
Jika langit bisa mendengar
ingin ku sampaikan rinduku untuknya
untuk yang terkasih yang terlelap di sisinya
Malam, Bantu aku untuk melupakannya.
Ku ambil jaket dan ku sambar kunci motor di atas nakas lalu segera menuju pintu untuk keluar, aku harus memastikan semua aman terkendali.
Belum sempat ku memegang gagang pintu, terdengar suara ketukan dari pintu. Ku mengernyitkan dahi, siapa yang mengetuk pintu kira-kira? Ah mungkin mbok Siti, karena selama ini hanya dia yang mengetuk pintuku.
Ku buka pintu dan menatap dua orang di berdiri depan ku. Yang satu mamah Devi dan yang satu lagi.... laki-laki, tapi tidak tau siapa.
__ADS_1
"Put, ini ada bos kamu habis melawat dan ingin menemuimu katanya, makanya mamah anterin kesini" Senyum itu. Senyum palsu itu sudah biasa aku lihat saat ada orang-orang. Jika aku sendiri, sudah pasti muka masam yang terpampang di wajahnya.
Laki-laki itu mengedipkan matanya padaku, entah kenapa aku hanya menganggukkan kepala saja dan menariknya kedalam dan segera menutup pintu kembali.
Ketika ku balikan badan, ternyata laki-laki itu sudah melepas tahi lalat,jambang dan kacamatanya hingga terlihat jelas siapa gerangan dirinya hingga jantungku hampir loncat dari tempatnya.
"Astaghfirullah....om Satya" upps keceplosan saking shocknya. Segera ku tutupmulutku takut ada yang mendengar. langsung ku menghamburkan memeluk om Satya. Menangis di pundaknya, meluapkan segala rasa yang menyesakkan dada.
"Buftttt" tak sengaja ku buang ingusu di bajunya
"Sudah..kakek sudah pergi. Beliau sudah tenang di sana bersama orang-orang baik lainnya" tutur om Satya.
Ku lepas pelukannya, menatap wajahnya dengan sendu. Jelas susah bagiku melupakannya begitu saja, sementara selama ini hanya kakek yang ada untukku, bahkan papahku sendiri acuh saja padaku.
__ADS_1
"Bukan untuk melupakan Kakek Dira, tentu itu tidak akan bisa. Hanya saja kita harus terus melangkah ke depan bukan. Jadikan semuanya itu kenangan indah bersama kakekmu dan simpanlah dalam memorimu. Putar itu saat kau rindu pada kakek" jelasnya, aku mendengar dengan seksama. Ku renungi perkataannya itu.
"Sepertinya om benar, Dira pernah dengar kalau tidak baik kalau terus menangisi orang yang sudah meninggal.Kasihsn kakek kalau terus di tangisi katanya kakek tidak akan tenang di alam sana " tuturku.
"Itu kamu tau" jawab om Satya sambil menowel hidungku
"Katanya pintar, tapi begitu saja harus di ingatkan" lanjut om Satya lagi dan aku hanya cengengesan saja, merasa apa yang di katakan om Satya ada benarnya juga. Tapi bukan salahku juga, kan orang pintar juga bisa bersedih, dan bersedih kadang membuat kita lupa segalanya.
"nih om bawakan makanan,pasti kamu belum makan kan" ku lihat ada empat boks makanan, eh buseeet... di kira keponakannya ini buta ijo apa sampai rakus amat makanya (maaf y mamang buta ijo aku bawa-bawa hehe).
Karena memang dari kemarin belum ada makanan yang masuk ke perutku jadi ku ambil boks makanan itu dan meletakkannya di atas meja. Menikmati makanan yang di bawa oleh om Satya berdua. Rasanya tidak akan sanggup untuk menghabiskan semua makanan itu.
Selepas makan, Kita mengobrol ngalor ngidul mengabiskan waktu di kamar saja. Ternyata om Satya oran yang asyik dan gak kaku-kaku amat. Tidak seperti waktu pertama bertemu waktu itu di rumah pak bos yang tak lain adalah om Bagas.
__ADS_1
"Tok..Tok...tok.." tiba-tiba ada yang mengetuk pintu