
Rerimbunan daun berguguran,
Memberikan warna dalam kehidupan
Begitupun hadirnya dirimu,
harusnya hadirmu mampu mewarnai hariku,
Tapi nyatanya tidak,
Hadirmu hanya memberikan seribu luka untuk hatiku,
yang entah kapan engkau akan sembuh.
by.Mamamay
Dira memutuskan untuk mengenakan gaun rancangannya di tambah jilbab coklat dengan tile bunga-bunga di samping kanan atasnya membuat kesan elegan dan berkelas.
ini Dira dengan cadarnya, masih terlihat kan cantiknya meski di tutupi dengan cadar.
Entah kenapa om Satya meminta Dira mengenakan cadar, katanya biar terlihat sopan saja alasannya, ah entahlah tapi yang pasti om Satya selalu tahu yang terbaik bagi Dira.
Sedangkan Ema memilih setelan yang tak jauh dari stylenya, padahal sudah di pilihkan gaun yang serupa denganku malah di tolaknya dengan alasan bukan gayanya. Tapi Dira tetap memaksa mendandani Ema agar terlihat lebih berbeda dari biasanya
Ini Ema dengan gayanya,tapi Dira sedikit memberikan polesan agar tak terlihat garangnya kaya Preman pasar hehe..
__ADS_1
Dira dan Ema berangkat dengan supir pribadi Bagas, karena Bagas tak bisa menghadiri acara tersebut. Hanya Satya yang di mintanya untuk menemani Dira sekaligus mengawasi keponakannya itu
Om Satya mengawal ponakannya, ganteng kaan readers....
Satya berdiri di depan mobilnya menunggu Dira dan juga Ema yang belum datang-datang juga, padahal sudah lebih dari setengah jam dia menunggunya di depan gedung acara, namun dua wanita itu tak muncul-muncul juga.
Tak lama mobil sport keluaran terbaru milik Bagas lewat tepat di hadapannya, sudah pasti ia mengenal siapa di dalamnya. Segera ia memasuki mobil tersebut dan duduk di sebelah supir.
"Kenapa cemberut aja sih om?" tanya Dira saat Satya sudah menempelkan bokonya sempurna di jok mobil.
"Ngapain aja sih kamu? Ok sampai jamuran tau gak nungguin kamu" sungutnya sambil memajukan bibirnya 5 centi dari biasanya
"Hehe.. maaf om, tadi di jalan Dira bantuin kakek-kakek dulu, kasihan dia tadi di hadang sana pemuda-pemuda kurang kerjaan yang mau ngerampas hasil jerih payah kakeknya, makanya Dira turun sebentar beresin sat-sit-set gubrak, udah deh hehe" jawab Dira sambil cengengesan
"Kamu ini, udah pake gaun cantik-cantik malah berantem di jalan. Lalu tugas kamu ngapain Ema?" kini kemarahan om Satya beralih pada Ema. Ku tepuk pundak om Satya dan memasang wajah garang ku
Sedangkan om Satya hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Mobil berhenti tepat di karpet merah yang di bentangkan sengaja memang untuk para tamu undangan.
Sambutan hangat di berikan oleh penerima tamu kepada para undangan yang hadir, sungguh pesta yang mewah jika hanya untuk merayakan ulang tahun ck ck ck aku hanya mampu menggelengkan kepala saja.
Ku ayunkan kaki melewati red karpet, ala-ala artis yang menghadiri acara gala premiere filmnya atau acara penghargaan haha ada-ada saja.
Di sampingnya Ema dengan setia mendampinginya berjalan, sedangkan Satya malah berdiri di belakang bak bodyguard yang mengawal Dira dan Ema, sebenarnya Dira sedikit bingung dengan kelakuan omnya itu, tapi Dira tahu jika omnya tidak mungkin melakukan sesuatu tanpa alasan jadi dia hanya menurut saja.
Semua mata tertuju pada kami, mungkin lebih tepatnya padaku yang datang menggunakan cadar untuk pertama kalinya. Biasanya pesta-pesta seperti ini aku menyuruh mbak Yuni atau staf lainnya untuk datang karena aku tak ada di sini.
__ADS_1
Ada yang bilang anggun sekali, ada yang memuji indahnya mata ini, ada yang menuji Solehanya tapi ada juga yang bilang norak dan lain sebagainya, biarlah sesuka hati mereka bicara apa, Toh Dira datang ke acara itu karena undangan dan menggunakan pakaian yang sopan.
