
Sesampainya di rumah sakit Satya memanggil suster sambil membopong tubuh kakaknya yang sudah lemas karena kesakitan,
Dengan sigap suster segera mengambil brangkar dan membawa Anjani ke raung IGD untuk mendapatkan penanganan segera,
Satya di minta untuk segera mengurus administrasi agar segera di lakukan tindakan.
Setelah di lakukan pemeriksaan Dokter mengatakan jika pasien harus segera melakukan tindakan operasi sesar untuk mengeluarkan bayinya,
air ketubannya sudah pecah jadi berbahaya bagi bayi dan ibunya jika tidak segera di keluarkan,
ibu Anjani menangis mengetahui keadaan anak dan calon cucunya dalam bahaya,
tubuh Satya merosot seperti kakinya tak kuat menopang tubuhnya,
"anda suaminya?" tanya dokter menunjuk Satya
"bukan dok saya adiknya, suaminya sedang kerja di luar kota" ujar Satya
"tapi kami membutuhkan tanda tangan suaminya untuk melakukan tindakan operasinya mas"
"apa tidak bisa saya saja yang bertanggung jawab pak,saya adik dan ini ibu saya,kami keluarganya pak " ujar Satya memohon agar kakaknya bisa Segera di lakukan operasi
"maaf sekali mas,
prosedur rumah sakit kami tidak bisa mengijinkannya,
lebih baik mas telepon suaminya untuk segera datang " Dokter tersebut mencoba memberi saran
mendengar jawaban dokter membuat Satya marah lalu menarik kerah baju dokter dengan kasar
"dokter mau nyawa kakak dan keponakan saya tidak tertolong dengan menunggu suaminya yang ba*****n itu?" Satya frustasi Hinnga tak sengaja mengumpat kakak iparnya,
sepertinya dokter mengerti keadaannya hingga tak marah dan mencoba meredam amarah Satya,
"begini saja mas,
mas lakukan panggilan video dengan suami pasien dan suruh si suami menyetujui tindakan operasi atas istrinya,
__ADS_1
nanti bukti video itu bisa kami jadikan bukti jika nanti terjadi apa-apa dengan pasien dan bayinya" ucapan dokter tersebut seperti angin segar bagi Satya,
ia pun segera merogoh saku celananya dan melakukan panggilan video dengan kakak iparnya menggunakan hp kakaknya
Tut.... Tut...tut...
suaranya berdering dan tak lama di angkat oleh kakak iparnya
"assalamualaikum
halo sayang " ucap Bagus dengan senyuman di bibirnya,
tapi sedetik kemudian dia heran kenapa Satya yang ada di layar handphonnya
"ini Satya bang"
memasang muka marahnya
"ooo kamu sudah ada di rumah mbakmu,
sama ibu ya?
"gak usah basa-basi bang,
Satya menelpon untuk meminta persetujuan abang untuk tindakan operasi mba Anjani" ujar Satya to the poin ,
mendengar ucapan Satya Bagus tercengang
"apa maksudmu Sat?"
"operasi?"
"operasi apa?"
"kenapa dengan Anjaniku?"
Bagus terus bertanya dengan wajah khawatirnya
__ADS_1
"mba Anjani harus di operasi segera karena air ketubannya sudah pecah,
dan itu membahayakan ibu dan juga anaknya,
makanya Satya suruh video call abang untuk meminta persetujuan" jawab Satya datar
"ya Allah Anjaniku kenapa bisa begini?"
"saat kemarin abang berangkat mbakmu sehat-sehat saja tapi kenapa tiba-tiba jadi begini Sat?"
"gak usah banyak tanya dulu bang,
cepat abang bilang pernyataan kalau abang menyetujui tindakan operasi atas mba Anjani" titah Satya tegas
"baiklah"
"saya Bagus Sahputra suami dari Anjani menyatakan memberikan persetujuan atas tindakan operasi terhadap istri saya"
"abang mohon Sat selamatkan istri dan anak abang" ujar Bagus sambil menangis
"berdoa saja bang semoga mba Anjani dan anaknya bisa di selamatkan,
jika tidak abang harus mempertanggung jawabkan semuanya " lalu Satya mematikan teleponnya sepihak tanpa mau mendengar jawaban kakak iparnya, setelah selesai ia memberikan video itu dan menandatangani form persetujuan Operasi.
Sementara di tempat Bagus ia tengah memikirkan ucapan adik iparnya itu,
"mempertanggung jawabkan semuanya?"
"aku?"
"kenapa Satya berbicara seperti itu?"
pertanyaan demi pertanyaan terus muncul di benaknya.
Tanpa pikir panjang Bagus segera mengemasi pakaianya dan pulang untuk menemani istrinya berjuang untuk melahirkan ,
dia tidak pamit pada Devi dan ibunya yang tadi pamitnya berbelanja.
__ADS_1
Terserah ibunya mau bilang apa,
ia sudah tak hiraukan lagi yang terpenting sekarang adalah ia bisa segera sampai dan menemani istrinya Anjani.