
"Aku harus memastikannya terlebih dahulu" ujar Dira bermonolog lirih.
"Bagaimana gadis kecil, kau suka dengan kejutanku hem?" tanya Hamzah pada Ema dengan satu tangan memegang dagunya yang sedikit berdarah, mungkin tadi Ema sempat melakukan perlawanan di dalam mobil hingga ada beberapa luka di wajahnya.
"Ennnng....eennnng" jerit Ema tidak jelas karena mulutnya di sumpal dengan kain . Ema menggerak -gerakkan badannya ke kiri dan ke kanan sebis mungkin, namun ikatan itu terlalu kuat untuk di lepaskan.
"Kenapa haaah...susah??? hahahah" tawa menggelegar di hutan sepi itu membuat suaranya terdengar semakin mengggelegar saja.
"Sudah ku katakan untuk tidak macam -macam bukan, tapi apa hah??? kau selalu menetangku dari dulu, dari dulu kau tau itu hah..dasar gadis sialan" ucapnya murka sambil berkacak pinggang di depan Ema yang sedikit kesakitan karena lukanya di tekan kuat oleh Hamzah tadi.
"Kenapa kau tak mati sekalian saja dulu dengan bapakmu itu, menyusahkan saja. Sudah ku asuh tapi malah jadi musuh dalam selimutku, dan sia**nya justru kau pula yang membuatku menjadi bangkrut begini, cuiiih"
__ADS_1
"Tidak tahu balas budi kau ini memang keturunan bapakmu yang sok alim itu, bodohnya mau saja menuruti semua perintahku yang bahkan secara tidak sadar telah merebut istri tercintanya, haha" ujarnya lantang, cemoohan, hinaan keluar dari mulut tua itu.
Setiap kata dalam kalimatnya ku telaah dengan baik, ada hubungan apa antara Ema dan pak Hamzah di masa lalu?? Sepertinya mereka mempunyai kisah yang dahulu, dan apa tadi katanya
"Ema menentangnya dari dulu? pak Hamzah selingkuhan ibunya Ema? dan ayahnya mati karena ulah Hamzah?? Ahh kenapa Ema tidak pernah cerita tentang ini kepada ku? Kenapa dia pendam semua lukanya sendirian??" Dira membatin sambil terus mengawasi keadaan di depan matanya.
Terlihat sorot mata Ema yang merah menahan amarahnya sepertinya, entah sekuat apa dia selama ini menahan semuanya sendirian saja.
"Tunggu dulu, wajah itu.....wajah itu seperti wajah Ema. Apa mungkin dia adalah.. adalah ibunya Ema yang menghilang?" Dira terus saja menerka-nerka sendiri.
"Silahkan, tataplah wajah ibumu dengan puas. Karena sebentar lagi kau harus memutuskan dan memilihnya mau tidak mau" ujar Hamzah membuatku menyipitkan mata. Memilih? Memilih apa? Ahhh sungguh teka teki ini membuat otaknya terus berputar cepat.
__ADS_1
Sementara di sana ibu itu terus menatap Ema dengan linangan air mata, terus memohon pada Hamzah dengan wajahnya yang terus memohon karena tangannya di cekal Hamzah tadi saat dirinya hendak berlari pada anaknya yang sedang terkapar di dalam mobilnya dengan luka dan darah di hampir seluruh wajahnya.
"Aku mohon mas!" ibu Ema terus memohon pada Hamzah untuk bisa mendekati putrinya, rasa keibuannya yang melihat anaknya terkapar di tambah dengan rasa rindu bercampur penyesalan menjadi satu bercampur aduk dalam hatinya.
"Putrimu belum menentukan pilihannya. Jadi biarlah dia cukup melihatmu dari sana, bukankan itu sebuh kebaikan ku kan hem" ujar Hamzah menguatkan cengkraman tangannya pada ibunya Ema yang terus menggelengkan kepalanya.
"Aku mohon mas...aku mohon.. untuk sekali ini saja mas dan kau tahu itu...aku mohon hiks..hiks..hiks.." isakan tangis pun tak meluluhkan hati pak hamzah..
hingga beberapa waktu terdiam dia melepaskan tangan ibunya Ema, bukanya segera mendekati putrinya justru ibunya Ema menatap pada Hamzah...
"pergilah sebelum saya berubah pikiran" ujarnya lalu membalikkan tubuhnya membelakangi....
__ADS_1