Begitu memasuki aula di mana tempat inti acara yang begitu megah,mewah dan spektakuler membuatku berpikir apakah jika orang terlanjur kaya harus melakukan hal serupa supaya di anggap orang terpandang atau apalah itu namanya. Di kehidupan yang berkecukupan seperti sekarang pun Dira terbiasa sederhana, perayaan ulang tahun perusahaan pun biasanya di lakukan sederhana saja, bukankah perusahaan yang di nilai itu hasil kerja nyatanya bukan pencitraannya,atau pencitraan seperti ini memang penting untuk menaikan popularitas dan citra perusahaan? aah pikiranku jadi kemana-mana.
Kursi sudah di atur sedemikian rupa sesuai dengan undangan yang di terima, kebetulan tempat duduku berada di tengah yang langsung menuju ke stage depan.
Dira memperhatikan sekitarnya, hampir semua tamu undangan dia mengenalnya. Hanya beberapa saja yang masih asing,mungkin karena dia juga baru-baru ini berada di Indonesia.
Saat matanya menatap kedepan pandanganya tertuju pada pria yang menatapnya dari tadi,
"Ternyata ada Biantara juga di sini,tentu saja dia ada karena perusahaan dia juga termasuk perusahaan besar di kota ini" ucapnya dalam hati
Pembicaraan bisnis tak luput di acara pesta ini, karena ruang lingkupnya adalah mayoritas pebisnis semua. Ada yang memang pebisnis handal ada juga pebisnis ulung yang hanya berandalkan mulut. Kenapa Dira bisa berbicara begitu, karena ia sering bertemu dengan orang seperti itu.
Sedangkan Bian dari tadi memandangi Dira tanpa kedip. Meski sudah menggunakan cadar tapi Bian bisa mengenal betul seorang Nadira.
"Hadirin sekalian, Acara inti akan kita mulai. Untuk yang terhormat Kepada tuan Hamzah beserta keluarga di harapkan menuju panggung acara" Suara mc acara menghentikan pembicaraan semuanya.
Dari atas tangga Turunlah pak Hamzah sekeluarga, Pandangan Dira tertuju pada dua tingkat di atas pak Hamzah. Dira mengenal wajah itu. Bahkan sangat mengenalnya. Dia Bagus, ya papah Dira. Matanya terus tertuju pada Wajah-wajah yang berjalan menuju panggung itu, Kini dia mengingat wajah pak Hamzah. Dira kembali pada usianya 10 tahun, ketika itu dia tak sengaja mendengar percakapan Papahnya dengan kakek tua itu yang tak lain adalah pak Hamzah,rekan bisnisnya.
Jadi papahnya mengorbankanya untuk semua urusan dunianya. Dirinya adalah harga yang harus di bayar untuk semua kilauan ini. Sungguh hati anak mana yang akan tahan jika di posisi Dira,Hatinya tersayat bahakn lukanya belum mengering sempurna tapi kini di siram air garam, pedihnya. Di tambah tawa bahagia mereka ibarat air cuka yang mengucur di atas semua luka ini, hiks..hiks.. hatinya menjerit, tapi sebisa mungkin Dira tahan. Dia tak mau kelihatan lemah apalagi di hadapan orang-orang seperti mereka ini.
Genggaman tangan terasa di tangannya. Ema, dia menggenggam erat tangan Dira mencoba memberi kekuatan pada atasannya sekaligus keluarganya. Ema sudah menganggap Dira sebagai adiknya sendiri yang harus selalu di lindunginya.
Aku menganggukan kepala,memberi isyarat jika aku tidak apa-apa,aku baik-baik saja. Ya aku harus baik-baik saja, perjalanan masih panjang dan itu semua butuh tenaga, Dira tidak boleh lemah. Ya Nadira Putri kuat, harus kuat. Dira mencoba sebisa mungkin menahan segala gejolak amarah dalam hatinya.
"Pantas om Satya memintaku mengenakan cadar, Ternyata ada rahasia di balik semua ini dan mereka sudah mengetahuinya" Batin Dira melihat Ema dan om Satya bergantian, sedangkan yang di lirik hanya diam dengan wajah datar Mereka.
"Tapi kenapa im Bagas tidak ikut, bukankah akan seru jika dia ikut. Pasti pesta ini akan lebih meriah kan dengan kehadiran om Bagas di sini" hem...pikiran jahat merasukinya. Entah karena kemarahan ini atau karena.......
__ADS_1
Karena apa ya kira-kira guys???
coba tebak hayoooo....