
Sabarlah,
Tidak semua hal bisa kamu selesaikan sendiri,
Untuk hal-hal yang di luar jangkauanmu
Kamu harus sabar dan merelakannya.
Selepas perbincangan ku dengan papah Hamzah waktu itu,ku jalani saja hidupku sesuai alurnya. Semua berjalan dengan baik, tidak ada Kendala yang berarti. Putriku,anak pertamaku juga sudah menjadi mandiri dan tidak bergantung lagi padaku. Bagus,itu membutku menjadi sedikit tenang,di tambah Ema yang selalu mendampinginya. Sedangkan Mita selalu mendapatkan kasih sayang penuh dari lku dan juga Devi ibunya,itu membuatnya menjadikan dia gadis manja yang selalu bergantung pada orang lain.
10 tahun berlalu
"Mah... sepatu aku yang biru muda di taruh dimana?" teriak Mita memanggil sang ibu,
"Mah.." Teriaknya lagi membuat seluruh isi rumah kebisingan mendengarnya.
"Kamu itu kalau nyari sesutu jangan sambil merem,ini apa hem?" Devi,sang ibu datang menghampiri Mita sambil menenteng benda yang di cari anaknya itu.
__ADS_1
"Hehehe..gak kelihatan mah" ucapnya tanpa dosa.
Di meja makan semua sudah berkumpul, kemudian datanglah Mita dengan ibunya,
"Kamu bisa gak si nak jangan teriak-teriak gitu kalau ngomong" Bagus angkat bicara mencoba menasihati Mita dengan sehalus mungkin.
"Iya pah,maaf. Lagian mamah naruh sepatu gak rapi, jadi aku bingung mau nyarinya" ucapnya sambil menyuap roti bakar yang sudah di siapkan khusus untuknya.
"Kamu itu kebanyakan sepatu, makanya jadi bingung sendiri kan di buatnya. Mau ambil sepatu yang kamu mau sampai bingung nyarinya kan" kini kakeknya ikutan bicara.
"Lihat Putri,dia hanya memakai sepatu bekas kamu yang sudah kamu gak suka,bahkan kakek rasa kakakmu itu jarang sekali membeli sepatu baru, tidak sepertimu" lanjutnya lagi mencoba menasihati cucunya.
"Hem" menganggukkan kepala adalah jawaban dari Putri.
Bagus menatap putrinya sekilas lalu melanjutkan sarapannya.
"Aku sudah selesai,aku berangkat dulu. Assalamualaikum" Putri mengambil tas gendongnya dan menentang jaket kulit kesayangannya.
__ADS_1
"Hati-hati nak" bukan Bagus yang berucap, melainkan pak Wahyu, kakeknya.
"Ya kek" jawab Anjani tersenyum sambil mengacungkan jempolnya.
"senyum itu, sangat persis seperti milikmu sayang" ucap Bagus dalam hatinya mengingat istri pertamanya Anjani. Di dalam lubuk hati terdalamnya tersimpan satu nama yang telah terukir dengan indah.
"Kenapa gak di lanjutkan sarapannya mas" Devi memegang lenganku membuyarkan lamunanku.
"Ah tidak apa-apa,aku sudah Kenyang" mengelap mulutnya dan meninggalkan mereka di meja makan.
Saat ingin memasuki mobil,dia melihat Putrinya sekilas. Tak ada senyuman di wajahnya untuknya. Sungguh membuat sesuatu di dalam sana menjadi sakit.
Sudah sepuluh tahun Putri menjadi seperti itu,Pendiam dan irit sekali bicaranya. Entah apa sebabnya,dia menjadi gadis dingin dan tak terjamah. Dulu dia dan Mita sama-sama anak yang ceria, mereka kemana -mana selalu bersama, bahkan hampir semua yang di miliki Putri, Mita pun harus punya,jika tidak maka dia akan menangis dan merajuk seharian, alhasil Putri yang akan mengalah memberikan barangnya pada Mita. Mereka dulu saling menyayangi satu sama lain. Tapi kini,mereka seperti dua orang asing yang bicara seperlunya saja. Entah sejak kapan,itu berlalu begitu saja.
Putri sudah wisuda setahun lalu,dia anak yang pintar. Saat SMA dia lompat kelas dan dia kuliah hanya menempuh waktu 3 tahun sudah wisuda dengan predikat cumlaude. Putri mengambil jurusan bisnis dan management saat kuliah,dia ingin menjadi pengusaha,bukan pegawai seperti papahnya,yang terikat dengan pekerjaannya. Dia ingin mempunyai usahanya sendiri dan membuka lapangan pekerjaan untuk orang banyak.
Kini Putri sudah bekerja di salah satu kafe yang lumayan besar dan mempunyai cabang di mana-mana,dia bekerja sebagai kasir di sana. Sebenarnya bisa saja dia bekerja di kantoran,tapi dia lebih nyaman bekerja bebas sperti itu.Dia suka memasak dan mencoba resep-resep baru, dia bisa berbaur dengan banyak orang,tidak berkutat dengan setumpukan berkas yang tidak ada habisnya.
__ADS_1
Sedangkan Mita masih kuliah semester 3,dia kuliah hanya formalitas dan tuntutan papahnya saja. Sebenarnya dia lebih suka leha-leha dan mengabiskan uang dengan membeli segala barang yang di inginkannya. Itu membuat dirinya merasa puas dan bahagia. Bagus pun tak melarang itu asalkan Mita tetap mau kuliah tak masalah baginya.