
Jika lukaku adalah bahagiamu,
maka tertawalah,
karena saat ini pasti kau sangat bahagia di atas semua lukaku,
terimakasih waktu,
telah mengajariku arti kesabaran dalam hidup ini
sehingga aku bisa melewati semua fase ini.
Hari-hari ku lewati dengan baik, semua berkat mba Yuni yang dengan terus mensupport aku dengan semangatnya. Di tambah dengan bekerja membuatku sedikit melupakan semua peliknya kehidupan ini. Semenjak aku keluar dari rumah itu, aku memilih untuk mengganti identitasku. Tak ada lagi putri, yang ada kini hanyalah Dira, perempuan tangguh dan tak tersentuh. Aku memutuskan untuk melindungi diriku sendiri dengan belajar bela diri dan lebih fokus belajar bisnis pada om Satya dan om Bagas.Hingga sebulan lebih aku menginap di rumah mba Yuni mereka masih belum tahu,aku tak ingin membebani mereka. Aku ingin menjadi wanita tangguh yang berdiri di kaki sendiri.
__ADS_1
Tiga Tahun Kemudian
Tukk..tuk...tuk...
Suara ketukan sepatu pantofel terdengar nyaring di sudut bandara, dengan setelan blazer warna abu tua dan di padukan dengan kerudung senada memasuki tempat makan yang ada di bandara, rasanya rindu sekali dengan tanah air tercinta.
Memilih duduk di salah satu sudut restoran setelah tadi sebelumnya sudah memesan minuman, memilih mendengarkan musik dengan earphonenya sambil menunggu seseorang datang.
"Aaa...Dira....
Dari pintu masuk terlihat dua orang wanita, yang satu berlarian heboh dan yang satu lagi berjalan santai di belakangnya. Dialah mba Yuni dan mba Ema, ya mereka berdua adalah dua orang yang berjasa dalam kehidupan ku,yang selalu setia mendukungku selama ini hingga aku bisa berdiri di atas kakiku sendiri.
__ADS_1
Ku tersenyum melihatnya berlari mendekat, tak pernah berubah dari dulu. Begitu pun mba Ema yang telah di didik sedemikian rupa oleh om Satya untuk selalu melindungiku dan dengan setianya dia selalu mengabdikan dirinya untuk menjagaku, bahkan tiga tahun di negeri orang aku selalu di dampingi olehnya, supportnya tak pernah lepas untuk kehidupanku, bahkan kadang ia sampai lupa untuk kehidupannya sendiri. Rasa haru ketika aku tak memiliki ibu tapi masih ada orang yang begitu peduli terhadapku dan segala kehidupanku. Terimakasih mba Ema ku ucapkan dalam hati untuknya hingga mata ini berkaca-kaca.
Ku menyambut rentangan tangan mba Yuni ku yang paling bawel, Pelukan erat nan hangat ku rasakan dari wanita yang usianya lebih tua dariku ini.
"Terimakasih mba" ucapku menatap mba Ema yang sudah mau menjemput mba Yuni dari parkiran depan, katanya dia bingung arahnya jadilah aku menyuruh mba Ema untuk menjemput mba Yuni.
Hanya anggukan kepala sebagai jawaban atas ucapan terima kasihku, dan itu sudah biasa.
Kami memilih untuk makan terlebih dahulu dan sesekali sambil cerita tentang kehidupan masing-masing, yang ringan-ringan aja, masalah hidup sudah berat jangan di tambah berat.
Setelah selesai mba Ema membayar semua tagihan makan kami, karena aku menyerahkan semua keuangan padanya. Sebegitu percayanya aju padanya dan selama ini tak pernah sekalipun ku temukan kejanggalan dalam pengeluaranku karena mba Ema akan selalu memberikan laporan keuangan padaku setiap bulannya. Itulah mengapa aku tak pernah meragukan kesetiaan mba Ema padaku.
Maafin othornya ya yang jarang update di karenakan lagi sibuk jadi panitia Agustusan nih,
__ADS_1
sekali lagi othor minta maaf ya untuk readers semuanya 🙏🙏