Nadira (yang terlupakan)

Nadira (yang terlupakan)
*Kehilangan


__ADS_3

Dari matahari kita belajar


bahwa pada setiap pertemuan yang hangat


akan ada perpisahan yang indah,


Hanya waktu yang mengerti


betapa beratnya perpisahan ini.


Hari ini awan hitam menyelimuti langit, Seperti mendukung suasana hatiku saat ini. Jiwaku sepi, terasa diri ini ingin berlari sejauh ku bisa berlari. Kehilangan orang terkasih merupakan mimpi buruk bagi semua orang, begitupun untukku.


Semua orang mengenakan pakaian serba hitam-hitam. Menandakan bahwa kami tengah berduka, banyak karangan bunga berjejer di depan rumah, bertuliskan Turut Berduka Cita.


Ya, kami sedang berduka atas kehilangan, kami kehilangan orang tersayang kami, Kakek Wahyu. Tak lama setelah pembicaraanku dengan kakek waktu itu tiba-tiba kondisi kakek kembali kritis.


Flashback


Setelah memberikan handphon pada Putri dan di rasa sudah cukup dokter menyuruh Putri untuk keluar, karena sebenarnya pasien tidak boleh terlalu banyak bicara dahulu. Namun karena pasien kekeh memintanya hingga dokter memberikan ijin untuk itu semuanya di awasi ketat oleh dokter itu sendiri.


Putri menyimpan handphone pemberian kakeknya ke dalam tasnya. Sesuai pesan kakeknya, ia harus menyimpannya baik-baik.


Saat keluar, tatapan oma Rina semakin menunjukkan ketidak sukaanya pada Putri. Padahal Putri juga anak Bagus yang berarti juga cucunya. Namun sayang, omanya itu tak pernah menerima kehadirannya.


Putri memilih menjauh dari mereka semua, ia tak mau ada perdebatan lagi.


Tak berselang lama, tiba-tiba banyak dokter keluar masuk kamar kakek Wahyu. Keadaan menjadi panik,


"Ini ada apa ya dok?" Tanya papah pada salah satu dokter yang kebetulan hendak masuk kamar rawat kakek.

__ADS_1


" Pasien dalam kondisi kritis, kami harus segera membawanya ke ICU untuk penanganan intensif" jawab dokter


Semua tercengang mendengarnya


"Lakukan yang terbaik untuk kakek saya dok, saya mohon" ucapku setelah berlari menghampiri mendekat kamar kakek.


" Pasti kami akan melakukan yang terbaik untuk pasien semampu kami mbak. mbak dan yang lainya mohon bantu doanya ya" jawab dokter itu lalu segera berlalu masuk ke kamar kakek.


Saat pikiranku sedang berperang, tiba-tiba ada yang menarikku hingga tubuhku terhuyung ke belakang.


"Kamu apakan suamiku hah?" hardik oma padaku


Ku gelengkan kepalaku


"Aku tak melakukan apa-apa oma" jawabku cepat, kali ini tanpa menundukkan kepalaku lagi. Kata kakek aku harus menjadi wanita yang tangguh, yang tak mudah di tindas orang lain.


Ku tarik sudut bibirku, menertawakan dalam hati. Aku tak ingin berdebat saat ini, aku memilih menjauh dari mereka semua, termasuk papahku sendiri ynag bahkan tak pernah memberikan pembelaan apa pun padaku sedari dulu. Menatap mereka dengan dingin, mereka yang sepantasnya menjadi keluarga malah memberikan luka lara di hati ini.


Detik berlalu begitu lambat, ku bolak-balikan jam di tanganku. Menunggu, membosankan, menghawatirkan, ah entahlah. Aku hanya ingin mendengar kabar baik dari dalam ruangan sana.


"Ceklek..


Pintu terbuka, keluarlah dokter yang menangani kakek sedari awal. Wajahnya menunduk. Tidak.. tidak..ini tidak boleh terjadi, hatiku bersuara.


"Bagaimana dok" tanya papah segera setelah dokter menutup pintu.


"Maafkan kami pak" jawab dokter


" Maksudnya apa dok?" Tanya oma penasaran

__ADS_1


"Kami turut berduka cita, kami sudah melakukan semampu kami, tapi pasien menyerah untuk berjuang bersama kami"


" Yang jelas dong dok, gak usah bertele-tele " ucap papah sedikit menaikan suaranya


"Pak Wahyu sudah meninggal, maaf. Setelah inj kami akan membersihkan jenazah pak Wahyu lalu silahkan untuk keluarga mengurus semuanya" jelas dokter lalu pergi meninggalkan kami semua.


Jatuh sudah tubuh ini, terduduk lemas tak berdaya. Pelita hidupku telah pergi, "ya Allah kenapa engkau mengambilnya dari sisiku hu..hu.." Aku membatin sendiri


Oma melangkah pasti mendekatiku, lalu


PLakkk


ku pegangi pipi ini yang terasa amat panas bekas tamparan oma, ku tatap wajahnya, penuh amarah.


"Kau telah membuat suamiku mati, dasar anak pembawa sial" Umpatnya padaku, di depan semua orang, bahkan banyak yang mentapku dengan tatapan anehnya. Ada yang kasihan, dan ada pula yang seperti ikut mencemooh.


Tak mau membuat keadaan semakin gaduh, aku memilih diam dan menjauh dari tempat itu.


"Sudahlah mah, semua sudah terjadi" Ucap papah


"Kamu jangan membela anak sialan itu, dia telah membuatku menjadi janda" masih bisa ku dengar suara oma yang terus mengumpat ku dari kejauhan.


Kini ku duduk sendiri di taman. Menangis seorang diri. Meluapkan segala rasa yang sesak di dada. Ku pukul dadaku yang sesak ini.


hiks..hikz...hiks.. Kakek .. jeritku dalam hati.


Jangan tinggalkan aku...


Flashback End.

__ADS_1


__ADS_2