
Aku ingin mengatakan bahwa aku merindukanmu,
Tapi aku sadar,
Itu tidak akan mengubah apapun,
Ku titip salam dalam setiap doaku
Untuknya yang tak dapat lagi ku rengkuh.
Tuhan, hanya kepadamu aku mengadu.
MamaMay
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Tetesan rintik air yang membasahi bumi berjatuhan, membasahi pipi seorang insan yang tengah merindu pada sang kalam, Dialah Dira. Dira tertidur di pusara ibunya, lelah mengadu dan bercerita hingga ia tak sadar ketiduran di sana.
Dira menghapus jejak rintik gerimis yang jatuh, menatap langit yang mulai tak bersahabat lagi, tapi justru tidak bagi Dira. Momen ini melengkapi suasana hatinya, Dira membiarkan wajah ayunya di basahi oleh rintikan air yang jatuh dari atas sana, merasakan dinginnya air hujan yang bahkan tak sedingin hatinya kini.
Lama menikmati air hujan yang membasahi seluruh bumi tak terkecuali dirinya yang sengaja menikmatinya, Tiba-tiba air hujan tak lagi membasahi tubuhnya di tengah hujan yang semakin lebat. Dira mengangkat wajahnya, melihat seseorang berdiri tepat di sampingnya.
Ema, Ya ema berdiri di samping Dira sambil satu tangannya memegang sebuah payung untuk menahan air hujan yang membasahi nona kecilnya, satunya lagi dia gunakan untuk memegang payungnya sendiri.
"Sudah nona, nanti sakit" ujar Ema seraya menyerahkan payung pada Dira yang di terima Dira yang kini sudah berdiri.
Dalam perjalanan pulang Dira hanya diam menyenderkan kepalanya di kaca mobil sambil melihat lampu jalanan yang menghiasi setiap sudut jalanan kota, membuat pemandangan menjadi indah di malam hari, mneyedapkan mata memandang. Ema melihat Nona kecilnya yang terus melamun hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar, dia tak bisa berbuat apa-apa jika sudah begini, hanya menunggu mood nonanya kembali seperti semula.
Mobil memasuki halaman rumah, Dira keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Ema sudah hapal Bahkan sudah khatam dengan baik perangai sang nona kecilnya jika sudah begini tak mau dan tak bisa di ganggu sama sekali. Ema memilih menyelesaikan pekerjaan yang di berikan Dira tadi yang sempat tertunda karena Ema lebih memilih mengikuti Dira karena khawatirnya.
Suara adzan berkumandang saling bersautan, membangunkan setiap insan yang masih setia di bawah selimut hangatnya untuk menunaikan kewajibannya kepada sang pemilik kalam.
__ADS_1
Seperti Dira yang sudah membuak matanya sejak pukul 03 dini hari tadi, setelah melaksanakan Sunnah tahajudnya Dira memilih untuk terus menyenandungkan sholawat untuk Baginda nabi Muhammad Saw hingga waktu subuh menjelang. Dira bergegas bangkit untuk melaksanakan dua rakaatnya sebagaimana umat muslim yang lainnya.
Pukul 06.00, harum masakan menyeruak ke seluruh penjuru ruangan. Ema mengendus-endus harum masakannya dan dia sangat mengenali siapa yang memasaknya.
Ema keluar dari dalam kamarnya sudah dalam keadaan rapih sebagai seorang asisten pribadi CEO. melangkah menuju dapur, sumber harum masakan uang menyeruak tadi dan betul saja, berdiri nona cantik yang lincah dan energik sedang asik mengaduk-aduk tongseng daging makanan favorit Ema. Hal seperti ini sudah biasa jika suasana hati Dira sudah membaik dia akan memasakan makanan favorit Ema dan dirinya lalu menyantap makanan bersama-sama.
"Pagi Ema ku yang cantikk" ucap Dira saat membalikkan badan sudah ada Ema di belakangnya.
"Pagi nona. Makanan spesial?" tanya Ema berpura-pura heran, padahal sudah khatam hehe.
"Tentu. Makanan spesial untuk orang spesial sepertimu" jawabnya dengan penuh semangat.
Ema bersyukur dalam hatinya, nona kecilnya tidak berlarut-larut dalam kesedihannya dan sekarang terbukti dengan melihat semangat Dira yang sudah kembali seperti semula dan bahkan seperti tidak habis terjadi apa-apa. Semua seakan ringan, tak ada beban.
Setelah selesai memasak dan menata makanan di meja, Dira dan Ema makan dalam diam. Karena tidak baik mengobrol saat sedang makan, pamali kata orang sini mah hehe.
__ADS_1