran apa yang ingin di sampaikan istrinya itu kepada Satya dan ibunya.
Di ruangan bayi putrinya terlihat sedang tertidur pulas,
Bagus mendekati dan duduk di kursi yang ada di samping ranjang bayinya
memandang wajah cantik putrinya
"kamu seperti lukisan mamahmu nak, sangat persis sekali" Bagus tersenyum mengelus pipi mungil anaknya
"semoga kelak kamu bisa menjadi seperti mamahmu nak,dia wanita yang sempurna"
"papah janji akan selalu menjadi yang terbaik untukmu" Bagus berdiri lalu mencium pipi mungil yang masih kemerahan itu.
Bayangan menjaga Nadira bersama istrinya,
melewati tumbuh kembang anaknya membuat Bagus tersenyum -senyum sendiri saja,semua begitu indah begitu nyata.
Sedangkan di ruangan Anjani,
semua orang menangis,
Anjani di peluk erat oleh ibu dan adiknya Satya,
entah apa yang di sampaikan Anjani Kepada mereka hingga membuat mereka menangis sedemikian rupa,
Satya beranjak dari ruangan Anjani,
menatap Anjani dan di jawab dengan anggukan oleh kakaknya,
melewati lorong kecil ke ruang bayi tak sengaja ia bertemu gadis bar-bar kemarin,
gadis itu terkejut ketika meihat Satya di depannya,
menunjukkan wajahnya karena takut kemarin ia sudah berbicara seperti itu kepada Satya,
melihat gadis itu menunduk kejailan satya muncul
"hati-hati kalau jalan bu,jangan menunduk terus,
nanti nabrak tembok es gak sadar lagi"
ucap Satya santai sambil berlalu begitu saja,
mendengar ucapan Satya gadis itu menghentikan langkahnya
"hei sembarangan kami panggil saya ibu,
saya itu masih muda tau" sungutnya membara tak terima dengan ucapan Satya,
menghampiri Satya dan menarik bajunya membuat Satya tertarik kebelakang dan jatuh tepat di atas tubuh gadis tadi,
mereka terdiam sejenak lalu dengan segera Satya berhasil menguasai diri segera bangkit dan merpihkan kemejanya,
gadis itu pun segera bangkit setelah melihat Satya sudah berdiri,
"heh mas kulkas,saya itu punya nama,
nama saya itu T.A.N.I.A Tania bukan ibu,
emang di kira aku ibumu apa panggil ibu-ibu segala"
ya gadis yang sedari kemarin berdebat dengan Satya adalah Tania teman Anjani yang kebetulan sedang menjenguk temannya yang habis melahirkan,
Satya menatap Tania sekilas,
__ADS_1
merasa di tatap Tania malah menatapnya balik dengan memajukan kepalanya seakan menantang Satya,
di perhatikan dari dekat laki-laki ini mirip seperti temannya Anjani tapi apa mungkin dia adiknya Anjani yang sering di bicarakan Anjani dulu, mereka tidak pernah melakukan video call karena waktu itu Satya hanya membeli hp biasa yang penting bisa berkabar dengan kakaknya sisa kirimannya ia gunakan untuk merenovasi rumah dan modal dagang.
Tania menggelengkan kepalanya
"mana mungkin Anjani yang baik punya adik yang seperti kulkas ini" ucapnya dalam hati
sedangkan Satya yang melihat Tania seperti itu tak peduli dan melanjutkan langkahnya.
Satya melihat Bagus masih berada di dalam ruang bayi bersama keponakannya,
benar kata kakaknya Anjani bahwa suaminya sangat mencintainya dan mencintai Nadira anak mereka,
Satya masuk lalu menepuk bahu Bagus perlahan membuat Bagus terkejut dan meliriknya,
"di tunggu mba Anjani di ruangannya ka" ucap Satya kemudian duduk di kursi bersebelahan dengan Bagus
tanpa banyak bertanya Bagus berdiri lalu mengecup pipi putrinya
"jaga Nadira dulu ya Sat"
dan di angguki oleh Satya lalu beranjak dari ruangan itu,
Satya memilih bersama Nadira keponakannya takut ia tak punya waktu banyak nanti bersama keponakannya,
entahlah kedepannya akan seperti apa tapi firasatnya mengatakan ia takkan lama bersama keponakannya itu.
