Nadira (yang terlupakan)

Nadira (yang terlupakan)
*Perdebatan Papah dan tante Devi


__ADS_3

Jangan pernah menyesali masa lalu yang sudah terjadi,


Satu-satunya yang harus di sesali adalah


Waktu yang terbuang untuk hal-hal yang tiada guna dan tak berarti,


Mari kita gapai mimpi


Selagi nyawa masih di miliki.


Sysy maysaroh


Hari-hari berlalu begitu cepat, tidak terasa hari ini tepat empat puluh harian kakek. Selama ini mampu ku lewati dengan baik berkat bantuan om Bagas dan om Satya di tambah dengan bekerja bertemu teman-teman, sedikit menghilangkan rasa sedih di hatiku kehilangan kakek. Hingga kini aku sudah benar-benar bisa ikhlas menerima semuanya ini.

__ADS_1


Sebuah acara pengajian kecil di adakan untuk mengenang dan mendoakan almarhum kakek.


"Nak putri, tolong ambilkan piring buah yang ada di dapur. Kata mbok Siti ada si atas paling pojok sebelah kanan,mbok Sitinya lagi repot di depan katanya" pinta salah satu tetangga yang datang untuk rewang,


"Baik bu, mau berapa biji piringnya?" Tanyaku memastikan, dari pada nanti bolak-balik kan.


"Lima aja cukup kayanya nak, soalnya di depan sudah ada lima, cuma karena undangannya banyak makanya piringnya jadi kurang nak"


Ku jawab dengan anggukan dan senyuman. Terimakasih y Allah, ternyata banyak yang datang untuk mendoakan almarhum kakek.


Samar ku dengar, tapi sepertinya suara papah dan tante Devi. Jarang sekali mereka berdebat, walaupun sikap papah ke tante Devi terbilang biasa saja tapi mereka jarang, bahkan hampir tidak pernah terlibat percekcokan seperti ini.


Entah dorongan dari mana, tubuhku mendekat ke kamar tersebut. Ku lihat sekeliling, Sepi, tidak ada orang. Sebenarnya aku bukan tipe orang yang ingin tahu urusan orang lain, bahasa gaulnya kepo ceunah hehe. Tapi entah kenapa kali ini seperti ada dorongan untuk mendekat dan mendengarkan dengan jelas apa yang mereka perdebatkan.

__ADS_1


"Jadi maumu apa?" Suara bariton papah terdengar jelas saat daun telinga ku menempel sempurna di daun pintu.


"Selama ini aku udah sabar ya mas untuk kamu, tapi kali ini tidak lagi, toh papah yang selalu menjadi alasanmu sudah meninggal kan, bahkan sebentar lagi akan di adakan empat puluh hariannya" jawab tante Devi


"Jadi maksudmu?" suara papah terdengar berat, namun tegas. seperti menahan emosi di dalamnya.


"Ya untuk apa kita pertahankan anak itu di rumah ini lagi. Kami tahu aku gak suka itu kan. Jadi lebih baik usir saja dia dari rumah ini. Atau..


" Atau apa Dev? hah? apa? cepat katakan? " Kali ini papah bertanya sambil berteriak, sepertinya tante Devi seperti sengaja memancing emosi papah. Tapi apa katanya? tadi tante Devi bilang usir saja dia dari rumah ini? dia siapa kira-kira ya? pikirku dalam hati.


Praaaaang... aku tersentak terkejut hingga membuat tubuhku sedikit menjauh dari pintu. Suara benda seperti di lempar entah oleh siapa.


"Selalu itu yang menjadi senjatamu. Selama ini aku harus selalu tunduk padamu Dev,lalu apa lagi maumu?" kini suara papah terdengar lirih, mungkin tadi papah yang melempar benda hingga membuat suara kegaduhan di dalam. Acara empat puluh harian kakek di adakan di halaman depan,cukup jauh dari kamar ini, di tambah suara bising di depan sana sehingga kemungkinan untuk terdengar kegaduhan ini sagat kecil.

__ADS_1


"Aku mau putrimu keluar dari hidup kita. Tidak ada penawaran ataupun pilihan lain" jawab tante Devi. Ta ada jawaban dari papah, tapi aku yang terkejut sekarang. Aku? aku harus keluar dari kehidupan mereka? sebenarnya siapakah aku ini untuk keluarga ini? Memang jarang ada interaksi antara aku dan Tante Devi, tapi juga tidak ada perdebatan antara aku dan dia. Tapi kenapa dengan teganya dia mengusirku dari kehidupan mereka, terlebih dari kehidupan papahku sendiri.


Ya Allah sakit sekali di dalam sana. Ku pukul dadaku beberapa kali, berharap sesak di dalamnya berkurang, namun ternyata tidak. Ucapan tante Devi seperti menyiram kembali luka yang bahkan belum kering dengan air garam. Ya Allah sebenarnya apa salahku huhu.... buliran air jatuh luruh tak tertahankan. Ibu..aku mau ikut ibu saja hiks.. hiks...


__ADS_2