
Tak pernah terfikir olehku,
Tak sedikitpun ku bayangkan
Kau akan pergi
Tinggalkan,ku sendiri
Begitu Sulit ku bayangkan
Begitu sakit ku rasakan
Kau akan pergi
tinggalkan, ku sendiri
Di bawah batu nisan kini
kau t'lah sandarkan
Kasih sayang kamu, begitu dalam
Sungguh ku tak sanggup
__ADS_1
Ini terjadi, karna ku sangat cinta.
Inilah saat terakhirku,
Melihat kamu,
Jatuh air mataku
Menangis pilu
Hanya mampu ucapkan
"Selamat jalan Kasih"
Sudah seminggu Dira menetap di Rumah Kita dan meninggalkan rutinitasnya di kota. Menjauh dari hiruk pikuk kepadatan kota dan berdiam diri di pedesaan membuat tubuh seketika segar kembali, seperti handphone yang habis di isi baterai. Sebenarnya Dira betah di sana, Tapi hari ini dia harus kembali ke kota karena ada urusan yang harus di selesaikan dan segudang pekerjaan yang sudah mengantri di perusahaan.
Sebelum pulang ke rumahnya Dira menyempatkan diri untuk bertakziah ke kuburan ibunya, Anjani. Membawa sekeranjang bunga dan sebotol air putih dan satu buket bunga rose.Di dampingi Ema yang selalu setia di sampingnya, eh di belakangnya ding soalnya Ema kalau jalan di belakang Dira hihi.
"Bu, Dira dateng lagi. Jangan bosan ya kalau Dira sering datang kesini. Dira bawakan bunga kesukaan ibu. Semoga ibu suka" ujar Dira di depan pusara ibunya yang terawat dan rapih. Itu semua karena Dira yang berpesan pada kuncen untuk selalu membersihkan kuburan ibunya seminggu sekali, hingga kuburan ibunya terawat seperti itu.
"Semoga ibi bahagia di sana ya, Dira di sini juga bahagia. Banyak yang sayang sama Dira bu walaupun dia tidak menyayangiku" Kini suaranya terdengar lirih, kesedihan itu tak dapat di sembunyikan dari wajah ayu Dira.
"Semoga ibu tidak marah dengan keputusan ku ya, aku hanya ingin keadilan dan jalan kebenaran bu. Dia sudah melewati batasnya dan sekarang dia juga berada di jalan yang salah mengikuti si Hamzah itu"
__ADS_1
"Semoga ibu merestui setiap langkahku. Aku pamit bu" ujar Dira di akhir sesi ceritanya pada sang ibu, walaupun tidak bisa bertemu langsung tapi setidaknya itu bisa membuat rasa rindunya sedikit terobati.
Sementara itu di markas The Don sedang terjadi kegaduhan, karena salah satu anggotanya ada yang berkhianat dan satu persatu anggota memilih untuk mundur tanpa alasan yang jelas. Di tambah seringnya terjadi penyerangan terhadap anggotanya, itu membuat mereka memilih untuk mundur dan tidak lagi mengikuti The Don.
Sedangkan di perusahaannya, Hamzah tengah mendapat masalah yang serius. Karena tiba-tiba hampir tujuh puluh persen investor menarik kembali sahamnya, sedangkan proyek sudah berjalan dan sudah menelan banyak sekali dana perusahaan. Jika benar-benar semua investor sampai menarik semua sahamnya maka bangkrut lah perusahaan yang selama ini di dirikan dan di pertahankannya.
"Aaaarrgghhhh"
"BraaaaKkk" Bangku melayang dan pecah tercerai-berai akibat di lempar Hamzah hingga semua anggota di ruangan itu terdiam semuanya.
"Tidak biasanya kalian semua tidak becus dalam menyelesaikan masalah"
" Kenapa?" tanyanya murka, wajahnya merah padam saking murkanya karena semua tidak sesuai dengan yang di inginkannya.
"Ada yang berkhianat bos" ujar orang kepercayaan Hamzah.
Di pukulah orang itu hingga terpental ke belakang, sungguh tenaga yang kuat untuk seumuran Hamzah. Tapi berkat latihan dan berolahraga semuanya masih terjaga.
"Siapa yang berani berkhianat pada the Don? Pada Hamzah hah??" di lempar lah semua barang-barang yang ada di atas meja itu hingga berserakan dan berhamburan ke bawah.
kira-kira siapa ya yang berkhianat???
ikuti terus ceritanya ya
__ADS_1