Di ruang Anjani pintu terbuka dari luar muncul Bagus dengan senyum hangatnya,
masuk mendekati istrinya,
ibunya memberi ruang untuk Anjani bersama suaminya,
"ada apa sayang?"
"tadi kata Satya kamu mau bertemu denganku?
Bagus menoel hidung Anjani gemas,
sambil mengelus rambut istrinya,
Anjani yang di tanya hanya tersenyum simpul namun senyum itu sangat indah terukir di wajah Anjani,
meraih tangan suaminya Anjani berujar
"maukah mas berjanji?"
"janji apa sayang?
apa pun untukmu" mengecup tangan Anjani
"jika nanti terjadi apa-apa pada ku tetap lah jalani hidupmu dengan baik,
jagalah anak kita seperti kau menjagaku dengan baik mas,
cintailah Nadira kita sepenuh hatimu,
didiklah Nadira kita menjadi gadis kuat dan pintar"
"uhuk...uhuk..
Bagus bangun lalu mengambil air untuk Anjani,
meminum air dari suaminya mungkin untuk yang terakhir kalinya
"sudah kamu jangan terlalu banyak bicara dulu sayang,
kamu dari tadi oagi bicaranya ngelantur terus"
ucap Bagus menenangkan Anjani namun Anjani menolak
__ADS_1
"tidak mas,,
sepertinya waktuku sudah tidak banyak..
"stop Anjani jangan bicara lagi" ucap Bagus sedikit meninggikan suaranya lalu terduduk lesu dan menangis
"jangan bicara seperti itu sayang...
kita akan membesarkan anak kita bersama-sama"
"aku mohon... jangan tinggalkan aku sendiri sayang" Bagus menghujani wajah Anjani dengan ciuman
"aku takan meninggalkanmu sendiri mas,
Allah sudah menitipkan buah hati kita yang kau beri nama Nadira,
dia adalah sebagian dari diriku,
lagipun aku akan se..la..lu.. di hat....ti...mu kan mas" ucapan Anjani terbata bata
"tuntun aku mas" mohon Anjani kepada suaminya
Bagus menggelengkan kepalanya
"enggak sayang aku mohon jangan seperti ini...huaaaa
jangan tinggalkan aku sayang Anjaniku,
aku sangat mencintaimu sayang..
sangat"
"aku juga sangat mencintaimu mas Bagusku,
aku mohon mas tuntunlah aku aku sudah tidak tahan la....gi"... Anjani mulai kehabisan nafasnya
dengan berat akhirnya Bagus mendekatkan bibirnya ke telinga istrinya,
"Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah"
dengan tangis di bibirnya Bagus menuntun istrinya yang di ikuti gerakan bibir oleh Anjani membaca dua kalimat syahadat
"lailahaillallah muhammadurrasulullah" dengan terabata Anjani bisa menyelesaikan Kalimat itu dan menghembuskan nafas terakhirnya di pelukan suaminya,
"innalilahi wa inna ilahi roji'un"
Bagus terus menangis memeluk istrinya yang kini sudah tak bernyawa,
separuh jiwanya telah pergi dan takan kembali,
kini hidupnya hampa tanpa belahan jiwanya,
serpihan hatinya tak mungkin bisa utuh lagi,
Anjaninya telah berpulang ke Rahmatullah.
turut berduka cita atas meninggalnya Anjani,
note : sorry ya guys baru bisa update lagi,
soalnya seminggu keamrin aku di sibukin sama pesta nikahan adik bungsu aku jadi gak sempet nulis 😁✌️✌️
untuk adikku dan istrinya semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah jodoh dunia akhirat Aamiin 🤲
dukung terus Karyaku ya guys
like and vote terus
terimakasih 🙏🙏
salam sejahtera untuk kalian semua 🤗🤗
__ADS_1