Nadira (yang terlupakan)

Nadira (yang terlupakan)
*Kedatangan bu Rina


__ADS_3

Hari ini Bagus harus berangkat kerja karena masa cutinya habis,


cuti yang seharusnya untuk berlibur dengan Devi dan ibunya justru ia gunakan untuk menemani istri dan anaknya,


hingga sampai saat ini ia belum memberitahu ibunya tentang kelahiran anaknya,


ia sengaja memblokir nomor ibu dan istri mudanya untuk sementara,


ia ingin fokus kepada Anjani dan anaknya


sebenarnya ia masih ingin menemani istrinya di rumah sakit hingga pulih namun apa daya tidak mungkin ia mengajukan cuti lagi,


jadi mau tidak mau ia harus tetap berangkat kerja,


ia meminta Satya dan ibu mertuanya untuk menjaga istri dan anaknya di rumah sakit.


Siang ini anak Anjani sudah di perbolehkan untuk di berikan Asi pertama ibunya,


karena kondisinya yang sudah di nyatakan stabil semuanya oleh dokter.


Dengan telaten Anjani memberikan asi untuk anaknya,


Anjani meringis saat pertama kali anaknya menggigit p***ngnya di temani ibunya yang tersenyum saat cucunya dengan lahap mencari sumber makanannya,


"sakit ya Jan?"


Anjani menganggukkan kepalanya sambil menahan rasa sakitnya,


"itu wajar nak, awalnya pasti akan merasakan sakit tapi lama-lama juga akan terbiasa dan rasanya jadi biasa saja" ibu menjelaskan agar Anjani tidak khawatir


Anjani menatap wajah cantik anaknya,


hidung mancung kulit putih bersih wajahnya seperti lukisan dirinya tapi hidungnya seperti suaminya,


ia sangat beruntung bisa memiliki malaikat kecil yang cantik jelita meski kini rumah tangganya sedang tidak baik -baik saja.


Setelah Nadira kecil menyusui ia terlelap di pangkuan ibunya,


makhluk mungil yang sangat cantik jelita itu tersenyum -senyum sendiri dalam tidurnya membuat Anjani ikut tersenyum melihatnya,


ibunya pun bahagia melihat Anjani yang hidup bahagia,


mempunyai suami yang mapan dan sangat mencintainya, terbukti selama Anjani di rawat Bagus menantunya selalu setia menjaga Anjani, pulang sebentar hanya untuk mengambil baju ganti dan keperluan lainnya,


selebihnya Bagus selalu setia di samping Anjani dan anaknya,


di tambah sekarang Anjani sudah di karuniai anak yang sangat cantik dan menggemaskan,


lengkap sudah kehidupan Anjani anaknya,


tinggal melanjutkan ke kehidupan baru sebagai ibu,ia akan terus menemani Anjani hingga siap untuk di tinggal sendiri,


warungnya di kampung sudah ia titipkan kepada orang yang ia percaya untuk mengelolanya,itung -itung berbagi rizki katanya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 03 sore,


tiba-tiba kamar Anjani di buka dari luar dengan kasar,


Anjani menoleh muncullah sosok mertuanya dan seorang wanita di belakangnya yang Anjani tahu ia ada di foto dan video yang ad di hp Satya,


jadi kemungkinan dia adalah selingkuhan suaminya,


sedangkan ibunya sedang berada di makan di kantin tadi pamitnya pada Anjani,


Ibu Rina menatap menantunya dan beralih ke cucunya yang berbeda di sebelah Anjani lalu berdecih

__ADS_1


"cantik anak kamu"


"iya mah cucu mama memang cantik namanya Nadira" ucap Anjani sambil membenarkan posisi duduknya


"ck cucu siapa?


cucuku hanya terlahir dari perempuan berkelas seperti Devi" tunjuk bu rina pada Devi di sampingnya


ucapan mertuanya membuat Anjani menatap wajah perempuan itu,


cantik memang tapi ia juga tak kalah cantik,


bedanya perempuan itu cantik dengan segala perawatannya sedangkan ia cantik alamai,


hanya sedikit lipbalm yang ia gunakan agar terlihat lebih fresh,


melihat Anjani yang hanya terdiam sambil menatap Devi,


bu Rina mendekat ke Anjani


"kamu tahu,


bukan hanya kamu istri dari Bagus


tapi dia juga istri sahnya"


"dan asal kami tahu juga jika hanya dia yang aku anggap sebagai menantuku mengerti"


ucapan ibu mertuanya bak sembilu menusuk tepat di hatinya,


Anjani menahan sesak di dadanya


"sebenarnya apa salahku mah?"


