Nadira (yang terlupakan)

Nadira (yang terlupakan)
*Aura Sang Lady


__ADS_3

Senjata paling ampuh untuk menguji karakter serta ketulusan seseorang adalah uang


Versi asli mereka akan muncul ketika kamu tak lagi menguntungkan untuk mereka


Maka,


 sebisa mungkin berdirilah kamu di kakimu sendiri


Jangan pernah kamu berharap selain kepada tuhanmu, Allah SWT.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dira terus memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, hingga tak lama mobil yang dikemudikan Dira sampai di lobby NP Corp, sedangkan Bian masih terus mengikuti Dira hingga ke Np Corp.


"Kenapa dengan Np corp? apakah ada masalah? sehingga wajah tidak tadi kelihatan tegang sekali tadi saat menerima telepon " tanya Bian lirih


"Bapak nanya sama saya?" tanya pengemudi motor tadi


"Tidak. lagian kamu ini panggil saya bapak, emangnya kapan saya nikah sama emakmu. Nih" ujar Bian emosi lalu menyerahkan helm yang di pakainya tadi.


"Emangnya gue udah tua banget apah sampai di panggil bapak? kayaknya tuh kang ojek juga lebih tua dari gue" Bian terus ngedumel sambil merapihkan setelan baju yang digunakannya .

__ADS_1


Merasa sudah rapih Bian melangkahkan kakinya ke perusahaan Dira dan tak di tanya-tanya karena hampir semua orang tahu jika perusahaan Bian dan perusahaan Dira terlibat dalam kerjasama yang besar dan juga Bian di kenalkan oleh Bagas sebagai saudaranya jadi Bian sudah punya akses untuk keluar masuk perusahaan Dira.


Sementara di ruangan Dira sudah berkumpul beberapa pimpinan kelompok Dara Putih, Wajah mereka sedikit tegang dan suasana sedikit mencekam yang tercipta akibat serangan dadakan tadi, beruntung Dira memasang keamanan ekstra untuk Rumah kita dan semua anggota sudah di bekali ilmu bela diri yang mumpuni untuk bertahan dan menyerang jika di perlukan.


"bagaimana Bel?" tanya Dira pada salah satu anggotanya


"Semua aman terkendali Lady"


"Ck...Panggil Dira saja kalau di luar begini" cepat Dira memotong ucapan Bela


sebenarnya Dira memang kurang suka jika di panggil dengan sebutan Lady, sepertinya berlebihan.


"Tidak bisa Lady" jawab Bela tegas


"Jadi, sampai di mana mereka sekarang?" tanya Dira mulai serius


"Mba Ema sedang menunggu mereka di perbatasan kekuasaan Dara Putih. Dan yang lainnya, Mba Ema sudah menyebarkan anggota kita ke setiap tempat yang kemungkinan akan di serang oleh mereka,kita tidak bisa lengah sedikitpun dalam situasi seperti ini kata mba Ema, sementara kami di sini bertugas menjaga dan memastikan keamanan Lady, laporan selesai Lady " jawab Bela menjelaskan posisi masing-masing sesuai perintah Ema, tentu Ema akan selalu memprioritaskan keselamatan Dira sang nona kecilnya untuk itu semua pimpinan kelompok di kerahkan untuk menjaga Dira.


Dira menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nafasnya perlahan


"Huuuuftt"

__ADS_1


"Baiklah, sekarang kalian ikut saya" titah Dira tegas


" Kemana Lady?" tanya Bela


" Mba Ema menyuruh kami menjaga Lady di sini, dan jangan biarkan Lady keluar dari titik aman ini" ujarnya lagi


Dira mendekati Bela hingga jarak mereka satu jengkal saja, mata elang Dira menembus tulang belulang Bela hingga sedikit ada rasa takut saat Dira terus menatapnya, Bela justru menundukkan wajahnya .


"Siapa saya?" tanya Dira dengan suara dinginnya


"Lady, pimpinan Dara Putih " jawab Ema sedikit gemetar, sementara yang lain tak mampu melihat itu. Jika Dira sudah seperti itu maka sudah pasti dia merasa tersinggung, entah itu karena apa


"Jadi, siapa pimpinan Dara Putih?" tanya Dira lagi.


" Tentu saja Lady" jawab Bela


" Jadi kau mengikuti ku atau mengikuti Ema?" tanya Dira


" Hah...bu..bukan begitu Lady, tapi...tapi...


Bela bingung harus menjawab apa dan melirik teman yang lainnya guna meminta bantuan,namun sayang yang lain hanya geleng-geleng kepala saja. Bela sudah pasrah, dia pernah ai posisi seperti ini dan ujung -ujungnya dia berada di UKS rumah kita.

__ADS_1


Bela menelan salivanya melihat Tatapan tajam dari Dira yang tanpa berkedip, sungguh menyeramkan bagi seorang pimpinan Dara Putih.


"Hufffff" Dira menghembuskan nafasnya perlahan, dan bergerak mundur menjauhi Bella, memejamkan matanya sejenak Seraya berpikir langkah apa yang harus di ambilnya.


__ADS_2