Nadira (yang terlupakan)

Nadira (yang terlupakan)
*Mau papah antar nak?


__ADS_3

...Kamu harus kuat...


...Jangan kalah sama keadaan ...


...Terkadang kita harus mundur sejenak...


...Sebelum bisa maju lagi...


...Di waktu yang tepat....


Teringat ucapan om Satya bahwa aku harus jadi wanita tangguh seperti ibu Anjani. Ya aku harus kuat, gak boleh cengeng seperti ini. Ku hapus air mataku yang terlanjur jatuh. ku tegakan tubuhku, ku tarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Perlu kekuatan untuk menjadi wanita tangguh. Oke akan ku putuskan untuk menjadi wanita tangguh mulai dari sekarang. Kita lihat saja besok, keputusan apa yang akan papah ambil untuk anaknya.


Ku lanjutkan langkah demi langkah ke dapur meneruskan tujuan utamaku untuk mengambil piring buah. Perse**n dengan mereka yang sedang berdebat, toh mengajukan protes pun tak akan di dengar, siapalah aku untuk mereka? Hanya alat untuk mengangkat derajat mereka dengan semua prestasi-prestasiku, karena Mita adik sebapakku itu tidak bisa di andalkan, hanya mampu membuat keonaran dan hura-hura saja.

__ADS_1


Acara empat puluh harian kakek berjalan dengan lancar, kami mengundang anak yatim dan anak-anak panti asuhan terdekat, biasalah agar kita di pandang baik kata mereka, bukanya ikhlas mengundang mereka malah mencari nama, ada-ada saja pikirku, tapi biarkanlah sebab itu bukan urusanku. Aku hanya ingin tenang melanjutkan hidupku.


Hari berganti pagi, kicauan burung dari taman terdengar nyaring begitu merdu. Angin pagi berhembus dari jendela menerpa tubuhku, akan ku mulai babak kehidupan baruku. Ku kenakan jilbab simpel tanpa renda-renda dan pernak pernik lainnya,masih dengan pakaian kasual sesuai gayaku di padukan dengan jilbab simpel, terlihat lumayan cantik juga. Melihat ustazah di acara kemarin dengan ceramahnya tentang keutamaan wanita membuat hatiku terketuk untuk mencoba mengenakan jilbab dan sekaligus menunaikan kewajiban menutup aurat sebagai seorang muslimah. Ya... walaupun belum mengerti sekali tentang agama, tapi setidaknya shalatku alkhamdulillah tidak pernah bolong, bukan sombong ya hehe.


Ku keluar saat mereka semua telah selesai dengan sarapannya. Entah kemana mereka aku tak ambil pusing, aku akan menjalani hidupku dengan aturanku, insya Allah aku tak tajut, ada Allah bersamaku.


Ku lihat papah masih duduk di kemudi mobilnya, melirik sekilas, tumben gak pakai supir pikirku.


Ku keluarkan sepeda motor kesayanganku, tapi tiba-tiba sebuah suara menghentikan aktivitas ku


Ku naikan satu alisku heran menatap orang yang telah menghadirkan aku di dunia ini selain ibu Anjani,


"Kita searah, jadi bisa sekalian jalan kan" tuturnya lagi, seakan mengerti dengan keheranan ku

__ADS_1


" tidak usah pah, lagian tujuanku bukan resto


" Lalu?" tanyanya memotong kalimatku yang belum selesai ku ucapkan


"Emm aku mau kerumah singgah dulu" jawabku seperlunya


"Untuk apa?" tanyanya lagi


Pertanyaan bo**h, kerumah singgah ngapain? mau macul, dasar orang ini... kalau bukan papah sudah ku beri ni.


"Ada perlu sebentar baru nanti langsung ke resto" jawabku dingin, aku harus bisa membentengi diri ini dengan baik, agar jika suatu saat nanti aku di buanh dari kehidupanya tidak terlalu sakit.


"Gak apa-apa biar kita bareng aja nak" jawaban darinya seperti siraman di bunga yang layu, dia memanggilku nak? Ya Allah jangan engkau membolak blikan hatiku seperti ini. Dia mengakui aku ankanya di saat dinding ini sudah ku bangun terlalu tinggi.

__ADS_1


Harus apakah aku ini y Allah???


😭😭😭


__ADS_2