Nadira (yang terlupakan)

Nadira (yang terlupakan)
*Muka dua


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 15.00, waktunya untuk ganti shift dan itu berarti waktunya juga aju untuk pulang, ku tersenyum senang karena tak lama lagi aku akan bertemu dengan papah, papah Bagusku yang dulu, yang amat ku rindukan.


"Gue duluan ya mba" pamitku pada mba Yuni dan yang lainya. Segera ku lajukan kuda besiku dengan hati riang gembira,serasa ringan sekali hariku ini.


Untung tadi di ruangan om Bagas eh pak bos maksudnya gak terlalu banyak pertanyaan,hanya sekedar perkembangan cafe dan menu-menu lainya yang minta sedikit di inovasi biar terus mengikuti perkembangan jaman katanya, aku yang pada dasarnya suka kulineran dan mencoba makanan -makanan baru mencoba menyuarakan pendapat, dan syukurnya mba Yuni, Chef bahkan pak bos menerima ideku dan akan mencobanya katanya, aku senang jika ideku di gunakan dan berguna.


Tiga puluh menit mengendarai skuter sampai juga aku di rumah yang menjadi tempat tinggal ku selama ini. Sedari tadi senyuman tak lepas dari wajahku ini, pasti papah sudah pulang karena ini hari ini sabtu, biasanya papah hanya setengah hari kerja.


Ku ayunkan kaki ku dengan ringan menuju pintu utama yang terbuka lebar, ku senandungkan lagu mengiringi setiap langkahku.

__ADS_1


Samar ku dengar di dalam ada ribut-ribut, entah siapa itu, tapi saat diri ini sudah berada di ambang pintu langkahku terhenti karena ku dengar namaku di sebut


"Jadi Kamu memilih untuk mau mempertahankan Putri mas?" suara Tante Devi lantang


"Dia anakku bersama Anjani Dev,aku gak mungkin menyingkirkan dia dari hidupku. Dia separuh hidupku Dev, kamu harus mengerti itu" pembelaan papah membuat hatiku bergetar, senang rasanya ada yang membelaku juga di rumah ini setelah kakek tiada.


"Anjani, Anjani, Anjani terus yang ada di pikiranmu mas. Itu makanya aku menyuruhmu untuk menyuruhnya pergi dari rumah ini, aku tak mau selalu ada bayang-bayang Anjani dalam rumah tangga kita mas, aku muak dengan semua itu" Suara emosi Tante Devi semakin menggelegar Terdengar


"Lagipula, dari awal kau sudah tahu jika aku hanya mencintai Anjani tapi kau memaksaku untuk menikahimu, dan aku menurutimu demi restu mamah. Jadi aku mohon untuk yang satu ini" terdengar papah memohon dengan suara bergetar. Ada kebanggaan tersendiri di hati karena papah membela ku dan begitu mencintai ibu. Ku tersenyum puas mendengarnya.

__ADS_1


"Tidak bisa, Aku sudah bertahan selama ini denganmu hanya demi Mita mas. Agar dia tak malu jika orang tuanya bercerai. Ku akui memang aku mencintaimu mas, tapi kesabaran ku ada batasnya. Dan ku rasa ini sudah batasku menerima anakmu dengan Anjani itu di sini. Atau aku akaaan


"Baiklah -baiklah, terserah kau saja. Selalu itu jadi senjata mu" jawaban papah sontak mematahkan hatiku yang baru mulai bersemi kembali. Kali ini sungguh sakit, lebih sakit dari biasanya. Baru kemarin dia memberikan hari yang indah dengannya sebagai seorang anak dan ayah yang sesungguhnya, tapi ini apa? Bahkan dia akan menyingkirkan aku dari hidupnya, miris sekali. Ku menertawakan diriku sendiri yang dengan pedenya mengira jika kebahagiaan kemarin adalah untuk selamanya. Nyatanya, semua itu hanya untuk menebus semua kesalahannya dan segera mendepak ku dari kehidupanya. Sungguh tak terbayangkan di pikiranku di mana letak hatinya, bahkan untuk seorang anaknya, darah dagingnya sendiri.


"Prok..prok..prok.." ku lanjutkan langkahku lebih mendekat dengan mereka.


Serempak mereka semua menoleh melihatku, Ternyata di situ ada oma juga, ibu Rani yang terhormat sedang duduk menyilangkan kakinya.


"Nak.." ucap papah menggantung ucapannya melihatku terkejut.

__ADS_1


sedangkan Tante Devi, tatapannya sinis sekali terhadapku. Hem.. ternyata selama ini dia bermuka dua


__ADS_2