"kenapa mamah tidak pernah mengakui Anjani sebagai menantu mamah,


kenapa mah?" Anjani menumpahkan segala pertanyaan di hatinya


"heh"


"siapa yang merestui pernikahan kalian?"


"aku merestuinya dengan syarat Bagus mau menikahi perempuan berkelas pilihanku dan itu bukan kau pembantu"


"dan satu lagi jangan panggil aku mamah karena aku tidak sudi memiliki menantu pembantu seperti kamu mengerti!"


bu Rina mulai meninggikan suaranya membuat Nadira yang tengah tertidur jadi Bangun,


Anjani segera mengambil anaknya dan menenangkannya,


"pelankan sedikit suara ibu anakku sedang tertidur" Anjani menurut untuk tidak memanggil mantan majikannya dengan sebutan mamah


"apa peduliku?" ucap bu Rina acuh


kemudian Devi mendekati Anjani dan menunjukkan foto-foto yang di ambil sembunyi-sembunyi saat ia liburan kemarin dengan Bagus,


dengan enggel tertentu Bagus seperti sangat menikmati liburannya


"kamu lihat itu"


"kemarin kami sedang berbulan madu dan kamu mengacaukan semuanya" ujar Devi lantang,


Anjani menatap Devi dengan menelisik


"apa salahnya?

__ADS_1


aku tengah berjuang melahirkan anaknya di sini dan sudah sepantasnya mas Bagus berada di sini menemaniku" ujar Anjani dengan berani,


Devi terkejut ternyata istri pertama suaminya bukan wanita yang lemah,


"tapi Kamu mengambil waktu mas Bagus saat beraamaku" sambil menunjuk wajah Anjani


"jangan lancang kamu..


"kamu yang jangan lancang dasar pembantu miskin" ucapan Anjani di sela oleh mertuanya dan merebut anaknya dari pangkuannya membuat Anjani terlonjak kaget


"kembalikan anakkku bu" pinta Anjani


"kamu mau anakmu kembali?"


"kemarilah jika bisa?"


Anjani mencoba bangkit dari tempatnya dan berusaha berjalan dengan tertatih,


sedangkan bu Rina yang tau kondisi Anjani yang belum bisa berjalan hanya tersenyum sinis dan sengaja melangkah menjauh dari Anjani,


"bu Rina tolong kembalikan anakkku" pinta Anjani menahan skait di perutnya


"hahaha dasar lemah,


pembantu miskin kayak kamu itu gak pantes dapat ruangan sebagus ini tau" langkah bu Rina terus menjauhi Anjani dan Devi yang asyik menonton saja sambil tertawa senang,


saat Anjani hendak berjalan lagi ia tak kuat dan terjatuh sambil memegangi perutnya sang sudah berlumuran darah,


dan tiba-tiba pintu terbuka,


ibu Anjani menyaksikan anaknya tersungkur di lantai dengan tangan berdarah dan wajah pucatnya segera membantu anaknya berdiri dan menidurkannya di ranjang,


sedangkan matanya melirik ke besannya yang sedang menggendong cucunya tapi membiarkan Anjani seperti itu,


"besan kenapa anda membiarkan Anjani terjatuh dan berlumuran darah seperti ini?"


bu Rina berdecih,


"apa peduliku,


mau dia mati terkapar pun bukan urusanku"


ibu Anjani terkesiap mendengarkan ucapan besannya


"apa maksudnya bu besan?"


"ya karena dari awal memang saya tidak merestui hubungan mereka tapi mereka terus memaksa" mendengar itu ibu Anjani menatap anaknya yang terkulai lemas


"anakku....anakku" lirih Anjani


melihat Anjani yang seperti itu membuat ibunya segera memencet tombol darurat,


melihat keadaannya seperti itu membuat bu Rina dan Devi panik,


segera meletakkan anak Anjani di ranjang bayi dan segera keluar,


di saat yang bersamaan Satya masuk,


kaget melihat mertua kakaknya dan selingkuhan kakak iparnya keluar dari ruangan kakaknya,


Satya segera masuk dan melihat Anjani sudah pucat dan perutnya berlumuran darah,


tak lama dokter masuk dan segera melakukan tindakan terhadap Anjani,


Satya melirik ibunya yang terus menangis sedari tadi,

__ADS_1


mau menanyakan apa yang terjadi pun sepertinya bukan waktu yang tepat,


biarlah ibunya tenang terlebih dahulu.


__ADS_2